
"Makanya kamu jangan banyak gerak, jangan ngelawan terus! Aku bakalan ngelakuinnya pelan-pelan kok. " Balas Radit.
###
"Aw kamu nyakitin aku tau!. " Pekik Livia saat merasakan jari-jari Radit mulai menyentuh bagian paling sensitif dan B sempit di bagian bawah tubuhnya.
"Makanya jangan gerak sayang!. " Balas Radit terus mencoba memasukkan jarinya di antara cela-cela sekangkangan Livia, namun gadis itu tidak berhenti menggerakkan pinggangnya.
"Sadar dong Radit! Kamu nggak liat perut aku udah gede! Kamu nggak kasian sama bayi kita, aku kesakitan tau. " Ujar Livia lagi, merasa tidak nyaman dengan kelakuan Radit yang terus-terussan mencoba menjamah bagian bawah tubuhnya.
Padahal Livia sudah membuat lidah laki-laki itu berdarah, bukannya mengalah Radit malah semakin beringas dan bernafsu kepada Livia.
Sretttt
Kancing baju Livia berhamburan, Radit merobek paksa baju tidur yang di kenakan gadis itu, kini Livia benar-benar hampir telanjang.
"Ah." Livia tanpa sadar mendesah. Entah kenapa perlakukan kasar Radit barusan justru membuatnya sedikit bergairah.
"Kamu suka sayang?. " Tanya Radit.
"Hmmmhhh." Livia melenguh saat Radit mengecup dadanya dengan kasar, tangan Livia kembali di genggam erat oleh Radit dan di arahkan ke atas kepala gadis itu.
"Lepasin Dit! Plis aku nggak mau. " Rintih Livia, meskipun merasakan gairahnya mulai bangkit, namun gadis itu masih memiliki sisa-sisa kesadaran.
Radit yang sudah berada di puncak gairahnya tidak memperdulikan rintihan Livia, dengan cepat laki-laki itu mensejajarkan tubuh Livia dengan tubuh Radit.
"Arhhh Dit sakit!. " Pekik Livia saat merasakan sesuatu yang kerasa mencoba memaksa masuk ke dalam tubuhnya.
"Tahan sayang, ah dikit lagi. " Radit menenangkan Livia dengan memperlambat ayunan pinggangnya.
"Stop plis!. " Livia terus merintih, saat tubuh Radit kembali mengguncang nya dengan keras.
__ADS_1
Buk
Brak
Dengan sisa-sisa tenaganya Livia melepaskan tubuhnya dari Radit dan menendang laki-laki itu hingga tubuhnya terjungkal ke lantai.
"Argh, aw Livia!. " Rintih Radit kesakitan saat tubuhnya menghantam lantai.
"Rasain! Aku udah bilang aku kesakitan!. " Ujar Rania berlari masuk ke ruang ganti.
Untuk kesekian kalinya, Livia harus tidur di ruangan tersebut untuk menghindari Radit.
###
Livia terbangun saat mendengar suara krasak krusuk dari luar pintu.
"Hoaaammm."
Untung saja tadi malam dirinya bisa lolos dari jangkauan Radit, jika tidak Livia tidak tau apa yang akan terjadi kepada dirinya pagi ini, mungkin saja Livia akan terus berada di atas ranjangnya dan menangis.
Pagi ini saja tubuhnya terasa berat setelah aktivitas yang dilakukannya semalam.
Saat membuka pintu Livia sedikit terkejut, saat Radit sudah tidak berada di kamarnya.
"Kemana laki-laki itu?. " Ujar Livia.
Livia memeriksa kamar mandi, Radit tidak ada disana, kamar Livia juga nampak rapih, pertanda kamar tersebut sudah di rapikan dari kekacuan semalam.
Livia melangkah keluar dari kamarnya dan semakin terkejut saat Radit ternyata sedang berada di ruang meja makan, meletakkan 2 piring dan segelas susu panas.
"Radit?. " Sapa Livia berjalan ke arah lali-laki itu.
__ADS_1
Radit menengok ka arah Livia, laki-laki itu nampak terkejut dengan kehadiran Livia.
"Livia? Kamu udah bangun?. " Tanya Radit.
"Hmm, kamu ngapain?. " Livia bertanya balik.
"Aku lagi siapin sarapan buat kamu, badan kamu pasti sakit gara-gara semalam, nih aku udah buatin susu buat bayi kita. " Ujar Radit lembut.
Livia justru sedikit bergidik mendapati perlakuan Radit pagi ini yang langsung berubah 180 derajat dari perlakuannya semalam.
"Kamu pasti ada maunya yah? Aku nggak bakalan biarin kamu nyentuh aku sampai kapanpun! Jangan harap sarapan pagi ini bisa buat pikiran aku berubah. " Sinis Livia, menatap penuh curiga kepada Radit.
"Aduh sayang, kenapa sih curigaan mulu, akukan udah janji sama kamu kalau aku bakalan berubah dan perlakuin kamu lebih baik, aku harap hari ini adalah awal yang baik buat kita berdua, oke sayang. " Jelas Radit tersenyum manis ke arah Livia.
Pe jelaskan Radit tersebut justru membuat Livia semakin mencurigainya, Livia kemudian kembali susu yang telah di buatkan oleh Radit. Namun, baunya tetap sama saja, tidak ada yang berubah.
Livia tahu betul bau susu yang di konsumsinya, entah mengapa sejak hamil indera penciuman nya sangat tajam. Meskipun tetap saja bau yang sama itu tidak menjadi patokan, apakah Radit menaruh sesuatu ke dalam susunya atau tidak.
"Kamu ngapain kayak gitu? Kamu kira aku naroh racun di dalam susu kamu?. " Ujar Radit.
"Ya siapa tau aja kami taroh obat bius di dalam sini kan. " Balas Livia.
Radit meraih gelas susu di tangan Livia lalu meminumnya, hal itu sontak membuat Livia tertegun untuk sesaat.
"E ehh. " Pekik Livia.
"Nih, aku nggak kenapa-napakan." Ujar Radit kemudian.
"Hmm ya udah, aku percaya. " Balas Livia meraih kembali gelas susu tersebut dari tangan Radit dan meninggalnya sampai habis.
Bersambung...
__ADS_1