
"Kamu juga sayang, ingat minum susunya rutin, makan yang rutin , jangan stres. " Pesan Bu Silvia untuk terakhir kalinya, sebelum Livia masuk ke dalam mobil yang menjemputnya menuju ke Bandara hari ini.
###
Bandara Internasional Soekarno-hatta.
Livia sudah berangkat bersama dengan Radit dan kedua mertuanya menuju ke Singapura.
Deni terduduk dengan lesu di salah satu bangku yang berada tidak jauh dari bandara sembari memperhatikan pesawat yang baru saja lepas landas di atas langit.
"Huhhhh." Laki-laki itu menghela nafasnya dengan kasar.
Untuk yang kesekian kalinya, cintanya harus di gantung tanpa kejelasan.
Padahal, Deni sangat berharap Livia akan memilihnya dan move on dari masalahnya dengan Radit, namun gadis itu lebih memilih menemani Radit pergi ke luar negeri.
Livia sama sekali tidak mengatakan apa-ala kepadanya, membuat perasaan Radit sangat kecewa.
"Apa aku yang egois?. " Pikir Deni, Merasa dirinya egois karena menginginkan Livia meninggalkan Radit yang saat ini dalam kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Hufffhh."
__ADS_1
Sekali lagi, Deni menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kisah cintanya selalu saja berakhir seperti ini oleh gadis yang sama.
Berkali-kali Radit mencoba membunuh rasa itu, namun berkali-kali juga rasa itu kembali hidup dan mekar di dalam hatinya. Entah sampai kapan dirinya akan terus seperti ini.
"Aku harus Move on. " Gumam Radit, secara spontan, membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya memperhatikan laki-laki itu.
Deni yang merasa malu karena ucapannya barusan di dengar oleh orang lain langsung meninggalkan tempat itu.
"Move on Deni! Perempuan bukan cuma Livia, kamu pasti bisa. " Batin Deni.
Dirinya sadar betul, move onnya kali ini akan sangat sulit namun tidak ada yang tidak mungkin jika dirinya mau berusaha.
###
Setelah hampir dua jam di atas udara akhirnya Livia bersama Radit dan mertuanya akhirnya sampai juga di bandara internasional Changi Singapura.
Tampak orang-orang ramai berlalu lalang, Livia yang mengenakan pakaian santai yang longgar itupun langsung mendorong kursi roda suaminya.
Sementara orang tua Radit berjalan di depannya sembari mencari taksi yang akan mengantarkan mereka ke Apartement yang sudah lebih dahulu di pesan untuk ditinggali sampai beberapa bulan ke depan.
Orang tua Radit naik ke taksi yang berbeda dengan Livia. Livia naik ke taksi berikutnya bersama Radit, saat di dalam perjalanan menuju ke Apartement laki-laki itu terus-terussan bertanya.
__ADS_1
"Livia, aku kenapa bisa sampai seperti ini? Aku kecelakaan?. " Tanya Radit, pertanyaan yang sudah berkali-kali di tanyakan oleh laki-laki itu.
"Iya kamu kecelakaan. " Jawab Livia pelan.
"Kamu nggak apa-apakan? Waktu kecelakaan kita nggak lagi sama-samakan Livia? Bagaimana sama bayi kita? Aku ingat kita nikah karena kamu hamil. " Cecar Radit.
Livia menarik tangan Radit lalu di dekatkan ke perutnya.
"Nggak apa-apa kok, bayi kita baik, sehat, pertumbuhannya juga bagus, yang terpenting saat ini kamu harus cepat sembuh biar kita bisa rawat anak kita ini sama-sama. " Ujar Livia, mengalihkan pembicaraan.
Livia merasa tidak sanggup jika harus terus mengarang suatu kebohongan tentang kecelakaan yang menimpa suaminya itu.
Radit tersenyum memegangi perut Livia.
Tidak sampai dua puluh menit kemudian, mereka berdua sudah sampai di sebuah Apartement yang bangunannya berdiri kokoh.
Appartement Lucky Plaza, yang berada tidak jauh dari rumah sakit Ellizabet tempat Radit akan berobat selama di negara Singapura.
Pak Max, membantu Livia menurunkan Radit dari dalam taksi, mereka berempat bersam-sama memasuki lobi apartment tersebut lalu beberapa waktu kemudian mereka di arahkan ke lantai 2 kamar nomor 501 dan 502.
Orang tua Radit sengaja mengambil kamar yang berbeda. Mengingat Pak Max dan Bu Ariana hanya akan menemani Livia dan Radit selama beberapa hari di negara tersebut. Karena mereka akan kembali ke aktivitasnya masing-masing.
__ADS_1
"Kita sudah sampai. " Ujar Livia sembari membuka pintu kamar 501, tempatnya akan tinggal bersama Radit, sampai laki-laki itu pulih dari sakitnya.
Bersambung...