Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 15 : Ketahuan Hamil ?


__ADS_3

Episode sebelumnya....


Lebih baik menasehati orang tuli, dari pada orang yang sedang jatuh cinta setidaknya orang yang tuli akan mencoba menafsirkan kata-katamu sementara orang yang jatuh cinta sama sekali tidak akan menuruti nasihat apapun yang kamu katakan.


###


Happy Reading and Enjoy Guys..


Hari ini adalah hari terakhir Livia akan pergi ke sekolah, Papanya sudah berbicara dengan kepala sekolah beberapa hari yang lalu dan untungnya kepala sekolah dapat memberikan keringanan sehingga Livia masih bisa bersekolah namun selama masa kehamilannya, Livia akan di ajar oleh guru Privat yang akan datang ke rumahnya selama lima hari berturut-turut dalam seminggu.


Deni selalu mengikuti kemanapun gadis itu pergi selama di sekolah hari ini, takut jika Livia merasakan mual lagi dan tiba-tiba pingsan.


"Bisa ga sih kamu jangan dekat-dekat, malas banget tau aku liat kamu. " Bentak Livia, risih dengan kehadiran Deni di dekatnya terus menerus.


"Livia, kita kan udah tunangan jadi kemanapun kamu pergi aku bakalan ngikutin dan jagain kamu. " Ujar Deni, tidak merasa sakit hati sama sekali meskipun Livia selalu membentak nya.


"Huuuuuh! Aku tuh baik-baik aja dan bisa jagain diri aku sendiri, udah sana gak usah ngikutin aku terus--terussan. " Usir Livia, saat ini gadis ingin menuju ke kantin.


Tadinya Livia berjalan bersama beberapa teman sekelaanya, namun karena kehadiran Deni, teman-teman Livia itu langsung meninggalkannya untuk memberikan privasi kepada pasangan itu.


Tidak ada yang tau jika Deni dan Livia sudah bertunangan namun tetap saja satu sekolah tau jika Deni dan Livia masih berpacaran.


"Livia tunggu.... " Deni tidak peng hiraukan Livia yang mengusirnya, Deni justru terus mengikutiivia dari belakang menjaga jarak aman agar Livia tidak terlalu risih padanya.


Livia berjalan dengan cepat menuju ke kantin dan ikut bergabung bersama teman-temannya tadi, sementara Deni mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari kursi Livia.


"Eh Livia, katanya hari ini kamu terakhir masuk sekolH yah? Kenapa? Kamu mau pindah?. " Tanya Irene teman sebangku Livia.


"Hah? Beneran Livv? Kok kamu gak ada cerita sama kita. " Timpal Desi.


"Jadi, beberapa minggu kamu gak masuk sekolah bukan karena sakit tapi mau pindah Liv? ?. " Tambah Dena.


"Adu aduhh aku pusing mau jawab pertanyaan kalian yang mana dulu, satu-satu dong nanyanya. " Jawab Livia.


"Jadi kamu pi dah sekolah?. " Dena memastikan.


"Nggak, cuman ngambil kelas dari rumah aja, tapi gurunya beda. " Jelas Livia.


"Home schooling?. " Tanya Irene.


"Iya." Jawab Livia singkat, padat dan jelas. Ia malas menjelaskan dan membuat alasan, teman-temannya itu akan semakin banyak tanya.


"Kenapa Liv? Kamu di hukum sama orang tua kamu?. " Tanya Irene lagi.


"Yah jadi kita gak bisa ngajak kamu shoping ? Ngemal? Jalan-jalan lagi gitu? Ih gak asik banget kamu Liv. " Tutur Desi.


"Bisa, bisa kan cuman tempat belajarnya yang beda, intinya aku masih bisa kok keluar rumah tenang aja Shayyyyy. " Balas Livia tidak mau teman-teman gengnya meninggalkan dirinya karena jam keluar rumahnya sudah di batasi.


"Yah bagus deh kalau kayak gitu, tapi emangnya kenapa kamu mesti home schooling gitu? Kamu ada masalah yah?? " Cecar Desi, penarasan.

__ADS_1


"Nggak, nggak ada kok orang tuaku mau ngajak aku keluar negeri bulan depan, mungkin aku bakalan pergi sampai beberapa bulan gitu jadi sekalian aja ambil homeschooling nya dari sekarang!. " Jelas Livia, tidak ingin teman-temannya curiga jika ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.


"Yah bakalan sepi dong geng kita kalau gak ada kamu. " Tutur Irene sedikit kecewa, kerana geng mereka populer berkat Livia.


"Udah-udah jangan sedih gitu dong tahun depan kalau udah naik kelas tiga kita bisa sama-sama lagi kok tenang aja Shayyy. " Ujar Livia menenangkan teman-temannya.


"Tapi tetap aja kalau kamu keluar negeri kita nggak bakalan bisa pergi sama-sama lagi. " Timpal Desi.


"Yah kan aku keluar negerinya gak selamanya cuman beberapa bulan doang loh. " Jelas Livia.


"Jangan lupa ya Livia, setiap pulang dari luar negeri beliin kita oleh-oleh hahaha. " Ujar Irene.


"Iya dong, pastinya! Udah ah pesan makanan yuk aku udah lapar, kalian mau makan apa? Aku bayarin deh hari ini pesan aja sepuas kalian. " Ujar Livia.


