
Tiga tahun kemudian ....
"Om, Om!" panggil seorang anak laki-laki memanggil seorang pria yang kini masih asyik dengan mimpinya itu.
"Bangun, Om!" ucap anak itu sambil menggerakkan tubuh pria yang dipanggil Om itu.
"Bentar lagi Rez, Om masih ngantuk," gumam pria yang tidak lain adalah Raffa itu, sambil menaikan selimut yang dipakainya.
"Om bangun, Mama sama Papa hali ini pulang," ucap anak berusia tiga tahun itu dengan nada yang masih cadel.
"Hemmm," gumam Raffa yang masih belum membuka matanya.
Rezvan yang merasa kesal karena Raffa masih mengabaikannya pun, naik ke atas tubuh pria yang tengah tertidur dengan posisi tengkurap itu, dia duduk di punggung Raffa lalu bergerak dengan asal agar pria itu terbangun.
"Oke, oke, Om bangun," sahut Raffa pada akhirnya karena merasa terganggu oleh anaknya itu.
Dia menurunkan Rezvan dari punggungnya, lalu mendudukkan dirinya dengan memangku Rezvan yang kini telah memasang wajah cemberutnya.
"Sekarang kamu mau apa hemmm?" tanya Raffa mengusap puncak kepala anaknya itu, sambil sesekali menguap.
Sebenarnya dia masih mengantuk, semalam setelah membantu Rezvan tidur, dia mengerjakan sesuatu, hingga larut malam.
"Gimana kalau kita mandi dulu, setelah itu kita telepon Papa sama Mama kamu, tanyakan mereka sudah berangkat apa belum," tawar Raffa, membujuk anaknya yang tengah merajuk itu.
Rezvan mengangguk dengan wajah yang masih ditekuk, Raffa pun turun dari ranjang dan menggendong anaknya itu, berniat untuk ke kamar mandi.
Baru saja dia dan Rezvan akan menuju ke kamar mandi, pintu kamar itu diketuk dari luar, hingga membuat Raffa mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi.
Dia berbalik dan membuka pintu kamar yang menjadi tempatnya tidur, selama seminggu berada di rumah omnya itu.
"Mas, maaf mengganggu, saya mau mandiin dulu Den Rezvan," ucap Indah yang kini berdiri di depan pintu kamarnya itu.
"Biar Rezvan mandi sama aku lagi aja Mbak," ucap Raffa pada Indah.
"Tapi Mas, apa tidak merepotkan Mas Raffa, selama seminggu ini Mas Raffa sudah mengurus Den Rezvan," sahut Indah merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Mbak," sahut Raffa.
"Baiklah kalau gitu, saya mau bantuin Bi Karti siapkan sarapan dulu Mas," pasrah Indah.
"Iya Mbak." Raffa pun mengangguk dan kembali memasuki kamarnya.
Dia melanjutkan niatnya yang sempat tertunda, yaitu mandi bersama dengan Rezvan, dia dengan cekatan mengurus anaknya itu selama seminggu ini.
Nayna dan Arkan memang sedang melakukan perjalanan bisnis, sekaligus bulan madu, dan selama mereka tidak ada, Raffa menawarkan diri untuk menjaga Rezvan.
Karena saat ini Rezvan sudah cukup besar, tidak terlalu membutuhkan Nayna lagi, jadi Arkan dan Nayna pun menyetujui tawaran Raffa itu, dengan syarat Raffa harus tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu minta pada Papa kamu?" tanya Raffa di sela-sela kegiatannya, menyabuni seluruh tubuh Rezvan.
Anak itu menatapnya dengan mata polosnya, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Lesvan, minta adik bayi sama lobot yang setinggi ini," ucap anak itu mengukur tubuhnya dengan wajah polosnya.
"Kenapa kamu minta adik bayi?" tanya Raffa yang kini sudah mulai membilas tubuh balita itu.
"Bial Lesvan ada teman main," sahut Rezvan.
"Bukannya kamu juga punya teman, Freya," sahut Raffa.
"Tidak mau, Fleya cengeng, dia juga nakal seling lebutin mainan Lesvan," sahut Rezvan menggeleng cepat, saat Raffa membahas tentang anaknya Ivan dan Fara yang sering main ke sana.
Mendengar celotehan anaknya itu, Raffa hanya terkekeh gemas, dia kemudian menyelesaikan ritual mandi mereka, lalu memakaikan baju pada Rezvan, juga pada dirinya.
...***********...
Siang harinya, Rezvan dan Raffa sedang berdiri di teras rumah itu, menanti kedatangan si tuan rumah yang sebentar lagi akan sampai dari perjalanan mereka.
"Itu Mama," tunjuk Rezvan dengan berjingkrak saat mobil yang ditumpangi oleh Arkan memasuki gerbanng rumahnya.
"Iya," sahut Raffa tersnyum, sambil mengusap rambutnya.
