
"Ma, bagaimana keadaan Papa sekarang?" tanya Nayna yang baru saja sampai di depan kamar rawat papanya.
Saat ini dia baru saja sampai di rumah sakit, beberapa saat yang lalu, mamanya menghubunginya dan mengatakan, jika papanya tadi pingsan, tanpa menunggu lama lagi, dia pun segera menuju ke rumah sakit tempat papanya itu dirawat.
"Barusan baru saja selesai diperiksa, dokter bilang, Papa kamu tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja, mungkin karena akhir-akhir ini sedang banyak pesanan, jadi dia harus memantau pabrik secara langsung, kurang istirahat dan kadang telat makan juga," terang Winda.
"Syukurlah kalau gitu, terus sekarang Mama mau ke mana? Kenapa gak nungguin Papa di dalam?"
"Mama mau beli makanan dulu di kantin, kata dokter Papa harus rawat inap selama semalam," ucap Winda.
"Biar aku saja yang beliin makanannya Ma, Mama tunggu di dalam saja, nanti Papa nyariin lagi, pas bangun Mama gak ada di kamar."
"Baiklah kalau gitu, kalau bisa agak banyakan ya, soalnya Mama males pergi lagi nanti."
"Iya Ma."
Nayna pun pergi meninggalkan Winda, dia menuju ke kantin rumah sakit. Karena teringat jika dia belum sempat memberikan kabar pada Arkan, Nayna pun mengambil ponselnya yang berada di tas selempangnya dan mengirimkan pesan pada suaminya itu, jika dia berada di rumah sakit.
Saat Nayna tengah sibuk dengan ponselnya, telinganya mendengar suara yang memanggil namanya, hal itu sontak membuat kegiatan dengan ponselnya itu terhenti.
Secara perlahan, dia pun mengangkat wajahnya yang semula menunduk, melihat ponsel, beralih melihat ke arah sumber suara yang memanggil namanya itu.
"Nay, kamu sedang apa di sini?" tanya pria yang tidak lain adalah Raffa.
Pria itu berjalan semakin mendekati Nayna dan berdiri di depannya, tatapan matanya, menatap Nayna dengan penuh kerinduan dan penyesalan.
"Bukan urusanmu!" ketus Nayna, lalu melangkahkan kakinya, berusaha menghindar dari Raffa.
"Kamu masih marah sama aku, Nay?" lirih Raffa sambil mengikuti langkah Nayna.
Hening, tidak ada sahutan dari Nayna, dia dengan santainya berjalan ke arah kantin tanpa mengindahkan kehadiran Raffa yang sebenarnya sangat mengganggu.
"Waktu itu aku ada hal yang sangat serius, sampai aku peegi gitu aja, aku tidak bermaksud untuk pergi tanpa kabar, tapi waktu itu keadaan tidak memungkinkan untuk aku memberimu kabar, aku selama ini selalu menyesali hal itu, apalagi setelah apa yang ki–"
"Cukup Raf, sekarang tidak ada gunanya lagi kamu menjelaskan hal itu, apalagi membahas masalah itu," potong Nayna dengan cepat.
__ADS_1
Dia tidak ingin Raffa membahas masalah yang terjadi pada mereka, karena itu membuat hatinya semakin diliputi rasa bersalah, juga sakit yang tidak dapat dia ungkapkan.
"Maaf, aku tau, aku sangat bersalah padamu," lirih Raffa menundukkan kepala.
"Ya, bahkan kesalahanmu itu tidak mudah untuk dimaafkan, aku bukan orang bijak yang bisa memaafkan kesalahamu begitu saja, jadi sebaiknya kamu jangan muncul lagi dihadapan aku, bukankah beberapa hari yang lalu aku sudah, bilang agar kamu tidak muncul lagi di hadapanku!"
Nayna menghentikan sejenak langkahnya, dia berbicara seperti itu tanpa melihat ke arah Raffa yang saat ini masih berada di belakangnya.
"Baiklah aku akan pergi, tapi setelah aku mengantarkanmu," ucap Raffa.
Meskipun rasanya sangat kesal, tapi dia tidak menggubris kehadiran Raffa yang ternyata mengikutinya saat dia melangkah, karena tidak ingin membuat keributan yang akhirnya menjadi tontonan banyak orang yang hadir di sana.
Dia pun diam saja, saat Raffa terus mengikutinya, selama dia membeli makanan untuk mamanya, tapi dia tidak peduli dan menganggap Raffa adalah mahkluk yang tak kasat mata.
