
"Raf, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Raffa yang baru saja selesai mandi dan berpakaian menatap ke arah Mika dengan intens.
Tanpa bicara, pria itu akhirnya mulai mendekati Mika yang kini tengah duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya itu.
"Bicara apa?" tanya Raffa yang sudah menyusul Mika duduk di sofa yang sama.
Sebelum mengutarakan unek-unek yang selalu bersemayam dalam hatinya itu, Mika menghela napas terlebih dahulu, lalu menatap suaminya itu dengan intens.
"Apa yang tadi kamu obrolin sama Nayna, saat aku sama Om Arkan pergi, aku melihat sebelum kedatangan kami, kalian terlihat tengah berbicara sesuatu dan terlihat begitu penting!" cerca Mika dengan tatapan lurus pada Raffa.
"Aku tidak membicarakan hal yang begitu penting, aku hanya mengucapkan selamat atas kehamilan Nayna," terang Raffa dengan wajah santainya.
Meskipun masih ada keraguan dalam hatinya itu, tapi Mika memilih menganggukkan kepalanya. Lalu beralih, ke pembahasan lain.
"Apa kamu merasa ada yang aneh dengan hubungan kita ini?"
"Maksudnya?" tanya Raffa yang tidak paham.
"Perlu kamu tau Raf, meskipun pernikahan kita tidak kita rencanakan sebelumnya, tapi aku benar-benar menganggap serius pernikahan ini." Mika menatap Raffa dengan tegas.
"Aku juga sama, tidak menganggap pernikahan ini hanya permainan semata," sahut Raffa dengan yakin.
"Tapi aku tidak bisa melihat itu dihubungan kita ini Raf. Oke, aku tau mungkin kita masih butuh waktu untuk saling mengenal diri kita masing-masing lebih jauh–" Mika menghentikan ucapannya sejenak.
"Tapi, aku merasa kamu tidak sungguh-sungguh memberikan ruang untuk kita menjalani pernikahan ini dengan normal. Aku tau kamu memang selalu bersikap baik padaku, bersikap seolah kamu adalah seorang suami terhadap istrinya, tapi ... aku dapat melihat dengan jelas, kamu masih belum berusaha membuka hati kamu untukku dan untuk hubungan ini."
Raffa menatap Mika dengan intens, apakah benar dia seperti itu? Tapi bukankah dia sudah berusaha semaksimal mungkin bersikap selayaknya suami, tapi untuk saing berhubungan int*m dia memang masih belum terlalu memikirkan hal itu.
"Aku memang tidak pernah menganggap hubungan ini main-main, tapi aku rasa kita masih butuh waktu untuk melangkah lebih jauh lagi."
"Bukan kita Raf, tapi kamu. Aku siap jika kamu memang ingin kita untuk serius dalam menjalani hubungan ini, tapi aku melihat kamu tidak seperti itu!" tekan Mika.
"Sebenarnya apa yang membuat kamu ragu Raf? Apa karena kamu masih memiliki perasaan pada Nayna, mantan kamu yang jelas-jelas sudah memiliki kehidupannya itu?"
__ADS_1
"Itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan, apa yang aku rasakan saat ini memang ada hubungannya dengan Nayna, tapi itu tidak seperti yang kamu pikirkan," sahut Raffa berusaha memberikan pengertian pada Mika.
"Terus apa Raf?" tanya Mika dengan gemas, dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir pria di depannya itu.
Sebenarnya apa yang pria itu sembunyikan darinya, katakanlah dia orang yang tidak sabaran, tapi dia hanya manusia biasa, dia juga butuh kepastian yang nyata akan hubungannya itu.
"Aku hanya ingin kita lebih saling mengenal lagi untuk hubungan kita ini, aku tidak ingin kita menyesal di kemudian hari."
"Bagaimana kita saling mengenal, kalau kamu saja tidak benar-benar membuka diri kamu untuk aku kenal lebih jauh lagi!"
Raffa hanya diam, dia dilanda kebingungan saat ini, dia takut jika dia mengatakan hal tentang Rezvan pada Mika, wanita itu malah akan semakin memiliki pikiran buruk terhadapnya.
Namun, jika dia terus menyembunyikan hal itu, maka pasti akan semakin banyak kesalahpahaman yang terjadi kedepannya di antara mereka itu.
"Kamu tau apa yang aku pikirkan tiap hari tentang kamu, Nayna dan anaknya, aku selalu berusaha tidak berpikiran buruk tentang kalian, tapi aku tidak bisa, pikiran-pikiran buruk itu, terus menari-nari di kepalaku!" cerca Mika menatap Raffa yang masih bergeming di tempatnya.
Mika menatap datar ke arah di depannya, berusaha mengatur napasnya yang terasa tidak beraturan itu.
Sementara Raffa masih diam, dia masih menimbang apa yang harus dia katakan pada Mika.