"Mama!" panggil Rezvan saat Nayna turun dari mobil.
Apalagi ini pertama kalinya, mereka pergi hanya berdua, karena biasanya, jika Arkan ada perjalanan bisnis dan ingin mengajak Nayna jalan-jalan, maka Rezvan pasti ikut.
"Pangeran kecil mama, mama sangat merindukanmu," ucap Nayna menggendong anaknya sambil mendaratkan beberapa kecupan di wajah anaknya itu.
"Aku juga melindukan Mama, tidak ingin jauh lagi dali Mama," keluh Rezvan dengan wajah melasnya.
"Apa kamu tidak merindukan papa juga?" tanya Arkan saat sudah berada di dekat Nayna dan Rezvan.
Rezvan beralih pada papanya itu, lalu mengulurkan tangannya, minta digendong pada Arkan, dengan senang hati Arkan pun mengambil alih dirinya lalu menggendongnya.
"Kamu tidak nakal 'kan selama Mama sama Papa pergi?" tanya Arkan.
"Tidak, Lesvan anak yang baik," sahut Rezvan menggeleng dengan cepat.
"Baguslah," sahut Arkan tersenyum.
"Ayo kita masuk dulu, nanti hadiah buat kamu biar dibawa sama sopir masuk ke dalam," ucap Nayna.
"Yes hadiah!" ucap Rezvan dengan antusias.
Raffa yang menyaksikan kehangatan keluarga kecil itu ikut tersenyum, dia senang melihat kehidupan Arkan, Nayna dan Rezvan selalu baik-baik saja.
__ADS_1
"Ayo masuk Sya," ajak Arkan pada Raffa.
"Iya Om." Raffa mengangguk dan mengikuti langkah pasutri itu masuk kembali ke dalam rumah.
"Dia tidak bikin kamu kerepotan 'kan Raf?" tanya Nayna pada Raffa sambil memperhatikan anaknya yang tengah sibuk membuka mainan yang mereka bawa, bersama dengan Arkan.
"Tidak sama sekali, meskipun sering merajuk kalau aku tidak cepat-cepat melakukan apa yang dia inginkan," kekeh Raffa menjawab pertanyaan Nayna itu.
"Dia memang suka merajuk, kalau mau apa-apa harus langsung dituruti," sahut Nayna yang ikut terkekeh.
Raffa mengangguk setuju dengan ucapan Nayna itu, dia pun menatap anaknya yang kini terlihat bahagia dengan hadiah yang Arkan bawa, hadiah yang sesuai dengan keinginannya.
Tak lama kemudian, Arkan pun ikut bergabung dengan mereka, dia duduk di samping Nayna, meminum minumannya terlebih dahulu karena merasa haus setelah perjalanan cukup jauh.
"Gimana skripsi kamu Sya?" tanya Arkan menatap Raffa.
"Sudah selesai Om," sahut Raffa.
"Baguslah, kamu bisa mengejar keterlambatan kamu," ucap Arkan dengan lega.
Kuliah Raffa memang sempat tertunda, karena dia mengambil cuti akibat sakit, sekitar satu tahun, tapi Arkan cukup lega keponakannya itu bisa mengejar keterlambatanya, hingga dia bisa segera menyelesaikan pendidikan s1-nya.
"Iya Om, aku ingin segera lulus dan bekerja," sahut Raffa dengan semangat.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri kamu untuk bekerja dulu, jangan sampai kamu terlalu lelah hingga menyebabkan kesehatanmu terganggu lagi," tutur Arkan mencoba menasehatinya.
"Aku sekarang akan lebih memperhatikan kesehatanku Om, karena aku memiliki tanggung jawab," sahut Raffa tersenyum menatap anaknya itu.
Arkan hanya mengangguk dengan ucapan Raffa itu, dia memang tidak membatasi Raffa terhadap Rezvan, jika Rezvan bisa menjadi sumber semangatnya, maka dia akan mendukungnya.
"Mas aku pergi ke kamar dulu ya," pamit Nayna dari tadi terus menguap.
"Iya, pergilah istirahat, biar aku yang jagain Rezvan," sahut Arkan.
"Iya." Nayna pun mengangguk, dia kemudian beralih menatap Raffa.
"Raf, aku pergi istirahat dulu ya," pamit Nayna.
"Iya, Nay." Raffa mengangguk sambil tersenyum tipis.
Nayna pun pergi ke kamarnya, meninggalkan kedua pria itu untuk beristirahat, juga meninggalkan anaknya yang masih asyik dengan mainan barunya.
...----------------...
Hay, hay semuanya š¤
Berhubung banyak yang minta cerita ini lanjut sampai ke kisah Raffa, jadi In sya Allah bakal aku lanjut, semoga kalian masih betah ya di siniš
__ADS_1
Selamat malam dan selamat beristirahatā¤ā¤ā¤