"Wah beneran nih? Ya udah aku ambilin menu makanannya dulu yah guys. " Dena antusias dan langsung beranjak dari tempat duduknya mengambil menu makanan di kantin sekolah mereka.


Tidak lama kemudian pesanan mereka sudah datang, namun baru beberapa sendok yang masuk ke dalam perut Livia gadis itu merasa ada sesuatu yang menggelituk di dalam tenggorokannya. Livia merasa mual.


Deni yang sedari tadi memperhatikan Livia dari jarak aman segera mendekati gadis itu.


"Livia? Aku mau ngomong sama kamu?. " Ujar Deni, agar teman-teman Livia tidak terlalu curiga.


Livia segera berdiri dan menuruti Deni. Deni kemudian mengeluarkan beberapa lembar uangnya dan meletakkan uang tersebut di atas meja.


"Pake itu aja buat bayar makanan kalian, aku pinjem Livia dulu. " Ujar Deni lagi, lalu menarik tangan Livia.


Livia yang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan isi perutnya segera berlari saat ia dan Deni sudah keluar dari kantin. Livia berlari menuju toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Deni menunggu di depan toilet dengan sabar.


Tidak lama kemudian Livia keluar Deni segera memberinya obat anti mual dan sebotol air mineral. Ia sudah mempersiapkan obat tersebut saat menemani Livia pergi ke dokter kandungan beberapa hari yang lalu.


"Nih minum ini, biar gak mual lagi jam pulang sekolah masih lama. " Ujar Deni.


Livia menerimanya dengan pasrah dan langsung meminum obat itu.


Livia kemudian memegang tangan Deni, agar ia tidak terjatuh. Deni dengan sabar menuntun Livia dan membdudukkannya di salah satu bangku yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Untungnya obat itu cukup efektif, lima menit kemudianLivia sudah tidak merasakan mual lagi namun kepalanya hanya sedikit berkunang-kunang, Livia masih bisa menahannya setidaknya ia harus bertahan sampai jam pulang sekolah.


###


Lonceng tanda pulang sekolah akhirnya berbunyi.


"Huuhhhh." Livia menghembuskan nafasnua dengan kasar.


Untungnya dirinya bisa melewati hari ini dengan lancar.


Livia berjalan keluar dari kelasnya menuju ke parkiran, tempat mobil Deni terparkir mereka sudah janjian akan bertemu di sana saja jika lonceng tanda pulang sekolah telah berbunyi, karena Livia merasa risih jika Deni terus-terussan muncul di hadapannya. Namun, baru beberapa langkah seseorang tiba-tiba saja menarik tangan Livia.

__ADS_1


"Eh apa-apaan?. " Bentak Livia saat menyadari seseorang menariknya dengan cukup kasar.


Orang tersebut menarik Livia ke tempat yang sangat sepi.


"Liviaaa." Panggil orang itu.


"RADIT?. " Teriak Livia.


"Kamu hamil?. " Tanya Radit tiba-tiba.


Livia membelalakkan matanya dan menghempaskan pegangan tangan Radit dengan kasar.


Plak


Plak


Dua tamparan mengenai pipi laki-laki itu.


"Aw sakit Livia. " Radit memegangi pipinya.


"Sialan kau, kurang ajar, brengsek!. " Umpat Livia.


Livia mengangkat tangannya ingin menampar laki-laki itu sekali lagi, namun tangannya segera di tahan oleh Radit, tubuh Radit yang jauh lebih besar darinya membuat Livia tidak dapat berbuat banyak.


"Jadi benar kamu hamil?. " Radit memastikannya sekali lagi, karena ternyata beberapa hari yang lalu Radit mengikuti Livia dan Deni yang pergi ke salah satu dokter kandungan di tambah lagi beberapa minggu terakhir Livia jarang masuk ke sekolah karena sakit, semakin menambah kecurigaan Radit.


"Sialan kau!. " Umpat Livia.


"Aku akan bertanggung jawab Livia, aku akan menikahimu, kita akan menikah. " Ujar Radit.


"Nggak, nggak perlu aku udah tunangan sama Deni!. " Tegas Livia.


"Aku Papanya anak itu, bukan Deni! Aku yang bakalan tanggung jawab. " Tegas Radit.


"Nggak, itu nggak bakalan pernah terjadi aku mau gugurin anak ini!. " Balas Livia.


Radit menahan tubuh Livia ke tembok, menatap lekat-lekat mata gadis itu.


"Itu gak bakalan pernah terjadi! Kalau kamu gak mau nikah sama aku, liat aja aku bakalan sebarin ke seluruh penjuru sekolah kalau kamu hamil anak aku. " Ancam Radit.


Livia sontak terkejut dan menatap tajam waja Radit.


"Kurang ajar!. " Caci Livia.


"Aku nggak main-main Livia, papanya anak itu adalah aku bukan Deni! Jadi aku yang bakalan nikahin kamu, kalau kamu berani ngelakuin sesuatu sama bayi itu, liat aja kamu juga bakalan rasain akibatnya!. " Ancam Radit, laki-laki itu kemudian meninggalkan Livia yang diam membeku di tempatnya.


Hatinya merasa hancur sekali lagi. Mata Livia berkaca-kaca, gadis itu tidak tau harus melakukan apa lagi.


Bersambung...

__ADS_1


Note : Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author,Terima kasih.....


__ADS_2