Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 87


__ADS_3

Mika secara perlahan mengambil benda yang tidak lain adalah tespect itu, belum sempat dia berdiri dengan benar sebuah tamparan sudah mengenai pipi kirinya.


Akibat dari dirinya yang belum berdiri dengan benar, menyebabkan tubuhnya limbung saat mendapat tamparan itu, dia menatap papanya dengan nanar.


Antara sakit yang diakibatkan tamparan di pipinya itu, juga malu karena saat ini mereka sudah jadi tontonan seluruh pengunjung di sana.


"Ayo ikut pulang!" geram Tirta, papanya yang langsung menarik tangannya dengan kasar, tidak memedulikan ringisan dari Mika itu.


"Tidak mau Pa, aku tidak mau pulang," ucap Mika berusaha menahan langkahnya agar tidak terseret oleh Tirta.


Namun, tenaga Tirta dua kali lebih besar darinya, hingga Mika pun terus mengikuti langkah Tirta dengan terseok-seok.


"Pa, sekarang aku sedang hamil jadi Papa tidak bisa memaksa aku untuk melakukan apa yang Papa inginkan lagi," ucap Mika dengan suara lantang.


Tirta langsung menghentikan langkahnya, dia berbalik dan semakin menatap Mika dengan tajam, bak seekor singa yang tengah memindai mangsanya.


"Papa tidak bisa maksa aku lagi, buat mengandung dan melahirkan anak orang lain. Papa tidak bisa maksa aku buat menyewakan rahim aku untuk membantu masalah perusahaan Papa lagi," ucap Mika yang kini sudah berganti dengan suara pelan, karena tidak ingin ada orang yang mendengar ucapannya itu.


Ya, memang itulah alasan kenapa Mika pergi dari rumah, dia kabur karena papanya itu berencana menyewakan rahimnya, untuk pengusaha yang ingin memiliki anak, tapi istrinya tidak bisa hamil.


Tirta yang memang saat ini tengah mendapatkan masalah dengan usahanya itu pun, menyarankan agar Mika menjadi rahim sewaan untuk pengusaha itu dengan syarat pengusaha itu mau membantu masalah di perusahaannya.


"Kurang ajar!"


Tirta yang sudah gelap mata itu kembali marah dengan apa yang baru saja Mika ucapkan itu, hingga tanpa segan dia kembali mengangkat tangannya agar dapat menampar Mika kembali.


Mika yang melihat pergerakan papanya itu menciut, dia memejamkan matanya dengan erat, siap untuk menerima serangan dari papanya itu.


Namun, setelah beberapa detik kemudian, dia tidak merasakan apa pun, hingga akhirnya dia pun membuka matanya dan melihat Raffa yang kini tengah menahan tangan Tirta yang masih di udara.


"Apa anda tidak malu Pak, berlaku kasar pada anak Bapak di tengah keramaian seperti ini," ucap Raffa menatap Tirta.


"Jangan ikut campur, ini urusan aku dan anakku, kamu sebagai orang luar tidak perlu bersikap sebagai pahlawan," sinis Tirta pada Raffa.


"Iya Pak, kasihan anaknya dikasarin kakak gitu, kenapa tidak bicara baik-baik aja sih," sahut pengunjung lain yang tengah memperhatikan mereka.


"Raf, pergilah," ucap Mika sambil menatap Raffa.


Dia tidak ingin Raffa mendapatkan masalah hanya karenanya, dia juga tidak ingin Raffa malu karena keributan antara dirinya papanya itu.


"Kalian saling kenal?" Tirta menatap Mika dan Raffa secara bergantian dengan tatapan yang masih belum melembut.

__ADS_1


"Tidak!"


"Ya!"


Raffa dan Mika menjawab dengan bersamaan, meskipun jawabannya berbeda, Mika menatap tajam Raffa sambil menggeleng, memberikan isyarat agar dia tidak ikut campur.


"Tidak kami tidak salin kenal, aku baru kenal dia kemarin," bohong Mika.


"Kita saling kenal, bahkan kita juga sudah pacaran," ucap Raffa tanpa ragu sedikit pun.


Mika kembali menatapnya dengan tajam sambil menggeleng, memohon agar Raffa tidak asal bicara lagi.


"Jadi dia hamil karenamu hah!" bentak Tirta sambil melayankan tangannya, berusaha menonjok Raffa.


"Tidak Pa! Dia bukan pacarku, aku hamil anak orang lain," ucap Mika menahan tangan Tirta agar tidak memukul Raffa.


"Diam kamu! Kamu sudah menghancurkan rencanku, dasar anak tidak berguna!" murka Tirta, menghempaskan tangannya dari genggaman Mika dengan kasar.


Baru saja pria yang sudah tidak muda lagi itu akan kembali memberikan umpatan pada Raffa dan Mika. seorang petugas keamanan melerai mereka.


