Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 31


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Raffa, untuk melakukan serangkaian kemoterapi, Arkan dengan setia memamaninya, menunggu di sampingnya, sebagai bentuk suport untuk Raffa.


"Om, aku udah tau semuanya," ucap Raffa secara tiba-tiba, pada Arkan yang tengah berdiri di samping ranjang rumah sakit tempatnya terbaring.


"Apa yang kamu ketahui?" tanya Arkan dengan kening mengerut dan menatap Raffa penuh keheranan.


"Kalau anak yang pacar aku kandung itu, benar-benar anakku," ucap Raffa dengan yakin.


"Bagaimana kamu bisa tau?"


Raffa menatap Arkan dan tersenyum, pada pria yang sangat dia sayangi itu, pria yang telah menggantikan sosok orang-tua dalam hidupnya, selama beberapa tahun ini.


Pria yang selalu mendahulukannya, dibanding dirinya sendiri, mengingat tentang kebaikan-kebaikan Arkan, membuat Raffa merasa beruntung memilikinya, di saat dia tidak memiliki orang-tua lagi.


Setelah beberapa saat tidak bersuara, akhirnya Raffa pun mulai mengeluarkan lagi suaranya itu dan menceritakan apa saja yang baru diketahuinya.


"Tadi sebelum ke sini, aku menyempatkan diri untuk menemui dokter yang menanganinya, aku mendesak dokter itu untuk mengatakan, kapan pacar aku datang memeriksa kandungan untuk pertama kalinya dan di umur ke berapa kandungan itu, saat dia datang ke sana."


"Dokter pun akhirnya mengatakan semuanya, setelah mendengar jawaban dari dokter itu, akhirnya aku mencocokkan usia kandungannya dan kejadian yang terjadi di antara kita itu," terang Raffa dengan wajah yang terlihat berbinar bahagia.


Ya, dia memang menemui dokter kandungan yang menjadi dokter di rumah sakit, rumah sakit tempat Nayna biasa memeriksa kandungannya.


Arkan hanya diam, memperhatikan setiap ekspresi Raffa yang terlihat bahagia, tapi ada kesedihan yang juga tergambar di wajahnya itu.


"Tapi sayang, saat ini dia sudah menikah, aku yakin dia menikah pasti karena terpaksa, dia pasti kebingungan dan ketakutan saat itu, hingga dia menikah begitu saja," sambungan Raffa dengan wajah yang berubah jadi sayu.


"Wajar jika saat ini dia sangat marah padaku, aku tidak ada untuknya saat dia dalam posisi paling membutuhkan kehadiran aku, Om, aku benar-benar ber*ngsek ya, meninggalkan dia gitu aja, membiarkan dia menghadapi masalah itu sendirian!" lirih Raffa menatap kosong, pada langit-langit ruangan yang di dominasi warna putih itu.


Menyesal, mungkin itulah yang saat ini ada dalam benak Raffa, dia menyesal kenapa, saat itu kondisinya harus drop, dia teramat menyesal, kenapa dia tidak ada di saat keadaan seperti itu, hingga membuat wanita yang dia cintai menderita sendirian.


Bagaimana cara dia untuk menebus penyesalan itu, akankah dia dapat kesempatan kedua, agar dia dapat memperbaiki keadaan yang semula sudah kacau, dalam benak Raffa, kini dipenuhi oleh kata penyesalan dan pertanyaan, tentang bagaimana cara dia menebus kesalahannya itu.


"Kamu sebaiknya jangan terlalu memikirkan hal itu terlebih dahulu, sekarang fokuslah dulu sama kemo yang akan kamu lakukan ini, masalah itu nanti bisa kamu pikirkan lagi, jika kondisi kamu sudah lebih baik lagi," ucap Arkan setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


"Iya Om," sahut Raffa menganggukkan kepala patuh.


Pintu ruangan itu pun terbuka, membuat mereka segera mengalihkan atensi mereka ke arahnya dan seorang suster pun, memasuki ruangan itu dengan tersenyum ramah pada Arkan dan Raffa.


"Selamat siang Pak Arkan, Mas Raffa," sapa Suster itu dengan ramah.


"Siang Sus," sahut Arkan dan Arkan serentak.


"Udah mau dimulai ya Sus?" tanya Arkan melihat ke arah Suster yang sudah mulai menyiapkan peralatan-peralatan untuk kemoterapi itu.


