
Episode sebelumnya..
Livia menatap dirinya sekali lagi di dalam cermin dan merasakan sesuatu yang ada di dalam perutnya bergerak-gerak kecil. Livia tanpa sadar mengelu-elus perutnya.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Hari Pertunangan akhirnya tiba.
Sejak pagi rumah Livia sudah sangat sibuk mempersiapkan apa-apa saja yang di perlukan untuk menyambut kedatangan keluarga Deni.
Livia bangun jam delapan pagi dengan malas-malasan, tidak ada inisiatif sama sekali.
"Livia? Cepat mandi kamu tuh dandannya bakalan lama loh jangan buat orang lain nunggu nak. " Tegur Silvia yang masuk ke dalam kamar anaknya untuk memastikan apakah anak gadisnya itu sudah bangun atau belum.
"Malas banget. " Keluh Livia.
"Ya ampun, Livia ayo cepat mama bantuin kamu ke dalam kamar mandi. " Mama Livia bergerak mendekati anaknya dan membantunya masuk ke kamar mandi.
"Udah, udah biar Livia mandi sendiri aja ngapain mama tinggal disini, keluar sana. " Usir Livia, melihat mamanya yang ingin membantu untuk membukakan baju Livia.
"Ya udah mama keluar, jangan lama-lama yah , itu orang yang mau dandanin kamu udah dateng. "
Silvia kemudian keluar dari dalam kamar anaknya. Orang-orang yang hadir dalam pertunangan Livia hanyalah keluarga inti saja tidak ada orang lain, untuk makanan saja Silvia menyewa orang untuk membantu-bantu mempersiapkan segala sesuatu di rumahnya.
Dua jam berlalu, Deni dan mamanya akhirnya datang. Acara pertunangan aka segera di laksanakan namun Livia belum juga keluar dari dalam kamarnya membuat semua orang yang menunggu di luar jadi penasaran.
"Kok lama banget dandannya? Coba cek lagi ma?. " Ujar Pak Zul kepada istrinya.
"Iya pa. " Mama Livia berjalan ke kamar anaknya lagi untuk memastikan.
Baru saja akan masuk ke dalam kamar Livia, pintu kamar gadis itu terbuka menampilkan Livia dengan gaun berwarna putih yang sedikit terbuka pada bagian dada hingga lengannya, panjangnya selutut.
Rambut panjang Livia sengaja di sanggul untuk memberikan kesan anggun, memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Deni yang melihat itu terperangah takjub.
"Wuahhh." Deni teroukau tanpa sadar bergumam.
"Itu Livia?. " Tanya Mama Deni yang baru kali ini melihat gadis itu.
Deni hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Acara pertunanganpun berlangsung dengan lancar tanpa kendala.
Cincin emas dengan berlian kecil-kecil yang menghiasi cincin tersebut terlihat sangat cantik di jari Livia.
Deni yang memasabgkan cincin itu tersenyum sangat senang, akhirnya Livia resmi menjadi miliknya, selangkah lagi mereka berdua sudah bisa tinggal bersama. Deni berdoa diam-diam di dalam hatinya.
"Semoga kami bisa sampai ke jenjang pernikahan, aku akan selalu menjagamu Livia. " Batin Deni.
"Kamu jangan dulu, belum tentu kita bakalan sampe nikah! Ingat yah aku tuh gak cinta sama kamu!. " Bisik Livia.
"Livia, banyak orang tau jangan ngomel-ngomel. " Balas Deni, beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
Livia kemudian tersenyum lebar, tidak ingin imagenya terkesan buruk di mata orang-orang yang menghadiri pertunangannya.
Deni merangkul pinggang Livia, sementara Livia menhan tubuhnya agar tidak terlalu menempel kepada Deni.
Sesi foto-foto pun di lakukan.
"Senyum 1 2 ok. " Kliatan blitz kamera menyikaukan mata.
Satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu ikut berfoto bersama.
"Coba masnya mungkin bisa meluk pinggang mbaknya biar kelihatan lebih mesra gitu di dalam foto. " Photograper mengarahkan Deni.
"1 2 ok. " Kilatan Blitz kembali menyilaukan mata.
Selesai sudah acara hari itu, di akhiri dengan makan-makan bersama. Livia merasa sangat lelah karena terlalu lama berdiri hingga gadis itu tidak ikut dalam sesi makan bersama. Livia bahkan belum menyapa Mama Deni.
"Ah maaf yah, Livia tidak enak badan makanya tidak ikut makan bersama kita tidak apa-apa kan mbak Tania?. " Ujar Mama Livia, yang kini memanggil Mama Deni dengan sebutan ' mbak' karena Mama Deni memang lebih tua dari pada Silvia, Mama Livia.
