
LIvia kemudian meletakkan obat Radit di atas meja lalu melenggang masuk ke dalam kamar, tidak peduli dengan panggilan Radit yang seakan terus memaksanya untuk mengerti.
###
Brak
Suara pintu yang sengaja Livia tutup dengan keras.
"Sialan." Umpat Livia, merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Tubuhnya sudah sangat lemah berjalan kesana kemari hari ini, di tambah perasaannya harus di buat kesal berkali-kali oleh gadis pengganggu itu.
"Arggghhhhgghhhh." Histeris Livia, merasa prustasi dengan keadaannya yang serba salah saat ini.
Padahal baru kemarin dirinya merasa sedikit bersyukur karena Radit sudah lebih baik dalam memperlakukannya, hari ini laki-laki itu malah lebih mendengarkan Sinta, gadis yang hampir membuat rumah tangga mereka hancur.
Malam harinya, saat Livia keluar dari kamar. Radit nampak tertidur pulas di atas sofa. Sementara dapur sudah bersih.
Sinta tidak terlihat di sudut mana pun di ruangan itu. Livia kemudian berjalan mendekati suaminya yang sedang tertidur pulas.
Ada rasa bersalah menghinggapi dadanya, harusnya ia tidak bersikap keras kepala tadi siang.
"Radit... " Livia memanggil nama suaminya pelan.
"Dit, bangun! Kamu nggak boleh tidur disini, ayo kita pindah masuk ke dalam kamar. " Tutur Livia sembari menggoyangkan tubuh Radit dengan pelan.
Sedetik kemudian mata Radit terbuka.
__ADS_1
"Livia... " Panggil laki-laki itu, pelan.
Livia memperlihatkan senyum ramahnya.
"Iya ini aku, ayo kita pindah ke dalam kamar, jangan tidur disini. " Ujar Livia lagi.
Radit kemudian bangun dengan susah payah dengan di bantu Livia.
"Maafin aku yah Liv, tadi siang aku keterlaluan, besok aku bakalan suruh Sinta pergi dari sini, biar dia nggak gangguin kita lagi. " Ujar Radit sembari memegang tangan Livia.
Livia mengangguk setuju.
"Terserah kamu aja Dit, aku juga mau minta maaf tadi siang aku harusnya nggak bersikap kekanak-kanakkan dan ninggalin kamu disini sama gadis itu, kamu sampai ketiduran gini. " Balas Livia, balas menggenggam erat tangan Radit.
Radit tersenyum mendengar perhatian Livia.
Livia menggeleng.
"Aku sama sekali nggak pernah ngerasa kamu ngerepotin aku Dit, kamu suami aku, wajar kalau aku yang mesti ngurusin kamu disini. " Balas Livia.
"Makasih yah Liv, karena kamu mau nemenin aku disini, aku nggak tau selain kamu mungkin nggak ada orang lain yang bisa bikin aku merasa sesenang ini punya istri cantik dan pengertian kayak kamu. " Puji Radit.
Livia tersenyum mendengarnya, ia sudah membuang jauh-jauh rasa ego di dalam dadanya.
"Bisa aja kamu gombalnya, hahaha. " Balas Livia, menoel hidung mancung Radit.
Radit ikut tertawa mendapsti perlakuan Livia yang membuatnya tergelitik.
__ADS_1
"Ya udah yuk, kita bobok dalam kamar aja. " Ajak Livia.
"Tapi kamu kan belom makan seharian ini Liv, kita makan dulu yah baru abis itu kita tidur. " Ujar Radit.
Livia sontak menepuk jidatnya.
"Ya ampun, aku sampai lupa, kamu juga belum makan malam kan? Obat kamu juga bum di minum, ya Tuhan aku ini mikirin apaan sih dari tadi kenapa bisa sampai lupa. " Pekik Livia baru ingat jika saat ini baru pukul delapan malam.
"Kamu kayaknya udah nggak sabar mau bobok bareng yah. " Goda Radit. Mereka berdua akhirnya berbaikan dan tertawa bersama.
"Ih enak aja, orang aku cuman nyuruh kamu jangan tidur disini kok. " Bantah Livia.
"Ah yang benar, perasaan tadi aku denger kamu ngomong kita bobok di dalam kamar aja. " Timpal Radit.
"Ih Radittttttttttt. " Pekik Livia.
"Apa Liviaaaaaa. " Balas Radit meniru nada bicara Livia.
"Ngeselin banget sih, nanti kalau aku makan kamu nggak bakalan aku suapin, biarin kamu makan sendiri. " Ancam Livia.
"Jangan dong, aku maunya di suapin, maafin deh, iya kamu nggak ada kok ngajakin aku bobok bareng tadi, jangan ngambek lagi dong Liv...... " Radit menelas, ancaman Livia sepertinya manjur.
"Ya udah kalau gitu aku pesan makanan di resepsionis dulu, aku mau makan nasi goreng kalau kamu mau makan apa?. " Tanya Livia antusias.
"Terserah kamu aja Liv, aku ngikutin mau kamu. " Balas Radit.
Bersambung...
__ADS_1