Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 60


__ADS_3

Arkan saat ini tengah duduk di sebuah sofa yang cukup mewah yang ada di sebuah rumah yang sederhana namun elegan, rumah berlantai dua dengan desain eropa modern.


Di hadapannya tengah duduk seorang laki-laki yang beda 11 tahun dengannya, menatapnya dengan penasaran.


"Sebenarnya apa yang mau Om bicarakan? Kenapa Om, terlihat berat gitu untuk bicara. Apa ada masalah?" tanya Raffa yang dari tadi melihat Om-nya hanya diam, seolah ragu untuk bersuara.


"Ada hal penting yang ingin Om bicarakan padamu, aku rasa, aku tidak bisa menyimpan hal ini lebih lama lagi," ucap Arkan setelah beberapa saat meyakinkan hatinya, jika semuanya akan baik-baik saja.


"Apa Om, apa benar-benar serius hingga prilaku Om terlihat aneh," ucap Raffa.


Arkan tidak bicara, tapi tangannya bergerak, membuka tas kerja yang dari tadi dibawanya. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyimpan benda itu di meja.


"Apa ini Om?" tanya Raffa menatapnya dan benda yang dia simpan di meja dengan bergantian.


"Lihat dan pahamilah, Om yakin kamu mengerti setelah melihatnya, tanpa Om jelaskan lebih rinci lagi."


Meskipun dengan sedikit keraguan, keponakannya itu mulai mengambil benda yang berbentuk dua buah buku kecil itu, dia secara perlahan membuka salah satu buku itu dan saat lembar pertama terbuka.


Dia mehanan napasnya dengan tatapan terpaku pada deretan tulisan yang tertera di sana, kemudian menelan ludahnya dengan kasar. Melihat foto ibu dari calon anaknya, bersama dengan Arkan ada di buku itu membuat tatapannya beralih pada si empunya buku itu.


"Sejak kapan Om?" tanya Raffa dengan lirih.


"Tidak lama setelah dia mengetahui kalau dirinya tengah hamil, dia datang dan meminta pertolongan agar Om mau membantunya," terang Arkan.


Arkan memilih untuk berterus terang pada Raffa, karena dia yakin, cepat atau lambat keponakannya itu harus tahu tentang hal itu. Setidaknya dia tahu secara langsung dari mulutnya, tidak melalui orang lain.


Terima atau tidaknya, itu biar menjadi urusan belakangan. Yang terpenting saat ini, dia mengatakan lebih awal, agar tidak menimbulkan masalah lain hanya karena dia terus menunda-nunda tentang hal itu.


"Om tau, kamu mungkin tidak bisa menerima ini dengan mudah, tapi saat ini Om hanya ingin bilang, jika Om tidak akan melepaskan Nayna–"


"Apa Om mencintainya?" potong Raffa.


"Ya, itulah salah satu alasan kenapa Om tidak bisa melepaskannya," sahut Arkan mengangguk yakin.

__ADS_1


Raffa tidak menyahutinya, dia hanya diam menatap kembali foto yang ada di buku nikah Arkan dan Nayna itu, bohong jika saat ini hatinya baik-baik saja, karena walau bagaimanapun, rasanya untuk Nayna masih tersimpan apik di hatinya hingga saat ini.


Namun, dia tidak bisa berbuat apa pun, keadaan yang tidak mengizinkan dia dan Nayna untuk bersatu harus dia terima. Meskipun rasanya seperti menelan ribuan silet, menggores setiap rongga mulut hingga hatinya.


Menyisakan luka di seluruh bagian tubuhnya, tapi dia tidak mampu untuk menghentikan hal itu, hanya bisa pasrah berusaha menelan semunya, meskipun saktinya tidak dapat dia tahan.


"Om tau, kamu terluka akan hal ini, tapi Om tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi darimu," ucap Arkan yang dapat melihat jika keponakannya itu terluka.


Secara perlahan mata sendu itu mulai terangkat, menatapnya dan tersenyum meskipun senyuman yang sangat terlihat jika itu dipaksakan.


"Tidak apa-apa Om, aku mengerti posisinya saat itu, seharusnya aku merasa bersyukur, karena saat itu dia menamui Om. karena jika dia menemui orang lain, itu tidak akan menjamin dia akan baik-baik saja hingga saat ini."


Arkan menghela napasnya, melihat raut terluka itu, dia benar-benar tidak bisa melihat hak itu, tapi dia pun tidak ingin melihat orang terpenting dalam hidupnya itu lebih terluka karena merasa dibohongi sekian lama.


"Aku mau istirahat dulu ya Om," pamit Raffa menyimpan buku nikah itu ke meja lalu berdiri.


