
Arkan yang baru saja akan terlelap setelah selesai melakukan pekerjaannya, harus terganggu oleh suara yang berasal dari ponselnya. Hingga membuatnya terpaksa membuka kembali mata yang sudah mulai terpejam itu.
Diambilnya ponsel yang berada di nakas, lalu melihat siapa yang meneleponnya, setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu, dia pun segera mengangkatnya, berharap tidak terjadi apa pun pada Raffa.
Karena yang meneleponnya saat ini adalah Art Raffa, biasanya jika wanita yang sudah cukup lama bekerja dengannya itu menelpon di jam-jam seperti ini, artinya adalah hal serius yang terjadi.
"Iya Bi ada apa?" tanya Arkan pada Bibi.
"Den, Den Raffa dilarikan lagi ke rumah sakit," ucap Bibi dengan nada yang khawatir.
"Aku akan segera ke sana Bi," sahut Arkan dengan segera turun dari ranjangnya, kemudian mengambil jaket dan langsung keluar dari kamarnya.
Dia berusaha tidak berisik karena tidak ingin mengganggu tidur Nayna mengingat ini sudah sangat malam, karena bumil itu pasti ingin ikut jika tahu tantang ini.
Arkan mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit, dia terus berdoa agar keponakannya itu baik-baik saja, bisa bertahan dengan penyakit yang terus menggerogotinya secara perlahan.
Beruntung saat ini jalanan cukup lenggang, sehingga dia bisa melajukan mobilnya itu dengan cepat, hingga hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dia sudah sampai di rumah sakit.
"Sus pasien atas nama Raffasya Ivander di ruangan mana ya?" tanya Arkan pada suster jaga.
"Pasien atas nama Pak Raffasya Ivander, baru saja dipindahkan ke ruang icu," sahut Suster sambil memeriksa catatan tentang Raffa.
"Baiklah, terima kasih Sus." Arkan pun segera menuju ke tempat dimana ruang icu berada.
Dia menyusuri lorong dengan perasaan yang tidak tenang, dia sudah bisa menebak jika kali ini kondisi keponakannya itu kembali parah, hingga harus dirawat intensif di ruang icu lagi, seperti beberapa bulan yang lalu.
"Den syukurlah Aden cepat datang," ucap Bibi yang lega melihat keberadaan Arkan.
"Bagaimana keadaannya sekarang Bi?" tanya Arkan menatap pintu ruang icu.
"Den Fasya saat ini koma Den, barusan dokter meminta Den Arkan untuk menemuinya," jelas Bibi.
"Iya, Bi. Kalau mau pulang, Bibi bisa pulang dulu," ucap Atkan.
"Nanti saja Den, bibi mau di sini dulu," sahut Bibi.
Arkan pun mulai menui dokter terlebih dahulu, mendengarkan penjelasan dokter tentang penyakit Raffa yang saat ini semakin memburuk, hingga menyebabkan dia koma.
Arkan beberapa kali menarik napas dan menghembuskan napasnya itu, menenangkan hatinya yang terasa sesak mendengar ucapan dokter jika kesempatan Raffa untuk bertahan, semakin tipis, bahkan nyaris tidak akan tidak ada.
__ADS_1
"Bolehkah saya melihatnya sekarang Dok," ucap Arkan setelah dokter selesai berbicara.
"Silakan Pak, biar Suster yang membantu anda memakai baju khusus terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan itu."
Arkan hanya mengangguk, dia kemudian mengikuti Suster yang memberikan sebuah baju khusus untuknya, dia mulai membuka pintu yang dingin itu dengan hati-hati.
Saat masuk ke dalam ruangan yang didominasi oleh warna putih itu, dia langsung disuguhkan dengan pemandangan ranjang yang di kelilingi oleh alat-alat medis, dengan Raffa yang tengah memejamkan mata dengan tenang, berada di ranjang itu.
Dia semakin mendekat, menatap tubuh lemah itu, diusapnya kepala yang kini telah bersih tanpa bulu itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Arkan kemudian membungkuk mendekatkan wajahnya ke telinga Raffa.
"Bangun Sya, kamu harus kuat, kamu harus lihat anak kamu lahir dan berikan dia nama yang bagus," bisik Arkan.
Dia yakin keponakannya itu bisa mendengarnya, jadi sengaja memberikan semangat dan rangsangan pada keponakannya itu, agar bisa melawan penyakitnya. Meskipun dokter sudah mengatakan hal itu.
Sedih, tentu saja. Sudah dia katakan bukan, jika Raffa sudah dia anggap seperti anak sendiri, orang yang dari dulu selalu berusaha dia jaga, tapi kini laki-laki itu kembali terbaring di ruangan yang dingin seperti itu lagi.
