Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 31 : Sisi Lain Livia


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Beruntung, sepertinya Mama Livia tidak mengenalinya.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Keesokan harinya.


Persiapan pernikahan Livia dan Deni sudah hampir seratus persen, acara pernikahan tersebut nantinya hanya akan di hadiri oleh beberapa orang saja.


Dekorasi di belakang halaman rumah Livia di buat secantik mungkin meskipun sederhana namun tetap terlihat mewah. Tentu saja kedua orang tuanya pasti akan memberikan yang terbaik untuk Livia.


Acara pernikahan akan di laksanakan tiga hari lagi, namun Livia terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan senang ataupun antisias menyambut hari pernikahannya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk aja, gak Livia kunci kok pintunya. " Ujar Livia.


"Non Livia, di depan ada tamu, katanya temannya non. " Ujar Bibi hanya setengah badannya saja yang muncul dari balik pintu.


"Siapa Bi? Laki-laki atau perempuan? . " Tanya Livia penasaran.


"Laki-laki non, bibi gak liat mukanya soalnya pake masker. " Jawab Bibi.


"Si Deni? Atau Radit?. " Tanya Livia lagi.


"Bukan dua-duanya non, yang lain, rambutnya agak panjang terus tinggi nya segini, yah hampir setinggi ginilah non. " Balas Bibi sambil membandingkannya dengan tinggi pintu.


"Ya udah gak usah di suruh masuk, suruh duduk di teras aja. " Ujar Livia.


"Iya non. " Bibi kemudian beranjak pergi, sementara Livia terlihat kebingungan.


"Laki-laki? Rambutnya agak panjang? Hah, Jangan-jangan...."


Livia dengan cepat melangkah keluar dari kamarnya menuju ke teras dan benar saja, laki-laki yang di maksud Bibi tadi adalah, Andra.


Laki-laki itu duduk dan langsung menengok ke arah Livia saat melihat gadis itu keluar dari dalam rumahnya.

__ADS_1


"Andra? Kamu ngapain kesini?. " Tanya Livia setelah ikut duduk di kursi yang lain.


"Maaf, Livia kalau aku ganggu. " Ujar Andra.


"Nggak apa-apa kok, ada apa emangnya?. " Tanya Livia lagi.


Andra memperhatikan sekeliling rumah Livia, beberapa laki-laki memang terlihat sibuk mengangkat perlengkapan dekorasi.


Livia segera mengalihkan perhatian Andra.


"Itu untuk dekorasi nikahan aku. " Ujar Livia.


Andra terlihat terkejut.


"Menikah?. " Tanya laki-laki itu.


Livia mengangguk.


"Iya, aku bakalan nikah, Andra. " Jawab Livia.


"Oh, gitugitu sama siapa? " Ujar Andra, nada suaranya terdengar kecewa.


Andra terdiam.


Livia mengernyitkan wajahnya, memandangi wajah laki-laki yang pernah ia cintai, laki-laki itu terlihat tidak terurus, badannya semakin kurus bahkan rambutnya saja terlihat lepek.


Livia meringis melihat keadaan Andra saat ini, mengingat hanya laki-laki itu yang pernah berhasil membuat jantung Livia berdetak kencang satu tahun yang lalu.


"Jadi kamu ngapain kesini? . " Tanya Livia lagi, pertanyaannya belum terjawab.


"Aku kesini mau minta maaf untuk kejadian satu tahun yang lalu Livia, ini aku juga mau balikin uang yang pernah aku pinjam sama kamu. " Tutur Andra mengambil amplop dari dalam tas selempangnya.


"Uang?. " Livia baru mengingat dirinya pernah memberikan pinjaman kepada Andra.


"Maaf ya Livia, aku baru sempat balikin nya sekarang, tahun lalu kondisi keluargaku benar-benar gak baik. " Jelas Andra, laki-laki itu terlihat merasa bersalah.


Livia kembali menatap wajah Andra, rasa bencinya kepada laki-laki itu tiba-tiba saja sirna digantikan dengan perasaan iba.


Livia masih mengingat dengan jelas bagaimana Andra pertama kali menyatakan cinta untuknya di hadapan seluruh murid baru dengan penuh percaya diridiri, membuat semua orang merasa iri kepada hubungan mereka.

__ADS_1


Beberapa bulan kemudian Andra menghilang tanpa jejak setelah mengambil uang Livia dengan alasan meminjamnya.


Andra meninggalkan Livia dengan perasaan sakit hati dan malu karena menjadi bahan gosip waktu itu.


Setelah kejadian itu Livia kembali memacari laki-laki dengan latar belakang keluarga kaya dan memoroti uang-uang pacar-pacarnya tersebut. Sebagai bentuk balas dendam untuk hatinya yang terluka karena Andra.


Kini Andra terlihat sangat rapuh dan rasa sayang Livia kepada Andra sepertinya belum benar-benar hilang. Terbukti saat ini Livia sama sekali tidak ingin menerima uang tersebut.


"Nggak usah Andra, itu buat kamu aja, kamu pasti lebih butuh uang itu sekarang. " Ujar Livia.


"Tapi, Liv aku udah ngumpulin ini selama satu tahun terakhir dengan susah patah nabung, aku malu Liv, kalau harus nerima bantuan kamu terus-terussan. " Balas Andra.


"Udah nggak apa-apa, buat kamu aja, kita lupain semua hal buruk yang udah pernah terjadi, aku udah maafin kamu. " Ujar Livia. Gadis itu seperti memperlihatkan sisi lainnya.


Sisi baik dan tutur kata yang lembut.


"Tapi, aku nggak pengen terus-terussan berhutanh budi sama kamu, aku merasa nggak berguna banget... "


Ucapan Andra segera di potong Livia.


"Udah nggak usah merasa bersalah, anggap aja udah lunas karena aku udah lupain semuanya, aku bakalan marah dan merasa kamu nggak ngehargain aku, kalau kamu nolak uang itu. " Tutur Livia.


Andra tertegun.


"Makasih banyak ya Livia, aku nggak bakalan lupain kebaikan kamu ini. " Ujar Andra.


"Iya sama-sama. " Balas Livia memperlihatkan senyuman terbaiknya agar Andra tidak merasa sungkan untuk meminta bantuan Livia.


Beberapa waktu kemudian, setelah berbincang-bincang, Andra segera berpamitan. Tidak lupa mereka berdua bertukar kontak telepon.


"Hati-hati ya Andra. " Ujar Livia, mengantarkan Andra ke depan pagar rumahnya.


"Iya Livia, aku harap kamu hidup bahagia bersama suami kamu nanti. " Balas Andra.


Livia hanya meringis tidak tau harus merespon ucapan Andra bagaimana.


Andra berlalu pergi dengan mengendarai motornya, tidak lama kemudian mobil Radit juga tiba.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2