"Iya Pak, kita harus segera memulainya," sahut Suster dengan memgangguk.


"Baiklah, Om akan tunggu kamu di luar dulu ya," ucap Arkan beralih menatap pada Raffa.


"Iya Om."


Arkan pun mulai berjalan keluar dari ruangan itu, dia duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan, menunggu berlangsungnya kemoterapi Raffa.


Semakin lama kondisi Raffa, tidak terlalu baik, karena kanker yang diderita Raffa, dari beberapa tahun yang lalu itu semakin menyebar.


Apa yang harus dia lakukan sekarang, apalagi saat ini Raffa harus bertanggung jawab pada calon anaknya yang masih ada dalam kandungan pacarnya itu, semakin larut dalam pikirannya, rasanya kepala Arkan terasa semakin berat.


Meskipun dia sendiri belum tahu, apa yang harus dia lakukan untuk saat ini, tapi satu yang dia yakini, jika Raffa benar-benar tidak bisa bertahan lebih lama lagi, maka itu artinya, dialah yang harus mengambil alih tanggung jawab pada calon anak Raffa itu.


Tanggung jawab dalam artian membiayai kehidupan ansk itu, hingga dia dewasa kelak.


"Apa aku harus mulai mencari tau tentang pacar Raffa itu?" gumamnya pada dirinya sendiri.


Entah apa yang akan terjadi, jika sampai Arkan tahu, jika wanita yang menjadi pacar dari keponakannya itu, adalah wanita yang sama dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya.


Dia memang sudah tahu, jika Raffa sudah memiliki pacar, bahkan Raffa bercerita jika dia menyukai pacarnya sudah sejak lama, tapi baru diberi keberanian untuk mendekati pacarnya itu saat dia sudah akan lulus dari sekolahnya.


Hanya saja, dia tidak pernah bertanya lebih jauh tentang pacar Raffa sebelumnya, karena dia tidak mau membuat keponakannya tidak nyaman, jika dia terlalu mencampuri urusan pribadinya itu.

__ADS_1


Arkan memang tidak pernah melarang atau membatasi hal itu, dia hanya memberi pengarahan pada keponakannya, agar tidak keterlaluan dalam berpacaran atau pun bergaul.


Sungguh, dia tidak pernah menyangka, jika kejadian seperti ini akan terjadi kepada ponakannya itu, semua itu benar-benar di luar dugaannya.


Di tengah lamunannya itu, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dia melihat, ternyata Nayna'lah yang menghubunginya, tanpa menunggu lagi, pria itu pun segera menjawab teleponnya.


"Kenapa Nay?" tanya Arkan saat menerima telepon itu.


'Om, aku mau ke rumah orang-tuaku boleh gak? Tadi Mama nelepon, minta aku buat datang ke sana.'


"Ya, pergilah."


'Tapi kalau aku nginep di sana boleh gak Om?'


"Boleh."


'Baiklah kalau gitu.'


Setelah itu panggilan itu pun terputus, Arkan kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya, saking teralu banyaknya yang ada dalam pikirannya, dia tidak sadar jika baru saja berbicara dengan singkat pada Nayna.


Karena hal itu, mambuat Nayna yang saat ini sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang-tuanya, berpikiran yang tidak baik, dia menjadi berpikiran negatif terhadap Arkan.


Dia juga bertanya-tanya, apa yang tengah Arkan lakukan, hingga seperti orang yang tengah malas berbicara dengannya.


"Mungkin Om Arkan lagi sibuk dengan pekerjaannya saja, kenapa kamu terlalu banyak berpikir sih, Nay," ucap Nayna pada dirinya sendiri.


Nayna pun segera keluar dari rumahnya, dia memasuki mobil yang mamanya kirim untuk menjemputnya ke sana, jujur saja, perasaannya sedikit tidak karuan, karena ini untuk pertama kalinya, dia akan kembali ke rumah, semenjak dia menikah dan pergi dari rumah tempatnya tumbuh dulu.


...----------------...


Masih betah gak nih di sini, kalau masih betah, yuk gerakin jempolnya, buat kasih aku semangat lagi🤭


Buat yang baru mampir ke cerita ini, selamat datangšŸ™ semoga suka sama cerita kehaluanku inišŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2