Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 62 : Kecelakaan


__ADS_3

Livia langsung berlari ke lantai bawah untuk memberikan pertolongan kepada Radit, bersamaan dengan itu mobil Deni juga sudah tiba di depan rumah Livia.


###


Sesampainya di lantai bawah, Livia segera keluar dari rumahnya dan mendapati Radit sudah mengeluarkan banyak darah dari kepalanya, tangga yang menimpa tubuh Radit langsung di singkirkan oleh Livia.


"Dit, ya Tuhan! Sadar dong dit?. " Pekik Livia mengguncang tubuh Radit.


Livia memeriksa denyut nadinya.


"Duh kenapa bisa jadi kayak gini? Radit maafin aku diri aku nggak sengaja, hikss. " Livia merasakan denyut nadi Radit sangat lemah, membuatnya semakin histeris karena jika Radit mati otomatis Livia akan jadi pembunuh.


"Pembunuh? Nggak aku nggak mau jadi pembunuh!. " Batin livia berusaha berpikir positif, Radit tidak akan mati hanya karena kejadian tadi.


Langkah kaki seseorang yang berlari mendekati tempat Livia saat ini membuat gadis itu sontak menengok.


"DENI, TOLONGIN AKU PLIS?. " Teriak Livia saat menyadari orang yang datang itu adalah Deni.

__ADS_1


Deni nampak shock dengan apa yang baru saja dilihatnya, namun dengan cepat laki-laki itu ikut memegangi tubuh Radit lalu memeriksa denyut nadinya.


"Kenapa bisa gini Liv? Cepat telepon ambulan. " Perintah Deni.


Livia menggeleng keras.


"Aku takut, aku takut Den! Kalau aku telpon ambulan otomatis mereka bakal nanyain kenapa bisa terjadi kayak gini, aku takut! Aku nggak mau di penjara apalagi kalau sampai Radit mati.... " Histeris Livia.


Deni mencoba menenangkan gadis itu.


Livia segera menghaous air matanya dan membantu Deni untuk menggotong tubuh laki-laki itu masuk ke dalam mobil Deni. Dengan cepat mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.


Tubuh Livia namoak bergetar hebat, pakaian yang di kenakannya sudah bersimnah darah, gadis itu duduk di kursi penumpang sembari menopang tubuh Radit.


Deni segera melakukan mobilnya di jalan Raya menuju ke rumah sakit terdekat, agar Radit cepat di berikan pertolongan pertama.


Tidak sampai 10 menit, Deni mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan sehingga Radit kini bisa langsung di tangani oleh dokter.

__ADS_1


"Hubungi keluarga Radit, Liv, bentar lagi bakalan operasi nggak mungkin kita yang mesti tanda tangani berkasnya. " Perintah Deni, setelah berbicara dengan salah satu dokter yang akan menangani Radit di meja operasi.


Kepala Radit ternyata mengalami kebocoran karena lebih dulu menghantam cor yang keras di tambah tangga besi yang menimpa tubuhnya, membuat kondisinya semakin parah.


Livia menggeleng dengan keras.


"Nggak, nggak boleh! Aku takut mereka bakalan marah besar sama aku Den. " Balas Livia.


"Kamu harus hubungi keluarganya, kalau nggak kamu benar-benar bakalan jadi pembunih Liv, orang tuanya harus tau dan Radit harus segera di operasi, tenang aja kalau mereka ngelakuin sesuatu yang buruk sama kamu, aku bakalan maju paling depan buat ngelindungin kamu. " Tutur Deni, meyakinkan gadis yang di cintainya itu agar berani bertindak sebelum semuanya benar-benar terlambat.


Perasaan Livia kembali panik, jantungnya berdegup sangat kencang, ia tidak tau apa yang akan orang tua Radit katakan kepadanya, kalau sampai mereka tau Livia mencelakai Radit.


"Ayo Liv, cepetan dokter butuh persetujuan orang tua Radit. " Pekik Deni, tidak sabar.


Livia menggigit bibir bawahnya dengan gugup, menimbang-nimbang keputusan apa yang harus dirinya ambil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2