"Ah iya, santai saja. " Balas Mama Deni cuek, namun di dalam hatinya merasa kesal juga karena Livia sama sekali tidak menegur ataupun menyapanya sejak tadi.
"Gadis itu sombong sekali. " Lirih Mama Deni, menatap kamar Livia dengan tatapan sinis.
"Ayo makan mbak, Deni kamu juga makan dong. " Ujar Mama Livia lagi.
Bu Tania kemudian membalasnya dengan tersenyum dan hanya mencicipi makanan yang di hidangkan untuk menghormati orang tua Livia.
Tidak lama kemudian Bu Tania berpamitan, karena acara pertunangan juga sudah selesai.
"Deni ayo kita pulang, nak. " Ajak Bu Tania.
"Nanti aja ma, tungguin Livia bangun dulu. " Balas Deni.
__ADS_1
"Kan kamu bisa balik nanti malam, Mama masih ada kerjaan loh ini di kantor. " Ujar Mama Deni.
"Ya udah deh kalau gitu. "Deni akhirnya pasrah.
" Dek Silvia, saya pamit dulu yah, karena acaranya juga sudah selesai lain kali kita silaturahmi lagi. " Tutur Bu Tania kepada calon besannya itu.
"Ah iya, mbak nggak nungguin Livia dulu? Dia kecapean karena kelamaan berdiri tadi. " Jelas Mama Livia.
"Ah nggak usah, lain kali aja. " Bu Tania kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada semua orang yang ada di rumah itu.
"Saya permisi dulu yah tante, nanti malam saya bali lagi. " Ujar Deni.
"Sampein ke papanya Livia juga yah, salam saya gak sempat pamitan. " Ujar Bu Tania, karena setelah acara pertunangan tadi pak Zul memang langsung pergi setelah mendapatkan telepon dari kepala sekolah Livia.
"Iya mbak, Terima kasih yah mbak, semoga silaturahmi kita berjalan dengan baik. " Balas Mama Livia memegang tangan Mama Deni.
Mama Deni hanya membalasnya dengan tersenyum kecil, lalu berjalan keluar dan pergi meninggalkan rumah orang tua Livia di ikuti oleh Deni yang berjalan di belakang mamanya.
Di dalam mobil Deni tidak berhenti tersenyum, hari ini adalah hari bersejarah untuknya, ia sendiri tidak menyangka akan segera memiliki Livia seutuhnya.
"Deni." Panggil Bu Tania.
"Iya Ma?. "
"Livia itu kok kayak gak sopan banget sih sama Mama, selama acara tunangan tadi dia gak ada negur ataupun nyapa Mama. " Ujar Bu Tania mengeluarkan isi hatinya.
"Livia nya kecapean Ma, makanya dia gak sempat. " Bela Deni.
"Gak sempat apanya orang tadi kita sempat duduk bersama pas kamu mau masangin cincin, kamu gak liat dia sama sekali gak ngelirik ke arah Mama, Mama senyumin matanya malah judes Mama jadi kesal seandainya kamu gak kepalang tanggung udah hamilin anak orang itu, Mama gak sudi punya mantu kayak dia. " Oceh Mama Deni tidak suka dengan sikap Livia yang angkuh dan sombong.
"Mama, jangan ngomong gitu dong, Livia kan juga anak Mama karena udah ngandung anaknya Deni, Livia kayak gitu karena hormon ibu hamil gak stabil. " Deni terus-terussan membela Livia, bahkan anak yang ada di dalam gadis itu sudah di anggap nya seperti ankanya sendiri.
"Kamu udah mastiin anak yang ada di dalam perutnya gadis itu ank kamu? Mama jadi makin sangsi ngeliat sikap dia ke kamu aja gak ada hangat-hangatnya mama liat, mama masih gak percaya anak yang ada di dalam perutnya itu anak kamu. " Mama Deni terus mengomel.
"Mama, jangan ngomong gitu, itu urusan Deni, jadi biarin Deni yang bertanggung jawab. " Tegas Deni.
Mamanya yang mendengar itu sontak terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. Percuma saja, orang yang jatuh cinta biasanya memang nalar berpikirnya jadi ikut buta karena terlalu cinta.
Lebih baik menasehati orang tuli, dari pada orang yang sedang jatuh cinta setidaknya orang yang tuli akan mencoba menafsirkan kata-katamu sementara orang yang jatuh cinta sama sekali tidak akan menuruti nasihat apapun yang kamu katakan.
Bersambung...
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.
__ADS_1