
Deni yang tadinya merasa di atas awan merasa dirinya seakan-akan langsung di hemoaskan ke bumi. Namun dengan pasrah dirinya mengikuti perintah Livia dan duduk di belakang bersama Radit.
###
Malam harinya.
"Minggir nggak!. " Ancam Livia.
"Nggak mau Liv, aku maunya dekat-dekat kamu. " Ujar Radit berusaha menggaoai pinggang Livia.
"Sana! Aku bilang minggir ih. " Livia menepis tangan Radit risih.
Sudah kesekian kalinya Radit mencoba merayunya untuk melakukan hubungan yang intim selayaknya pasangan suami istri.
"Liv, plis aku udah nggak tahan ini udah berminggu-minggu nggak keluar. " Bujuk Radit, memohon kepada Livia agar gadis itu mau menuruti keinginannya.
"Big no! Persetan yah Radit, sampai kapanpun aku nggak bakalan mau ngelakuin itu sama kamu!. " pekik Livia.
Radit yang sudah sangat tidak tahanpun tidak kehabisan akal mencari jalan lain.
"Livia aku ini suamimu, kamu harus nurut sama aku! Kamu bakalan berdosa karena nggak ngelayanin aku dengan baik, kamu mau masuk neraka. " Ujar Radit.
"Bodo amat, kalau aku masuk neraka, aku pastiin bakalan nyeret kamu juga. " Balas Livia menyembunyikan tubuhnya ke dalam selimut, berharap Radit akan berhenti mengganggunya dengan segala macam bujuk rayu.
"Oke, kalau cara halus nggak mempan, maafin aku Liv, kalau caraku bakalan sedikit kasar dan nyakitin kamu. " Ujar Radit ikut masuk ke dalam selimut dan menarik paksa Livia ke dalam pelukan laki-laki itu.
__ADS_1
Livia menelan air liurnya, karenan merasa degdegan dengan perlakuan Radit barusan, di tambah nafas laki-laki itu tepat berada di atas ubun-ubun kepala Livia, memberikan sensasi geli ke seluruh tubuh gadis itu.
Livia berusaha melepaskan dirinya dari Radit, lalu mengambil bantal untuk membuat jarak di antara mereka berdua.
"Livia plis, aku benar-benar udah nggak tahan, malam ini kamu harus layani aku Liv!. " Pekik Radit, kali ini laki-laki itu semakin berani.
Radit menangkap kedua tangan Livia dan di arahkan nya ke atas kepala gadis itu, sehingga Livia kesulitan melepaskan dirinya kali ini.
"Ayolah sayang, kali ini saja. " Ujar Radit dengan nada suara yang sangat lembut, membuat Livia merinding mendengarnya.
Tangan Radit yang satunya membuka satu persatu kancing baju tidur Livia.
"Lepasin Radit, sampai kapanpun aku nggak bakalan pernah sudi kamu nyentuh tubuh aku. " Sentak Livia.
"Ssttttt." Radit mengarahkan telunjuknya ke bibir Livia.
Cup
Bibir Radit berhasil mengulim bibir ranum gadis itu.
Livia meronta-ronta dan dengan sengaja menggigit lidah Radit dengan cukup keras, agar laki-laki itu menjauh dari tubuhnya.
"Arhggghhhhssss ****. " Pekik Radit kesakitan. Lidahnya berdarah.
"Rasain." Ujar Livia, kembali menutupi dirinya dengan selimut.
__ADS_1
"Ahh, sakithhh. " Pekik Radit berlari ke kamar mandi untuk menghentikan pendarahan pada lidahnya.
Livia tidak menghiraukan suaminya yang merintih kesakitan gara-gara ulahnya itu.
Beberapa waktu kemudian Radit keluar dari dalam kamar mandi dan dengan cepat menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Livia.
"Awas kamu, Liv! Kali ini kamu nggak bakalan bisa lolos. " Ancam Radit.
"Radit! Awas yah kalau kamu maju, aku bakalan teriak. " Ancam Livia.
"Teriak aja, kamu lupa di rumah ini cuman ada kita berdua sayang? Hmmm?. " Ukar Radit dengan santai kembali merangkak naik ke atas ranjang mendekati tubuh Livia.
Livia yang merasa posisinya sedang terancam mengambil ancang-ancang untuk menendang Radit, namun baru saja gadis itu akan mengangkat kakinya, Radit dengan cepat menangkap laki Livia dan menariknya.
Posisi Radit saat ini sudah kembali menindih tubuh Livia.
"Kamu nggak kapok-kapok yah!. " Pekik Livia.
"Nggak dong sayang, aku nggak bakalan pernah kapok buat dapatin tubuh kamu ini. " Balas Radit.
"Sialan!. " Umpat Livia kesal
Radit mengambil kesempatan tersebut untuk melorotkan celana tidur Livia, sedetik kemudian, bagian bawah tubuh Livia kini hanya mengenakan ****** ***** berwarna pink.
"Radit, sakit tau! Kamu nggak liat aku lagi hamil, ini anak kamu juga loh. " Ujar Livia, panik.
__ADS_1
"Makanya kamu jangan banyak gerak, jangan ngelawan terus! Aku bakalan ngelakuinnya pelan-pelan kok. " Balas Radit.
Bersambung...