
"Jadi Raffa bisa menjalani operasi?" tanya Nayna, menatap Arkan yang kini tengah menimang anaknya yang baru saja selesai minum asi.
"Iya, mudah-mudahan saja besok semuanya berjalan dengan lancar," sahut Arkan mengangguk.
"Apa ada yang mau donorin sumsum tulang belakangnya dan ada yang cocok?" tanya Nayna.
Nayna sebelumnya tahu, jika Arkan tidak bisa menjadi pendonor untuk Raffa, karena setelah melakukan serangkaian tes, dia tidak cocok untuk menjadi pendonor.
"Iya ada, Rezvan yang menjadi pembuka harapan untuk ayahnya."
Nayna menatap tak percaya pada suaminya itu, apa maksud dari ucapan suaminya itu.
"Beberapa bulan yang lalu, dokter yang menangani Fasya mengatakan, jika kita bisa melakukan operasi dengan cara lain, bukan dengan mencari donor sumsum tulang belakang lagi, tapi bisa dengan darah tali pusat bayi yang baru saja lahir," terang Arkan.
"Jadi itu alasannya, kenapa saat Rezvan baru lahir kemarin, dia langsung dibawa ke ruangan lain?" tanya Nayna.
"Iya, karena pengambilan darah tali pusat atau sel punca, harus segera diambil saat bayi baru lahir."
Nayna pun mengangguk paham dengan penjelasan dari Arkan itu.
"Apa kemungkinan untuk Raffa sembuh besa Mas?"
"Cukup besar, mungkin setelah melakukan operasi itu, Raffa masih harus menjalani pengobatan lagi," sahut Arkan.
"Syukurlah kalau gitu," ucap Nayna dengan lega.
Dia sangat berharap laki-laki itu bisa kembali sehat seperti sediakala, hidup dengan baik dan menemukan kebahagiaannya.
"Sekarang kamu istirahatlah, agar nanti saat dia bangun lagi karena haus kamu sudah istirahat," ucap Arkan yang ternyata sudah menidurkan bayinya ke tempat tidur bayi.
"Tapi aku belum ngantuk Mas," ucap Nayna.
"Baiklah, setengah jam lagi kamu harus tidur," ucap Arkan lalu bergerak duduk di pinggir ranjang.
"Iya, nanti aku paksakan untuk tidur," sahut Nayna.
"Oh iya, nanti setelah Rezvan berusia empat puluh hari, kita akan melakukan resepsi pernikahan, saat itu kamu pasti sudah sehat lagi 'kan?"
"Apa itu harus Mas?" tanya Nayna.
"Iya harus, aku ingin mengulang pernikahan kita agar aku tidak merasa ragu lagi dan status kita benar-benar sah," sahut Arkan dengan yakin.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu," sahut Nayna mengangguk.
"Biar sambil sekalian acara syukuran untuk Rezvan juga, semoga saja nanti saat waktunya tiba, Fasya juga sudah sembuh," ucap Arkan.
"Iya Mas," sahut Nayna mengangguk.
"Oh iya, besok katanya Ivan sama Fara akan ke sini, mereka pengen lihat Rezvan, mereka baru bisa ke sini besok karena tadi mereka cukup sibuk," terang Arkan.
"Kenapa Mbak Fara tidak istirahat saja mas, bukankah kandungannya tidak terlalu kuat," ucap Nayna.
"Aku sudah membicarakan hal itu padanya, begitu juga dengan Ivan, tapi dia tidak nyaman katanya kalau hanya diam di rumah," ucap Arkan.
"Mbak Fara sudah lama kerja di sana?" tanya Nayna.
"Sudah cukup lama, dia kerja di sana saat aku dan Ivan belum lama memulai usaha itu, bisa dibilang Ivan sama Fara juga cinlok, hingga bisa menikah," terang Arkan.
"Pantesan dia juga terlihat dekat denganmu," ucap Nayna manggut-manggut.
"Bukan cuma denganku , tapi dengan Fasya juga " sahut Arkan.
"Aku sebenarnya adalah orang yang tidak mudah percaya pada orang lain, jadi aku selalu berhati-hati dalam merekrut orang yang akan bekerja padaku," sambung Arkan.
"Sebenarnya kenapa Mas selalu terlihat misterius?" tanya Nayna yang penasaran.
"Berjaga-jaga dari apa arau dari siapa?" tanya Nayna.
"Dari keluarga almarhum kakak iparku, lebih tepatnya keluarga Fasya," terang Arkan.
"Kenapa memangnya dengan keluarga Raffa?"
