Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 55 : Seperti Penguntit


__ADS_3

"Itu si kak Sinta, mereka berdua katanya ketemu diam-diam dan ketahuan sama Livia, dengar-dengar ada videonya. " Ujar Roi terus membagikan informasi yang di dapatkannya.


###


Radit yang terus-terussan mendengarkan gosip miring tentang Livia merasa semakin kesal.


"Sok tau kamu, emang kamu tau apa tentang Livia. " Pekik Radit, tidak Terima orang yang dicintainya itu selalu menjadi bahan perbincangan orang-orang di sekelilingnya.


"Loh emang itu faktanya kok, kenapa kamu yang sakit hati sih Den!. " Balas Roi dengan tatapan menantang.


Deni yang tersulut emosi langsung menarik kerah baju Roi, bersiap untuk menghajar laki-laki bermulut perempuan itu.


"Kurang ajar!. " Bentak Deni.


"Eh, eh udah jangan berantem gitu dong, malu tau di liatin adek kelas. " Ujar Tama.


Tama yang melihat pertengkaran kedua temannya itu langsung melerai.


"Apa?Emangnya kamu pikir aku takut sama kami? Nggak usah sok jagoan deh, sok-sokan mau bela mantan cewekmu yang bunting itu, gagal move on yah? Kasian deh lo. " Ejek Roi.


Deni semakin tersulut emosinya hingga satu pukulan meluncur dengan keras menghantam wajah Roi.


Bug

__ADS_1


"Ah sakit, sialan. " Rintih Roi memegangi bibirnya yang berdarah.


"Rasain tuh bogem. " Pekik Deni, berlalu pergi meninggalkan Roi.


"Mau kemana kamu bajingan, kita belum selesai yah. " Ujar Roi berusaha menjangkau tubuh Deni yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya. Namun, dengan sigap Tama menahan tubuh Roi.


"Udah-udah, kalian nggak malu apa diliatin adik kelas, berantem gara-gara cewek. " Ujar Tama.


"Sekali lagi aku dengar kamu jelek-jelekkin Livia, habis kamu di tanganku. " Ancam Deni sebelum benar-benar pergi meninggalkan base camp khusus ekstrakurikuler pecinta alam di sekolahnya tersebut.


###


Keesokan harinya.


Sepulang dari sekolah, Deni langsung tancap gas menuju ke rumah Livia, niatnya Deni ingin langsung menemui gadis itu, menanyakan kebenaran tentang gosip-gosip yang di dengarnya di sekolah.


Namun, pada saat sudah berada di depan pagar rumah Livia, Deni tidak berani untuk sekedar masuk ke halaman rumah gadis itu.


Disinilah Deni sekarang, memperhatikan rumah Livia yang nampak sepi dari dalam mobilnya yang sengaja di parkir tepat di seberang jalan rumah Livia.


Meskipun nampak seperti penguntit, namun hanya ini yang bisa Deni lakukan.


"Sepertinya orang tua Livia juga sudah kembali, apa mereka benar-benar akan bercerai?. " Gumam Deni, berbicara kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ada rasa iba sekaligus perasaan senang memenuhi rongga hatinya. Iba karena orang yang di cintainya menikah dengan laki-laki tidak bertanggung jawab seperti Radit.


Senang, karena Deni memiliki kesempatan lagi untuk membuktikan perasaan cintanya kepada Livia.


"Jika gosip itu benar, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendapatkanmu kembali, Livia. " Ujar Radit Pelan.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Agya berhenti tepat di depan rumah Livia.


Deni mengernyitkan wajahnya.


"Itukan mobil Radit? Dari mana tuh orang?. " Ujar Deni terus memperhatikan mobil Radit.


Radit keluar dari dalam mobilnya, penampilannya nampak sangat berantakan, rambutnya acak-acakan, wajahnya nampak sangat lesu.


Radit berjalan dengan gontai memasuki pagar rumah orang tua Livia.


Sepertinya, gosip-gosip yang beredar di sekolahnya itu benar, jika hubungan antara Radit dan Livia saat ini dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Padahal terakhir kali mereka bertemu, hubungan Radit dan Livia nampak baik-baik saja, hal itu sempat membuat Deni mundur selangkah demi selangkah dan mencoba mengikhlaskan Livia bersama Radit, papa dari anak yang di kandung gadis yang di cintainya.


Namun, karena saat ini situasinya sudah berbeda. Deni kembali ingin mencuri hari gadis itu. Bagaimanapun caranya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2