
Iya nggak masalah, Livia udah jauh lebih baik kok lagian Livia nggak sendirian karena ada bibi di rumah, kalian pergi aja. " Balas Livia.
###
Satu tahun akhirnya berlalu, Livia berhasil menyelesaikan sekolahnya walau dirinya harus belajar mati-matian untuk mengejar ketertinggalannya.
Livia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya dengan homeschooling.
"Selamat yah sayang unu pencapaiannya, semoga kamu bisa meraih cita-cita mu apapun yang kamu harapkan mama dan papa akan selalu mensupport dan memberi kamu dukungan, mama sama papa bangga sama kamu. " Puji bu Silvia pada anak gadisnya yang baru saja menghadiri acara wisuda kekulusannya.
Beberapa pasang mata nampak memperhatikan Livia namun gadis itu tidak ingin peduli. Teman-tenanngenknya yang dulu juga mencoba untuk kembali karna dengan Livia, namun gadis itu sebisa mungkin menghindari mereka.
Orang tua Livia sebenarnya sudah mewanti-wanti agar Livia tidak usah mengikuti acara kelulusan tersebut, namun Livia kekeh dan meyakinkan orang tuanya jika dirinya bisa dan berani untuk pergi keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang.
"Makasih ma, pa tanpa kalian Livia nggak bakalan bisa sampai di tutuk ini. " Ujar Livia oelan, matanya mulai berkacs-kacs. Ia sendiri tidak menyangka bagaimana bisa dirinya yang begitu lemah bisa sampai dan bertahan hingga hari ini.
"Livia.... " Panggil suara seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri keluarga yang sedang bersuka cita itu.
Orang tua Livia saling melemparkan kode saat mengetahui seseorang yang memanggik Livia barusan.
"Nak Deni.. " Gumam Bu Silvia, Deni juga di smabut senyuman hangat oleh Pak Zul.
Sementara Livia nampak canggung, setelah satu tahun dirinya baru bisa kembali bertemu dengan Deni. Laki-laki yang dulu sangat kekeh memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
"Ehmm mama sama papa kayaknya ada urusan sebntar deh sama kepala sekolahmu, kami tinggal kalian buat ngobrol dulu yah bentaran doang. " Ujar bu Silvia yang sangat peka dengan situasi canggung antara Deni dan Livia yang baru saja bertemu setelah 1 tahun lebih.
Livia membagguk pelan dan membiarkan orang tuanya pergi, sementara Deni hanya menanggapinya dengan tersenyum kikuk.
Kini tinggal mereka berdua di tempat itu.
"Livia... " Ujar Deni pelan.
"Hmmm, ada apa Den?. "
"Hmmm apa kabar?. " Tanya Deni berasa basi.
"Baik, kamu sendiri gimana kabarnya?. " Livia bertanya balik.
"Baik juga kok Livia, hmmm maaf yah aku nggak pernah ngunjungin kamu selama satu tahun terakhir. " Ujar Deni, entah mengapa hanya kata-mata itu yang ada di pikirannya saat ini.
Padahal kenyataannya, hampir tiap minggu Deni selalu mencoba untuk mengunjungi Livia namun keberaniannya langsung ciut saat sudah berada di gerbang rumah gadis itu.
Sehingga setiap kali Deni ingin mencoba mengunjungi Livia, rencananya selalu gagal. Deni takut jika dirinya akan kembali mengalami oenolakan, apalagi satu tahun terakhir yang Deni dengar keadaan Livia sedang tidak baik-baik saja. Setelah kematian bayi dan suaminya, Radit.
"Nggak apa kok Den, aku kesepian tau selama kamu nggak ada nemuin aku, aku pikir kamu udah lupa sama aku, maaf yah selama ini kalau sikap aku ke kamu kadang kasar banget. " Ujar Livia tulus, sudah lama ia ingin meminta maaf secara langsung kepada Deni namun Livia sama sekali tidak memiliki kesempatan.
Bahkan untuk sekedar mengirimkan pesan pada Deni, Livia merasa tidak pantas karena perbuatannya dulu yang pastinya sering membuat Deni sakit hati.
__ADS_1
Suasana di antara keduanya kembali hening. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Hingga pengumuman untuk kembali memasuki gedung aula untuk pelaksanaan wisuda SMA mereka kembali terdengar.
"Ehcitu udah ada panggilan lagi, aku masuk duluan yang Den. " Ujar Livia.
Deni yang mendengar hal itu sontak menahan tangan Livia.
"Eh... "
Deni buru-buru melepaskan genggaman tangannya.
"Ah maaf Livia, aku nggak sengaja eh maksud aku hmm maaf kalau aku lancang, boleh nggak besok-besok aku mampir ke rumah kamu?. " Ujar Deni, memberanikan dirinya.
Livia nampak berpikir untuk sesat, namun gadis itu kemudian mengangguk.
"Boleh kok, datang aja aku tunggu yah... " Balas Livia.
Gadis itu pun berlalu pergi memasuki aula, sementara Deni bersorak kegirangan.
"Aku nggak bakalan nyia-nyian kesempatan ini, selamat datang untuk kehidupan baru dan masa depanku yang lebih cerah.... " Pekik Deni pandangannya tidak lepas dari Livia yang kini sudah menghilang masuk ke dalam gedung aula tersebut.
Sedangkan Livia diam-diam mengulum senyumnya, ada perasaan aneh yang menghelitik di dalam dirinya saat mendengar Deni akan kembali berkunjung ke rumahnya.
Bersmabung...
__ADS_1