
Episode sebelumnya..
Livia menghela nafas, namun tetap pasrah melakukan perintah mamanya.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Satu minggu setelah pernikahan Livia dan Radit orang tua Livia melakukan aktivitasnya seperti biasa, mengurus bisnisnya di luar kota, mereka akan keluar kota sampai dua minggu ke depan.
Sementara orang tua Radit sudah kembali ke luar negeri, untuk mengurus keluarga baru mereka masing-masing.
Tinggallah Livia dan Radit di rumah tersebut, berdua.
"Livia.. " Panggil Radit, mereka berdua saat ini sedang berada di dalam kamar.
Livia hanya melirik ke arah Radit, tidak berniat untuk membalas panggilan laki-laki itu.
"Livia." Panggil Radit lagi
"Hm." Balas Livia.
"Heh kalau suaminya manggil si sahutin. " Pekik Radit.
"Apaan sih. " Balas Livia.
"Aku lapar. " Ujar Radit.
"Ya udah makan sana. " Balas Livia.
"Ambilin kek. " Ujar Radit.
"... " Livia tidak menjawab dan lebih asik memandangi ponselnya.
Radit tiba-tiba saja memeluk gadis itu dari belakang. Livia yang memang sedari tadi duduk di sisi kasur dan membelakangi Radit sontak melepaskan pelukan laki-laki itu dan memutar tubuhnya.
Mereka berdua kini saling berhadapan, untungnya Livia berhasil meloloskan dirinya.
__ADS_1
"Apaan sih Radit! Jangan kurang ajar yah. " Pekik Livia tidak Terima Radit menyentuhnya.
"Livia, aku kan suami kamu, udah satu minggu loh kita nikah, tapi kamu nggak pernah mau di sentuh. " Balas Radit.
Livia memutar bola matanya malas.
"Livia plis. " Pinta Radit, wajahnya memelas.
"Apaan? Jangan dekat-dekat! Atau.... " Ancam Livia berjalan mundur ke arah pintu.
"Atau apa? Dirumah ini cuma ada kita berdua Livia, kamu nggak bakalan bisa lari kali ini. " Ujar Radit sambil menyerimgai.
Livia yang melihat itu sontak bergidik ngeri, Radit nampak seperti laki-laki mesum di matanya.
Radit terus melangkah mendekati tubuh Livia yang kini sudah sampai di daun pintu bersiap untuk memutar pegangannya. Namun Radit segera meraih tangan Livia, menarik pinggang gadis itu merapat ke tubuhnya dan dengan mudah Radit mengangkat tubuh Livia ke atas kasur.
"Radit, kurang ajar!. " Pekik Livia, meronta-ronta ingin melepaskan diri dari tubuh Radit.
"Apa sayang?. " Balas Radit.
Livia kini sudah di baringkan di atas kasur, sementara Radit langsung menindih tubuh gadis itu, tidak memberinya kesempatan untuk lolos.
Livia merasakan sakit sekaligus ketakutan saat Radit menindih tubuhnya.
Radit mengangkat sedikit tubuhnya agar tidak terlalu menindih Livia, kesempatan itu Livia gunakan untuk meninju perut Radit.
"Aw Livia! " Pekik Radit.
"Rasain." Ujar Livia.
"Awas yah kamu. " Ancam Radit, yang langsung memegang kedua tangan Livia menggunakan satu tangannya.
Tangan Livia di bentangkan ke atas kepala gadis itu, sementara tangan Radit yang satunya mencoba mengangkat baju daster Livia.
"Radit! Lepasin nggak!. " Bentak Livia. Ingatannya tentang kejadian di mobil saat Radit menggauli nya secara paksa membuat Livia ketakutan.
"Enggak bakalan sakit lagi kok sayang kan udah pernah, kali ini aku bakalan bikin kamu enak!. " Ujar Radit lembut, berbisik ke telinga Livia.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu. " Balas Livia, masih berusaha melepaskan tangannya.
Daster Livia sudah terangkat hingga ke pinggangnya, menampakkan pahanya yang putih.
Radit membelai paha Livia dan mulai membuka resleting celananya sendiri.
Livia yang melihat itu semakin panik, ia mengerahkan seluruh tenaganya dan menendang ************ Radit, sekeras-kerasnya, hingga laki-laki itu tumbang ke samping Livia.
Livia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
"Livia, aw sakit!. " Pekik Radit memegangi selangkangannya.
"Rasain! Makanya jangan macam-macam!. " Balas Livia.
Radit nampak mencoba bangun dari kasur untuk meraih Livia kembali ke pelukannya namun dengan segera Livia berlari ke arah pintu dan keluar dari kamarnya.
"Mau kemana kamu Livia? Nggak ada orang di rumah ini! Kunci mobil kamu juga udah aku simpan, kamu nggak bakalan bisa kabur, hari ini aku bakalan buat kamu neetekuk lutut. " Oceh Radit dari dalam kamar.
Livia yang baru menyadari kunci mobilnya memang berada di tangan Radit tidak ada pilihan lain selain keluar dari rumah, ia tidak ingin Radit menyentuhnya sedikitpun.
"Aaaahhhhhh!. " Teriak Livia yang melihat Radit keluar dari kamarnya.
"Livia jangan lari! Kamu harus tanggung jawab!. " Pekik Radit, meskipun jalannya masih tertatih-tatih namun laki-laki itu nampak sangat bernafsu ingin menyentuh Livia hari ini.
"Nggak! Kamu nggak bakalan pernah dapat apa-apa dari aku Radit!. " Balas Livia, gadis itu kini sudah berada di dekat pintu utama.
Livia segera membuka pintu itu dan berlari ke luar rumah, sementara Radit masih mengejarnya.
Livia yang berlari tanpa alas kaki merasa ada sesuatu yang menusuk kakinya.
"Aw aduh, pake ke injak lagi. " Ujar Livia mencabut kaca berukuran kecil yang menancap di kakinya.
Livia yang merasa perih pada telapak kakinya berjalan dengan pincang lalu duduk di dekat pagar, Livia merasa sudah aman karena posisinya berada di dekat pagar rumah yang sengaja dibiarkan terbuka.
Livia tidak terlalu memperhstikan Radit yang sudah semakin dekat dengan posisinya, karena kakinya yang sakit Livia hanya bisa pasrah berharap ada orang lain yang melewati pagar rumahnya.
Hingga sedetik kemudian.
__ADS_1
"LIVIA?. "...
Bersambung...