Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 21


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal ulang Nayna untuk mengecek kandungannya, dokter mengatakan jika kondisi anaknya tumbuh dengan baik, juga tidak ada masalah apa pun yang perlu dikhawatirkan.


Arkan, seperti pemeriksaan sebelumnya, dia ikut serta melihat tumbuh kembang janin itu, layaknya seorang suami siaga, dia juga ikut senang mendengar penjelasan dokter tentang kondisi kandungan Nayna itu.


Setelah selesai diperiksa dan menebus vitamin seperti sebelumnya, mereka langsung pulang, kini mereka sedang dalam perjalanan dengan motor matic yang selalu menemani Arkan seperti biasanya.


"Om, boleh mampir ke mall yang ada di jalan … gak?" tanya Nayna dengan suara yang cukup keras.


"Mau beli apa?" tanya Arkan.


"Mau beli ice cream, aku pengen ice cream yang ada di sana," sahut Nayna.


"Baiklah." Arkan pun menjalankan motornya ke arah mall yang disebutkan oleh Nayna tadi.


Lambat laun, kini hubungan mereka semakin membaik, tidak terlalu kaku dan canggung lagi, meskipun mereka belum sepenuhnya seperti suami-istri pada umumnya, tapi kini ada peningkatan yang cukup signifikan untuk hubungan mereka itu.


Arkan membawa motornya itu dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin sampai terjadi apa-apa karena saat ini dia tengah membawa Nayna, seorang wanita hamil yang masih rentan.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari 15 menit, mereka pun telah sampai di parkiran sebuah mall, mereka segera turun dari motor, Arkan membiarkan Nayna yang memimpin karena dia tidak tahu di mana tempat penjual ice cream yang Nayna inginkan itu.


Akhirnya mereka telah sampai di penjual ice cream yang terletak di lantai tiga mall itu, Nayna segera membeli ice cream yang menjadi keinginannya itu, setelah selesai menyebutkan apa yang diinginkannya pada penjual.


Nayna berbalik dan menatap Arkan yang masih setia berdiri di sampingnya, mengikuti ke mana pun langkahnya.


"Om mau rasa apa?" tanya Nayna.


"Aku tidak mau," sahut Arkan sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau gitu tambah satu cup lagi ya Mas," ucap Nayna pada si penjual.

__ADS_1


"Aku kan udah bilang kalau aku gak mau," ucap Arkan yang kaget karena Nayna pesan lagi ice creamnya.


"Bukan buat Om, tapi buat aku kok," ucap Nayna sambil tersenyum lebar, hingga menampilkan seluruh giginya.


"Kamu jangan terlalu banyak makan ice cream, nanti kamu sakit perut," ucap Arkan memperingati Nayna.


"Sekali ini aja Om, soalnya aku udah cukup lama tidak makan ice cream di sini." Nayna menatap Arkan dengan tatapannya itu.


"Baiklah, tapi sekali ini saja," sahut Arkan yang hanya bisa pasrah.


Melihat tatapan memohon dari Nayna seperti itu membuat Arkan tidak bisa menolak lagi, dia juga berpikir Nayna sudah beberapa bulan ini mungkin tidak bisa makan makanan yang menjadi makanan favoritnya, karena sekarang Nayna lebih sering menghabiskan waktunya di rumah.


Setelah Nayna mendapatkan apa yang diinginkannya, Arkan segera membayarnya, mereka pun kemudian menuju ke sebuah meja kosong yang tersedia di sana.


Nayna langsung memakan ice cream itu dengan lahap, tiap suap benar-benar dia nikmati dengan antusias, sangat terlihat jelas jika Nayna benar-benar menyukainya, Arkan yang melihat itu hanya tersenyum tipis.


Dia memperhatikan setiap ekspresi dari wajah Nayna yang terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja makan ice cream, melihat Nayna yang terlihat bahagia dengan hal sederhana itu, membuat Arkan berpikir, bagaimana keadaan anak itu beberapa bulan lalu.


Di saat wanita yang baru saja beranjak dewasa itu sedang di posisi rapuh, butuh uluran tangan dan dekapan hangat yang mampu menenangkannya, tapi pria itu malah lepas tanggung jawab begitu saja, pergi dengan damai seolah tanpa beban.


"Om coba deh," ucapan Nayna menyadarkan Arkan dari lamunannya itu.


"Aku tidak mau, aku tidak suka ice cream," tolak Arkan sambil menggelengkan kepala.


"Tapi ini benar-benar enak loh Om, ayo coba aja." Nayna menyodorkan satu suapan ice cream itu tepat di depan mulut Arkan.


Arkan menatap wajah Nayna yang menatapnya dengan tampang memohon, hingga, lagi dan lagi membuat pria itu tidak dapat menolak apa yang Nayna inginkan.


Secara perlahan, Arkan membuka mulutnya, menerima suapan dari Nayna itu. Dan bumil itu tampak tersenyum senang saat Arkan menelan habis ice cream yang dia berikan.

__ADS_1


"Enak, kan Om?" tanya Nayna yang mulai menyuapkan lagi makanannya itu ke mulutnya.


"Ya, lumayan." Arkan menganggukkan kepala.


"Mau lagi, ini masih ada satu cup lagi," ucap Nayna sambil mendorong cup yang berisi ice cream yang belum tersentuh itu pada Arkan.


"Tidak perlu, sebaiknya kamu habiskan saja," tolak Arkan.


"Baiklah kalau gitu," sahut Nayna mengangkat bahunya acuh dan melanjutkan makan ice creamnya.


Nayna menghabiskan ice cream itu tanpa tersisa sedikit pun, karena tidak ada tujuan lain, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang.


Mereka berjalan dengan santai, untuk keluar dari mall itu dan menuju parkiran, Nayna sesekali bercerita tempat-tempat apa saja yang menjadi tempat favoritnya pada Arkan dan pria itu menimpali setiap ucapannya dengan ringan.


Saat tengah serius dengan langkahnya, Nayna tanpa sengaja melihat siluet yang sangat dikenalnya, dia menatap ke arah siluet itu dengan tajam untuk meyakinkan jika penglihatannya tidaklah salah.


Langkahnya menjadi terhenti, saat dia melihat dengan jelas siluet itu, tatapannya terpaku pada pria yang terlihat tengah duduk di salah satu tempat makanan siap saji, pria itu nampak tertawa bersama dengan seorang wanita yang duduk bersebrangan dengannya.


"Om, duluan saja ya, aku masih ingat kalau ada yang ingin aku beli," ucap Nayna pada Arkan yang juga ikut menghentikan langkahnya dan menatapnya yang tiba-tiba berhenti itu dengan heran.


"Beli apa, ayo biar aku antar saja."


Nayna menggeleng, menolak ajakan dari Arkan itu, dia berusaha tetap menormalkan ekspresi wajahnya agar Arkan tidak curiga, jika saat ini hatinya terasa kebas dan panas melihat pemandangan yang tersaji di depannya.


"Tidak perlu Om, aku sendiri saja, sebaiknya Om tunggu saja di motor ya, aku tidak akan lama kok." Nayna setengah memaksa agar Arkan segera pergi dari sana.


Arkan menatap Nayna dengan seksama, setelah beberapa saat kemudian, akhirnya dia pun mengangguk setuju dan akhirnya pergi, meskipun dengan sedikit ragu.


"Baiklah, cepatlah jangan lama-lama. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja," ucap Arkan pada Nayna yang kini entah sedang menatap ke mana.

__ADS_1


"Iya Om," sahut Nayna mengangguk singkat, tanpa melihat ke arahnya.


__ADS_2