
Semua akhirnya berjalan sesuai dengan rencana Deni. Beberapa hari setelah bertunagan acara pernikahan langsung di gelar dengan sederhana.
Bukan tanpa alasan, Deni tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktu untuk segera mempersunting Livia, gadis yang sudah setengah mati dirinya perjuangkan.
Hujan badai, panas dan terik tidak pernah menjadi penghalang untuk Deni memperjuangkan cintanya pada Livia, walau beberapa kaki dirinya merasa ingin menyerah tapi sekali lagi harapan datang dan membuatnya kembali bangkit untuk memperjuangkan cintanya pada Livia.
Gadis jutek yang dulu sering berkata kasar dan memperlakukannya dengan kasar pula, kini berubah menjadi gadis manis yang lebih sering malu-malu saat Deni menanyakan perasaannya.
"Kamu cinta nggak sama aku?. " Tanya Deni, pasangan pengantin baru itu kini sedang duduk di taman belakang rumah orang tua Livia.
Livia dengan wajahnya yang merahnpadam sontak menggeleng.
"Ih nggak lah. "
Deni tidak menyerah.
"Beneran nih nggak cinta sama aku? Terus kenapa kamu mau nikah sama aku?. "
"Ya karena terpaksa lah, gimana nggak nikah coba kamu hampir tiap hari datang dan maksa orang tuaku buat nyuruh aku nikah sama kamu. " Balas Livia, berusaha menyembunyikan rait wajah malu-malu nya.
"Oh jadi gitu? Ya udah deh aku pulang aja. " Ujar Deni kemudian berpura-pura beranjak dari tempat duduknya untuk melihat reaksi Livia.
"Pulang aja sana... " Balas gadis itu lagilagi, memalingkan wajahnya ke arah lain.
Deni kemudian melangkah pergi meninggalkan halaman belakang rumah tersebut tanpa sepatah kata dan dengan ekspresi wajah yang datar.
__ADS_1
Sesaat kemudian Livia baru tersadar jika Deni benar-benar sudah tidak ada di dekatnya.
Gadis itu celingak-celinguk menjadi keberadaan suaminya terlebut, namun sejauh matanya memandang Livia tidak menemukan Deni.
"Iihh tega banget sih masak aku di tinggalin beneran..... " Pekik Alea.
Livia mencoba mencari Deni ke sekeliling rumahnya namun tidak mendapati laki-laki itu dimanapun, karena lelah Livia lahirnya menyerah dan memilih untuk memanggik nama laki-laki itu.
"Deniiiiiiiiii, kamu dimana? Iya deh aku cinta sama kamu, aku juga nggak bisa jauh-jauh dari kamu? Ayo dong keluar. " Teriak gadis itu.
Deni yang ternyata bersembunyi di balik pintu belakang rumah itupun sontak keluar karena tidak tega membuat Livia terus-terussan mencarinya.
"Heh aku disini, hahaha. " Ujar Deni membuat pipi Livia kembali memerah malu.
"Jadi kamu beneran mau aku pulang aja nih?. " Goda Deni.
Livia segera menggelengkan kepalanya.
"Nggak!. "
"Ya udah aku pulang yah?. " Ujar Deni tidak berhenti menjahili Livia yang wajahnya terlihat sangat lucu saat kesal.
"Ih di bilang nggak yah nggak, ya udah terserah malas aku di kerjain mulu. " Gerutu Livia dengan kesal berjalan sembari menghentak-hentakkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Deni akhirnya panik sendiri dan dengan cepat mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
Livia duduk di sofa yang menghadap langsung ke halaman samping rumah, dengan wajahnya yang cemberut.
"Hehehee maafin dong Liv... Akukan cuman iseng doang nggak benar-benar mau tinggalin kamu, masak aku tega sih ninggalin istri aku yang cakep kayak gini.... " Goda Deni, mendekati tubuh Livia dan mendekapnya.
Livia hanya diam saja, Diam-diam menikmati pelukan Deni.
Deni berisinisiatif untuk mengecup kepala Livia untuk menenangkan kekesalan gadis itu.
"Kamu udah nggak marah?. " Tanya Deni setelah cukup lama mereka berdua berada di posisi itu.
Livia menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak pernah marah kok. "
"Kalau gitu sekarang kamu liat aku. " Pintar Deni yang seketika di turuti oleh Livia.
Mata mereka bertemu dan saling bertatapan untuk sesaat.
"Aku cinta sama kamu... " Ujar Deni tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Livia tersenyum sangat manis.
"Aku juga cinta sama kamu, Deni. " Balasnya.
Ending
__ADS_1