
"Ide bagus tuh. " Timpal Sinta, yang membuat Livia dan Radit sontak menatap gadis itu dengan tatapan tajam yang menusuk.
###
Akhirnya setelah perdebatan yang panjang, Sinta akan tinggal di Apartement 502 tempat orang tua Radit tinggal sebelumnya dan tentu saja menggunakan uangnya sendiri.
"Maafin aku yah Livia, aku nggak berniat buat bikin kamu tadi marah. " Ujar Radit, mereka berdua saat ini sudah kembali berada di dalam kamar.
"Iya nggak apa-apa, santai aja. " Balas Livia cuek.
"Livia, jangan marah-marah dong, aku juga nggak tau kenapa Sinta bisa ada disini, kamu kan tau aku selalu sama kamu selama ini. " Jelas Radit.
Jika saja laki-laki itu saat ini sedang dalam kondisi sehat, ingin rasanya Livia langsung mendebatnya dan berkata kasar kepada laki-laki itu.
Baru saja Livia merasa bersyukur dengan Amnesia yang di alami Radit, yang membuatnya bersikap lebih lembut pada Livia, sekarang datang lagi masalah baru.
Livia benar-benar kehabisan akal. Suaminya tidak bisa mengingat perselingkuhan yang di lakukannya sementara gadis selingkuhannga itu datang seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi sebelumnya.
"Livia.. " Panggil Radit lagi seketika membuyarkan lamunan Livia.
"Tidurlah, besok kita akan check up lagi, kita tidak boleh terlambat bertemu dengan dokter Roi. " Balas Livia, membalik tubunya lalu tidur dengan posisi memunggungi suaminya yang masih terus mencoba meminta maaf.
###
__ADS_1
Keesokan harinya. Rumah sakit Mount Elizabeth. Livia dan Radit sudah saat ini sudah berada di lobi rumah sakit, Tiba-tiba saja di kagetkan dengan kehadiran Sinta yang langsung mendorong Livia.
"Ah aw, apa... "
Belum sempat Livia menyelesaikan kata-katanya, Sinta langsung memotong.
"Biar aku aja yang dorong Radit. " Ujar gadis itu mengambil alih kursi roda.
Livia yang hampir saja jatuh tersungkur pun hanya bisa berdecak kesal melihat kelakuan Sinta yang kekanak-kanakan, entah dari mana gadis pengganggu itu mengetahui jadwal check up Radit.
Sepertinya, sejak keluar dari Apartement gadis itu sudah mengikuti Livia dan Radit sampai ke rumah sakit ini.
"Kamu apa-apaan sih Sinta, jangan dorong-dorong Livia kayak gitu, kamu nggak liat dia lagi hamil. " Sentak Radit.
"Bodo amat, yuk kita pergi ke ruangan dokter yang bakalan check kamu hari ini. " ujar Sinta sembari mendorong kursi roda Radit.
"Heh, emangnya kamu tau ruangannya dimana?. " sentak Livia, menghalangi langkah Sinta. Lagi-lagi kedua gadis itu kembali berdebat.
"Yah nanti aku kan bisa tanya-tanya sama perwat disini, nama dokternya Radit siapa. " Balas Sinta, percaya diri.
"Emangnya siapa coba nama dokternya?. " Tantang Livia.
Sinta nampak berpikir, lalu kemudian gadis itu bertanya kepada Radit.
__ADS_1
"Dit nama dokter kamu siapa?. " Tanya Sinta.
Radit yang diberikan pertanyaan seperti itu justru ikut kebingungan, ia lupa dengan nama dokternya sendiri.
"Hah? Eh nama dokter ku siapa Livia?. " Radit justru bertanya kepada Livia.
Livia dengan ekspresi mengejek, mengambil alih kursi roda Radit dan balas mendorong Sinta.
"Minggir sana, makanya kalau nggak tau jangan sok tau jadi orang, dasar pengganggu. " Sentak Livia.
Sinta yang tidak terima di katai seperti itu, langsung mengambil ancang-ancang untuk balas mendorong Livia, namun dengan cepat Livia menghindari serangan Sinta dengan berjalan cepat sembari mendorong kursi roda Radit.
"Heh, eh mau kemana kamu jangan kabur. " Pekik Sinta.
LIvia tidak menghiraukannya, membiarkan Sinta mengomel di tempatnya seorang diri. Tujuannya ke tempat tersebut bukanlah untuk berdebat dengan gadis pengganggu rumah tanggnya itu, tapi untuk mengobati Radit, suaminya.
"Liv, kenapa kita ninggalin Sinta disana sendirian, nanti kalau dia nggak ngeliat ruangan dokternya gimana?. " Tanya Radit dengan polosnya, entah mengapa hari ini suaminya kadang bersikap seperti anak polos yang tidak tau apa-apa, mungkin karena pengaruh geger otak di kepalanya.
"Dia udah gede kok Dit, lagian dia bawa Smartphone otomatis nggak bakalan tersesat karena ada gugel mapsnya, meskipun nantinya dia nggak ngeliat ruangannya dokter Roi, tapi dia bisa langsung pulang ke Apartementnya. " Jelas Livia.
"Oh gitu yah Liv. " Ujar Radit sembari mengangguk pertanda laki-laki itu mengerti.
Bersambung...
__ADS_1