"Kalian telah mengganggu pengunjung lain, silakan ikut saya ke kantor."


"Tidak perlu Pak, kita akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan," sahut Raffa dengan cepat, karena tidak ingin masalahnya semakin runyam.


"Baik Pak, maaf sudah mengganggu acara makan kaliaan semuanya," sahut Raffa dengan sopan pada pihak keamanan di sana, juga pada pengunjung.


Sementara Tirta sudah pergi begitu saja, dengan wajah angkuhnya, Raffa pun mengikuti ayah dan anak itu keluar dari restoran itu.


Ahkirnya mereka menuju ke kendaraan mereka masing-masing, saat sampai di parkiran, Tirta tanpa kelembutan, menarik tangan Mika dan menyeretnya untuk memasuki mobil.


"Lepaskan aku Pa, aku tidak mau pulang bareng Papa," ucap Mika berusaha berontak.


"Kamu harus pulang bersamaku," ucap Tirta.


"Tidak mau!"


"Pak, apa anda tidak bisa bicara baik-baik," ucap Raffa yang tidak suka melihat perlakuan kasar dari Tirta itu.


"Jangan ikut campur, gara-gara kamu anakku hamil dan dia tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan," ucap Tirta menatap Raffa.


"Pokoknya kamu harus ikut pulang dan gugurkan kandunganm itu, lalu lakukan apa yang aku perintahkan," ucap Tirta kini beralih pada Mika.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Raffa tiba-tiba saja merasa jantungnya berdegup dengan sangat cepat, dia seolah melihat gambaran Nayna yang pasti mengalami hal yang tidak beda jauh dari Mika saat ini.


Apakah seperti iyu juga apa yang terjadi pada Nayna, saat pertama kalia ketahuan jika dia mengandung Rezvan. Batin Raffa yang tiba-tiba saja merasa iba dengan keadaan Mika.


Apalagi dia mendengar pembicaraan antara Mika dan Tirta sebelumnya, pria itu beranggapan jika Mika benar-benar hamil, sehingga merasa iba dengan apa yang terjadi itu.


"Saya akan menikahi Mika!" tegas Raffa membuat Tirta yang akan memasuki mobilnya terhenti.


"Tidak perlu, aku tidak butuh itu," tolak Tirta yang sudah bulat untuk melanjutkan niat awalnya, yaitu menyewakan rahim Mika untuk menyelamatkan perusahaannya.


"Saya akan membantu perusahaan anda!"


"Apa! Kamu mau membantu perusahaanku, yakin bisa!" kekeh Tirta meremehkan Raffa.


"Saya akan meminta Om saya untuk membahas masalah perusahaan bersama anda," ucap Raffa yang tidak memedulikan tatapan meremehkan dari Tirta itu.


Melihat keyakinan Raffa, Tirta tersenyum smirk, dia ingin melihat apa Raffa akan melakukan apa yang dikatakannya itu atau pria yang dia anggap anak kemarin sore itu hanya omong kosong saja.


"Baiklah, kamu bisa datang ke ... itu alamat rumahku, datanglah secepatnya, karena kalau tidak aku akan menggugurkan kandungan Mika," ucap Tirta yang menyebutkan alamat rumahnya,


Setelah mengatakan hal itu, dia pun melanjutkan niatnya memasuki mobilnya.


Sementara itu Mika hanya diam, dia tidak mengatakan yang sebenarnya saat mendengar apa yang Raffa ucapkan itu, dia saat ini ingin egois demi keselamatan dirinya dan demi cintanya pada Raffa.


Dia tahu Raffa mengucapkan itu hanya rasa kasihan, tapi mendengar Raffa akan menikahinya, membuat sudut di hatinya merasa senang.


"Awas aja, kalau laki-laki itu tidak menepati janjinya, kamu harus menggugurkan kandunganmu dan menjadi rahim sewaan untuk klienku," ucap Tirta pada Mika sambil fokus menyetir.


Mika hanya diam, melihat ke sampingnya, tidak memedulikan apa pun ucapan papanya itu.


Maaf karena aku melakukan hal ini Raf. Batin Mika menatap kosong pada jalan di sampingnya.


Sementara itu, Raffa yang sudah terlanjur mengatakan hal itu pun masuk ke mobilnya, dia melajukan mobil itu ke arah kantor Arkan.


"Semoga aku tidak mengambil tindakan yang salah," gumam Raffa.


...----------------...


Cerita Raffa ini aku ngikutin sesuai judulnya ya, Berawal dari Pernikahan Paksa.


Maaf bagi yang merasa tidak puas dengan alur cerita ini, bisa langsung pergi dengan teratur, dan bagi yang masih mau membaca dan memberikan dukungan pada cerita ini.

__ADS_1


Aku si author remahan ini, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas dukungan kalian untuk cerita ini🙏🥰


__ADS_2