Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 70 : Dokter Roi


__ADS_3

"Ah iya, aku kesitu. " Balas Livia, berjalan mendekati Radit dan dokter Roi.


###


Radit selesai melakukan pemeriksaan. Livia berbincang-bincang sebentar dengan Dokter Roi.


Ternyata dokter itu memang pernah tinggal cukup lama di Indonesia namun aslinya dokter Roi lahir di Singapura dan memiliki banyak keluarga dari pihak ayahnya di Indonesia.


"Wajar saja dokter ini sangat lancar berbahasa Indonesia. " Batin Livia.


"Kondisi suami nona akan berangsur-angsur membaik jika dalam beberapa bulan ke depan terus di kontrol dan jangan sampai merasakan stress, obatnya sudah saya resepkan dua hari lagi kalian harus datang kesini untuk pemeriksaan lanjutan. " Tutur Dokter Roi.


"Terimakasih dokter, kalau begitu kami permisi dulu. " Balas Livia.


Dokter Roi kembali memperlihatkan senyumnya, senyum yang mengingatkan Livia pada Deni. Namun gadis itu segera menepisnya.


"Mungkin kebetulan saja, lagi pula setiap orang memang memiliki tujuh kembaran di dunia ini bukan? Bisa saja dokter ini adalah salah satu kembaran Deni di belahan dunia lain. " Batin Livia.


"Livia, ayo. " Ujar Radit menepuk tangan Livia pelan, agar gadis itu mendorong kursi roda nya keluar dari ruangan dokter Roi.


"Eh iya, ayo. " Balas Livia semabri mendorong kursi roda Radit.


Di depan pintu orang tua Radit langsung menyambut mereka, Pak Max langsung mengambil alih untuk mendorong Radit sementara Livia memberikan resep obat kepada Bu Ariana.


Mereka berempat kemudian kembali ke Apartement.

__ADS_1


Tidak sampai dua puluh menit kemudian mereka sudah berada di dalam ruangan Apartement masing-masing.


"Dit, kamu mau makan dulu? Aku suapin yah terus kamu minum obat. " Ujar Livia.


Radit hanya mengangguk pasrah, raut wajahnya seperti sedang menahan sakit.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?. " Tanya Livia lagi khawatir.


Radit menggeleng.


"Dikit doang kok Liv, kepalaku rada pusing mungkin karena capek tadi, abis minum obat pasti bakalan baik lagi kok. " Balas Radit, bersikap baik-baik saja.


Padahal raut wajahnya menunjukkan jika laki-laki itu kesakitan.


Radit kembali menggeleng, kali ini sembari memegang lm tangan Livia.


"Aku nggak apa-apa, bentar lagi juga bakalan sembuh, aku lapar. " Tutur Radit.


Mata mereka sempat beratatapan sepersekian detik.


"Ya udah aku ambilin kamu makanan dulu yah. " Ujar Livia melihat ke arah lain, merasa canggung dengan suasana barusan.


"Iya Liv, cepetan aku nggak sabar mau di suapin. " Balas Radit sembari tersenyum kecil dengan bibir pucat nya.


Livia bergegas mengambil makanan yang memang sudah di persiapkan oleh resepsionis Apartement sebelum mereka sampai.

__ADS_1


Orang tua Radit sudah membayar dan mempersiapkan semuanya sehingga Livia bisa fokus untuk merawat Radit.


"Aaa buka mulutnya.... " Ujar Livia mengarahkan sendiri yang ada di tangannya ke mulut Radit.


"Aaa." Radit membuka mulutnya selebar mungkin.


"Hmmm, enak gak?. "


Radit mengangguk.


"Buka lagi mulutnya, aaaa. "


"Aaa Mmm, enak Liv. " Ujar Radit, nampak antusias menerima sualan demi suapan yang di berikan Livia.


Setengah jam, waktu yang di butuhkan Livia untuk memberikan makan, obat sekaligus membantu Radit untuk tertidur.


Terakhir, Livia melangkah selimut tebal pada tubuh Radit, suhu AC terasa sedikit dingin.


Sekali lagi Livia memastikan apakah Radit sudah tertidur atau tidak dengan cara mengusap wajah laki-laki itu secara perlahan.


"Kayaknya udah tidur beneran, sekarang giliran aku yang makan. " Ujar Livia, membersihkan perlatan makan Radit lalu keluar dari dalam kamar menuju ke dapur untuk yang terhubung dengan ruang tamu.


Kali ini giliran dirinya yang harus makan, bayinya yang ada di dalam perut juga butuh asupan nutrisi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2