"Baiklah, mungkin aku terlalu memaksakan diri, seharusnya aku melakukan apa yang kamu ucapkan sebelumnya, seharusnya aku membiarkan semuanya mengalir bagaikan air."
"Tidak seharusnya aku terburu-buru seperti itu, kamu lupakan saja apa yang aku katakan tadi itu, kita bisa bersikap seperti biasanya, oke," tutur Mika yang sudah merasa lebih tenang.
Setelah setiap unek-uneknya keluar, dia merasa lebih baik dan bisa kembali berpikir dengan jernih, juga sadar jika tidak seharusnya dia mengatakan terlalu banyak hal seperti itu pada Raffa.
"Maaf untuk setiap ucapanku tadi, kamu tidak marah 'kan?" Mika menatap Raffa yang kini tengah menatapnya dengan dalam.
"Ya udah kalau gitu, aku mau ke dapur ya, mau bantuin Bibi siapkan makanan, kamu segeralah turun," tutur Mika lagi langsung beranjak dari tempat duduknya.
Pikirannya benar-benar kacau barusan, apalagi melihat Raffa dan Nayna yang terlihat berbicara dengan serius saat di restoran sebelumnya.
Tidak seharusnya aku meledak-ledak seperti itu, gimana kalau apa yang aku katakan itu malah menyinggung Raffa ... ya ampun Mika, kamu benar-benar bodoh. Gerutu Mika dalam hatinya sambil melangkah akan keluar dari pintu kamar itu.
"Rezvan adalah anakku!"
__ADS_1
Mika yang baru beberapa langkah dari sofa itu membatu di tempat, ketika mendengar apa yang baru saja dia dengar dari Raffa.
Sementara Raffa mendudukkan kepalanya tidak berani menatap Mika, dia tidak siap melihat tatapan kecewa dari wanita yang sebenarnya sudah mulai bisa masuk ke sudut hatinya, meskipun belum sepenuhnya.
Raffa mulai mengangkat kepalanya, menatap kosong ke arah depannya, tanpa melihat ke arah Mika yang kini sudah membalikkan badan, menatapnya dengan heran.
"Aku adalah ayah kandung Rezvan, yang artinya Rezvan adalah anak aku sama Nayna ... empat tahun yang lalu, karena penyakitku kambuh dan sempat mengalami koma beberapa minggu, Om Arkan terpaksa mengirim aku untuk melakukan pengobatan di rumah sakit Singapore."
"Karena kejadian itu, aku sama Nayna lost kontak, hingga Nayna hamil dan tanpa diduga bertemu dengan om aku, hingga mereka pun menikah," terang Raffa padat dan jelas.
Dia menatap Mika dengan intens, ada kesedihan yang tersirat dari pancaran mata itu, mengenang kejadian itu, memang masih meninggalkan sakit tersendiri dalam hatinya.
"Aku saat itu terlambat untuk tanggung jawab terhadap Nayna dan calon anak kami." Raffa tersenyum ketir mengingat masa itu.
Penyesalan yang mungkin akan selalu dia ingat untuk selamanya, tapi dia ingin berusaha menebus penyesalan itu dengan bertanggung jawab terhadap anaknya saat ini.
"Aku tau, kamu pasti sudah salah paham, tentang perhatianku terhadap Rezvan saat ini, tapi aku ragu untuk mengatakan hal itu padamu secara terang-terangan," tutur Raffa lagi yang sudah memberanikan dirinya untuk menatap Mika saat ini.
"Apakah kamu masih ingin, bersama denganku yang memiliki masa lalu seperti itu?" tanya Raffa menatap Mika dengan serius.
Mika berjalan mendekati Raffa, dia berdiri di samping Raffa lalu menganggukkan kepalanya.
"Itu hanya masa lalu kamu, setiap orang punya masa lalu, aku tidak berhak menghakimimu hanya karena masa lalumu itu," sahut Mika dengan serius.
Antara senang, campur syok mendengar apa yang Raffa ucapkan itu, dia tidak pernah menyangka jika Raffa dan Nayna sampai memliki anak seperti itu.
Raffa tersenyum mendengar hal itu, dia kemudian berdiri di depan Mika dan menatapnya dengan intens.
"Aku juga ingin jujur padamu, kalau sesungguhnya aku belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu itu, meskipun aku sudah berusaha."
"Maka sudah tugasku untuk membantumu lepas dari bayang-bayang masa lalu itu, dan kita akan melangkah menuju masa depan kita bersama."
Mika segera menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Raffa, Raffa pun secara perlahan mengangkat tangannya, lalu membalas pelukan itu.
"Terima kasih," ucap Raffa dengan serius.
__ADS_1
"Belum saatnya untuk mengucapkan itu, kamu bisa mengucapkan kata itu, jika aku sudah berhasil melaksanakan tugasku," sahut Mika menengadah, menatap Raffa dengan seutas senyum di bibirnya.