Di perjalanan dari kantin, secara kebetulan dia bertemu dengan dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungannya.
"Bu Nayna, sedang apa di sini?" sapa dokter kandungan itu menyapa Nayna terlebih dahulu.
"Dok, saya di sini sedang menjenguk Papa saya yang sedang dirawat di sini," sahut Nayna tersenyum ramah.
"Tidak ada masalah sama kandungan saya, Dok. Semuanya baik-baik saja," sahut Nayna lagi.
"Syukurlah kalau gitu."
"Dokter udah mau pulang?" tanya Nayna karena melihat dokter itu, seperti sudah siap untuk pulang.
"Iya Bu, ya udah kalau gitu saya permisi dulu Bu, sampai ketemu lagi dipemeriksaan selanjutnya," pamit dokter kandungan itu.
"Iya Dok."
Setelah dokter itu pergi, Nayna kembali melangkah, melanjutkan niatnya menuju ke kamar rawat papanya. Namun, langkahnya kembali terhenti karena cekalan di pergelangan tangannya.
"Kamu hamil Nay?"
Mendengar pertanyaan itu, Nayna tertegun, dia baru sadar jika pembicaraan antara dirinya dan dokter kandungannya tadi, pasti tidak luput dari perhatian Raffa.
__ADS_1
Sebelum menyahuti pertanyaan yang dilanyangkan oleh Raffa itu, dia menghela napasnya terlebih dahulu, setelah itu menarik tangannya dari cekalan Rafa, kemudian ditatapnya pria itu.
"Bukankah aku sudah bilang, jika aku sudah MENIKAH, jadi hal yang wajar jika aku hamil, sudahlah. Tidak ada gunanya juga aku menjelaskan padamu," sahut Nayna berusaha santai dan segera membalikkan badannya, menjauh dari Raffa.
"Apa anak yang ada di kandunganmu itu, adalah benar-benar anak dari suami kamu?"
Deg....
Ucapan Raffa itu membuat jantungnya berdetak tak karuan, tapi dia segera menetralkan jantungnya dan terus melangkah, tidak berniat menimpali ucapan pria itu.
"Atau jangan-jangan itu adalah anakku!" Kini nada suara Raffa menjadi lebih keras karena jarak mereka sedikit jauh.
Entah kenapa mendengar hal itu Nayna menjadi marah, dia melihat ke sekelilingnya, orang-orang yang ada di sana sudah menatap heran ke arahnya.
Akhirnya dengan langkah cepat, dia berbalik menuju ke arah Raffa yang beberapa langkah berada di belakangnya, tanpa ba-bi-bu.
Plakk....
Sebuah tamparan, Nayna layangkan pada Raffa, matanya memerah dan tajam, mungkin satu tamparan saja tidak cukup untuk melampiaskan, rasa marah, kesal, benci, dan kecewa yang kini ada dalam hatinya pada pria itu.
"Jangan sembarangan bicara, ini adalah peringatan pertama dan terakhir, apa hak kamu, beranggapan jika anak yang ada dalam kandunganku ini adalah anakmu!" geram Nayna.
Tidak ingin menambah keributan, dia pun segera berbalik dan langsung pergi dengan langkah tegasnya, meskipun dia memang tidak dapat memungkiri, jika Raffa adalah ayah biologis dari anaknya, tapi dia tetap tidak ingin Raffa mengetahui hal itu.
Bukankah dulu dia sedirian saat menghadapi kehamilannya, apakah salah jika dia ingin egois dengan tidak mengatakan padanya, jika anak itu memang anak pria itu.
"Ini anakku, hanya anakku!" lirih Nayna sambil berjalan menuju lorong kamar rawat papanya.
"Nay, kamu dari mana?"
Nayna berbalik dan menatap Arkan yang kini telah berdiri di depannya, entah kenapa rasanya saat ini, dia ingin sekali memeluk pria dewasa itu.
"Om, aku boleh meluk Om gak?" tanya Nayna menatap Arkan.
Meskipun sedikit merasa aneh, tapi melihat tatapan penuh permohonan dari Nayna, Arkan pun menganggukkan kepala dengan pasrah dan membuka kedua tangannya, agar Nayna bisa memeluknya.
__ADS_1
"Makasih Om," ucap Nayna, saat membenamkan dirinya didekapan hangat tubuh Arkan, untuk mencari ketenangan di sana.