"Baiklah, kamu jangan lupa minum obatmu," ucap Arkan yang memilih membiarkan Raffa menyendiri terlebih dahulu.


Dia yakin, jika keponakannya itu butuh waktu untuk sendiri saat ini, menenangkan dirinya agar dapat melewati hal itu.


Arkan memperhatikan pergerakan Raffa itu dengan sesekali menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Maaf Raf, Om tau ini tidak mudah untukmu, tapi Om juga tidak bisa menyimpan hal ini lebih lama lagi. Lebih baik kamu merasa sakit sekarang karena kejujuran ini, daripada kamu merasa sakit hati lebih dalam lagi karena merasa dibohongi Om nantinya," gumam Arkan sambil menatap ke arah Raffa yang telah menghilang.


Dia pun segera mengambil kembali buku nikahnya itu, lalu memasukkan kembali ke tempatnya semula. Setelah itu memutuskan untuk pergi ke kantornya, karena waktu sudah cukup siang.


"Bi, tolong jaga Raffa ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Arkan pada art di sana, saat mereka berpapasan di depan pintu utama.


"Baik Den," sahut art-nya membungkuk hormat.


Arkan pun kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan rumah itu, dengan harapan Raffa akan baik-baik saja, setelah menerima kabar darinya itu.


...*****...

__ADS_1


Sementara itu Raffa saat ini tengah menangis di dalam kamarnya itu, menangisi hidupnya yang tidak berjalan dengan baik itu, saat rasa marah itu datang, dia membanting apa yang dilihatnya.


Melupakan berbagai emosi yang kini memenuhi hatinya, membuat dadanya terasa sesak, dia membenci dirinya, benci pada kehidupan yang seolah tidak adil padanya.


"Aarrrhhhhh!" jeritan nyaring itu memenuhi kamarnya.


Dia yakin jika Om-nya sudah pergi, jadi dia melampiaskan kesedihan, kekecewaan dan amarah itu, hingga dia bisa dapat merasa sedikit lega, tidak merasa terlalu sesak lagi.


"Aku benci hidupku ini, kenapa aku harus jadi orang yang tidak berguna seperti ini!" jeritnya lagi melepas apa yang melekat di kepalanya.


Dia berjalan ke arah cermin, memperhatikan bayangan dirinya, wajah pucat kepala yang sudah tidak ada sehelai rambut pun tersisa di sana, semakin dilihat, semakin membuat kekesalan dalam dirinya meningkat.


Beberapa saat kemudian kepalan tangannya itu, dia layangkan pada cermin di depannya, hingga menimbulkan suara nyarinya dari pecahnya cermin itu, tidak sampai di sana.


Ketika matanya kembali beralih ke arah nakas, dia berjalan kembali dan melempar semua botol obat-obatan selalu menemaninya selama beberapa tahun itu, menjadi penunjang hidupnya saat ini.


"Semuanya tidak berguna, seandainya aku tidak sakit, mungkin saat ini aku bisa bahagia dengan Nayna, seandainya aku tidak menjadi orang penyakitan, pasti aku dapan membahagiakan Nayna!" lirihnya mulai menjatuhkan tubuhnya.


Meringkuk di lantai dingin juga berantakan itu, suara gedoran pintu serta suara yang memanggil namanya dengan nada khawatir, tidak dia hiraukan saat ini, dia terus meracau, memaki dan mengumpat pada dirinya sendiri.


Tidak, dia tidak membenci Arkan ataupun Nayna, karena mereka juga tidak bersalah, tapi dia benci pada jalan hidupnya itu, benci pada keadaan yang tidak berpihak padanya.


"Ya ampun Den Raffa, kenapa bisa jadi seperti ini? Biar Bibi hubungi Den Arkan ya, biar dia bisa balik lagi ke sini."


Art-nya yang sudah berhasil masuk dengan kunci cadangan pintu kamar itu, menjadi panik karena melihat keadaan majikannya yanga kacau juga keadaan kamar itu yang tidak kalah kacaunya.


"Jangan, jangan hubungi Om lagi, jangan mengganggunya, aku baik-baik saja Bi," gumam Raffa dengan tatapan kosong.


"Baiklah kakau gitu, ayo biar Bibi bantu naik ke ranjang."


Raffa pun hanya menurut saat Art-nya itu mulai membawanya menaiki ranjang, tatapannya masih kosong, seolah jiwanya kini telah lenyap dari raganya itu.


...----------------...

__ADS_1


Diburu waktu plus udah terasa berat matanya, jadi harap maklum ya kalau ada yang typo,🙏


__ADS_2