"Ceritanya panjang," sahut Arkan yang selalu saja tidak menjelaskan sesuatu dengan rinci.
"Selalu saja gitu," rajuk Nayna.
"Kamu tidak perlu tau hal itu, bagiku sekarang hal itu tidak lagi penting." Arkan mengusap rambut Nayna.
"Apa itu juga salah satu alasan, kenapa kita tidak membiarkan orang lain tau, jika Rezvan anaknya Raffa," tebak Nayna.
"Benar, keluarga almarhum ayahnya Fasya memang cukup rumit, itulah kenapa, semenjak orang-tua Fasya meninggal, aku segera mengambil alih hak asuh atas Fasya, sesuai dengan permintaan ayahnya sebelum meninggal," terang Arkan.
"Oh begitu," sahut Nayna.
__ADS_1
"Sekarang tidurlah, ini sudah lebih dari setengah jam," ucap Arkan yang bergerak membantunya untuk berbaring.
Pria itu membenarkan selimut miliknya, sementara Nayna hanya pasrah dengan apa yang suaminya lakukan itu.
"Mas juga tidurlah, ini sudah malam. Mas pasti capek kerja, saat pulang kerja bantu aku ngurusin Rezvan," ucap Nayna pada Arkan.
"Iya, aku juga akan istirahat, setelah kamu tidur," sahut Arkan tersenyum
Dia kemudian mendaratkan ciuman di kening Nayna dengan lembut, lalu kembali duduk di pinggir ranjang.
Nayna mulai berusaha memejamkan matanya, ternyata tidak membutuhkan waktu lama, wanita yang baru dua hari bergelar sebagai seorang ibu itu pun langsung terlelap.
Setelah memastikan istrinya itu nyenyak, Arkan pun mulai beranjak dari tempatnya semula, berpindah ke sofa.
Arkan merebahkan tubuhnya di sofa, lalu mulai memejamkan mata, tapi baru saja dia akan menjemput mimpinya itu, suara rengekan yang mengganggu indera pendengarannya, membuat dia kembali membuka matanya itu.
"Sstttt, kenapa kamu bangun lagi hmm, Mama kamu baru saja tidur, jangan berisik ya, biarkan Mama kamu istirahat dulu."
Arkan menepuk-nepuk pelan dadanya bayi mungil yang terus bergerak lagi, karena Rezvan tidak tidur lagi, dia pun kembali mengambil bayi itu karena takut dia menangis dan tangisannya itu mengganggu Nayna yang baru saja istirahat.
"Kamu tidak nyaman karena basah ya," bisik Arkan saat merasakan bedongnya basah.
Akhirnya dengan telaten, dia pun mulai mengganti popok dan bedongnya agar bayi mungil itu kembali tenang.
Dia sudah mempersiapkan hal itu, dengan cara belajar tutorial mengurus bayi dari internet, juga bertanya secara langsung pada dokter.
Arkan selalu ingin jadi ayah dan suami yang siaga untuk anak dan istrinya, itu adalah cita-citanya dari dulu dan sekarang dia bisa mempraktekkannya.
"Nah, sudah selesai. Sekarang tidur lagi ya," ucap Arkan yang kembali mengangkat bayi itu.
Kembali menimang dengan memeberikan tepukan lembut di bagian b*kongnya, apa yang dilakukannya itu, dapat membuat Rezvan kembali tenang.
Bayi itu seolah mengerti jika Arkan tidak ingin dia mengganggu mamanya, dia pun bekerja sama dengan papanya, hingga anteng di gendongan Arkan.
Setelah setengah jam, bayi yang masih merah itu pun kembali tenang dengan tidurnya, akhirnya Arkan bernapas lega karena, tidak mengganggu Nayna yang belum lama tidur.
"Tidur yang nyenyak ya jagoan." Arkan mencium kening hayi itu dengan gemas. Lalu dia pun menidurkan kembali Rezvan ke tempat tidurnya,
Setelah itu barulah dia kembali menuju ke sofa lalu kembali melanjutkan niatnya untuk istirahat. Menyusul istri dan anaknya yang sudah mulai terlelap dengan mimpinya masing-masing.
...----------------...
__ADS_1
Seperti yang pernah aku bilang di awal-awal cerita ini, kalau kalian tidak suka sama cerita ini, bisa langsung pergi ya, aku gak pernah maksa buat kalian yang tidak suka untuk terus membaca cerita iniš
Ini hanya untuk hiburan semata, jangan terlalu dibuat baper, kalau suka tinggal ikuti alurnya kalau tidak tinggal pergiāŗ