"Bukankah Om sering bilang, agar kamu jangan menyerah gitu aja, kamu orang yang kuat bukan? Bangunlah Sya jangan menyerah gitu aja!" lirih Arkan.
...******...
Saat hari sudah mulai pagi, Nayna terbangun dari tidurnya, dia pun segera turun dari ranjang, membereskan tempat tidurnya terlebih dahulu, setelah itu keluar dari kamar.
Namun, saat mencoba mengintip ke dalam, dia tidak menemukan keberadaan si pemilik kamar, hal itu tentu saja membuat dia mengerutkan keningnya dengan heran.
"Apa Mas Arkan di dapur," gumamnya sambil bergerak menutup pintu dan langsung menuju ke dapur.
"Tidak ada juga." Ternyata dapur pun kosong, tidak ada keberadaan suaminya di sana.
Dia semakin bingung, ke mama suaminya itu, sudah tidak ada di rumah sepagi ini, tidak mungkin pria itu pergi bekerja sepagi ini.
"Ke mana Mas Arkan ya?" ucap Nayna lalu berjalan ke kamarnya untuk mengambil ponsel, agar dia bisa menghubungi suaminya itu.
Nayna pun segera menghubungi suaminya, setelah nada panggilan ke tiga, Arkan baru menjawab panggilan darinya itu.
"Mas, kamu di mana? Kenapa tidak ada di rumah."
"Ini aku di depan pintu."
Nayna yang mendengar hal itu pun segera menuju ke pitu rumah itu, dia langsung membukanya dan benar saja Arkan berada di sana sambil memasang senyuman padanya.
__ADS_1
"Kamu dari mana sih Yang, aku cariin dari tadi juga," ucap Nayna sambil cemberut.
"Bicara di dalam aja ya," sahut Arkan menggandeng tangan Nayna agar kembali memasuki rumah.
"Kamu dari mana Mas?" tanya Nayna lagi sambil berjalan ke arah dapur.
"Aku dari rumah sakit," sahut Arkan.
"Kenapa kamu ke rumah sakit?" Nayna menghentikan langkahnya dan berbalik, menghadap Arkan.
"Fasya masuk rumah sakit lagi," sahut Arkan dengan hembusan napas sedihnya.
"Kapan dia masuk ke rumah sakitnya? Kenapa Mas tidak ngasih tau aku?" rentetan pertanyaan Nayna itu, membuat Arkan tidak mampu langsung menjawabnya.
Pria itu hanya bergerak memeluk Nayna dengan erat, untuk meringankan kegundahan dalam hatinya, karena kondisi Raffa saat ini. Meskipun sebelumnya keponakannya itu, pernah mengalami hal yang serupa.
Namun, kali ini berbeda, dokter spesialis yang biasa menanganinya sudah angkat tangan dengan keadaan ayah dari calon anak yang saat ini masih berada dalam kandungan Nayna itu.
"Kenapa Mas, apa ada masalah sama Raffa?" tanya Nayna lagi, berusaha memberikan ketenangan dengan mengusap punggung suaminya itu.
"Saat ini dia koma!" lirih Arkan memejamkan matanya.
Nayna tidak menyahutinya, karena dia juga cukup syok dengan kabar itu, dia terus mengusap punggung Arkan, berharap dengan hal itu akan memberikan sedikit ketenangan pada suaminya itu.
Dia tahu banget sesayang apa Arkan pada keponakannya, terlebih saat ini keluarga yang Arkan miliki hanyalah Raffa satu-satunya. Melihat kondisi keluarga satu-satunya itu dalam kondisi seperti ini, pasti merupakan pukulan yang cukup berat untuknya.
"Mas tenang ya, kita harus berdoa semoga dia masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama kita lagi."
Arkan melepaskan pelukan antara mereka, lalu dia menatap Nayna dengan dalam, sedangkan Nayna tersenyum, agar suaminya lebih tenang.
"Makasih kamu udah berusaha nenangin aku," ucap Arkan.
"Sama-sama Mas, kamu harus kuat, agar kamu bisa memberikan suport pada Raffa saat ini, karena hanya doa dan dukungan dari orang-orang terdekatnya yang dia butuhkan saat ini," ucap Nayna tanpa menghilangkan senyumannya.
"Sekarang Mas mandi dulu ya, Mas harus ke kantor. Biar aku buatkan sarapan dulu untuk kita," sambung Nayna mengusap lengan Arkan.
"Iya baiklah." Arkan mengangguk patuh.
pria itu pun langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil handuk dan kaos, lalu pergi ke kamar mandi. Saat ini mereka memang masih tinggal di rumah sebelumnya, mereka rencananya akan mulai pindah ke rumah yang telah Arkan siapkan setelah Nayna melahirkan.
__ADS_1