
Nayna keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi, dia hampir saja melupakan, jika hari ini adalah jadwalnya untuk kembali memeriksa kandungannya.
Nayna keluar dari rumah, tidak lupa juga dia mengunci pintu itu dan membawa kuncinya, karena Arkan juga memegang kunci rumah itu, jadi tidak tidak perlu khawatir jika pria itu pulang lebih awal.
Nayna berjalan keluar dari komplek rumahnya itu, dia menuju ke jalan raya untuk mencari kendaraan umum, saat baru saja sampai di ujung jalan komplek itu, motor yang dikendarai Arkan tiba-tiba saja berhenti di depannya.
"Mau ke mana?" tanya Arkan pada Nayna yang telah menghentikan langkahnya dan menatapnya dengan heran.
Ini masih siang, belum saatnya pria itu pulang bekerja, tapi kenapa pria itu sudah pulang, kurang lebih seperti itulah pertanyaan yang ada dalam benak Nayna.
"Aku mau ke rumah sakit, Om mau pulang ya, tumben jam segini udah pulang?" sahut Nayna memasang senyuman seperti biasanya.
"Biar aku anterin," ucap Arkan, tanpa menyahuti ucapan Nayna sebelumnya.
"Tidak perlu Om, aku bisa naik kendaraan umum, Om pasti capek, sebaiknya Om pulang dan istirahat saja," tolak Nayna dengan cara halus, dia tidak ingin merepotkan Arkan.
"Cepat naiklah." Arkan sedikit memaksa karena Nayna terlihat enggan menerima tawarannya itu.
"Tapi helmnya cuma satu." Nayna mencari alasan agar tidak diantarkan oleh Arkan.
Arkan turun dari motornya dan membuka jok motornya itu, dia kemudian mengambil helm yang entah dari kapan berada di dalam bagasi motor itu.
"Ini." Arkan memberikan helm itu pada Nayna dan kembali menaiki motornya.
Melihat Arkan yang begitu kukuh ingin mengantarkannya, Nayna pun tidak punya pilihan lain, selain menurut, dia akhirnya memakai helm itu dan mulai menaiki motor.
Setelah memastikan Nayna naik dengan sempurna dan nyaman di motornya. Arkan mulai menjalankan motornya itu, untuk beberapa saat tidak ada percakapan yang terjadi di antara dua orang itu, hingga akhirnya Nayna mulai bersuara.
"Om ke rumah sakit … ya," ucap Nayna menyebutkan alamat rumah sakit yang akan ditujunya dengan suara yang cukup kencang agar terdengar oleh Arkan.
"Mau apa ke rumah sakit?"
"Memeriksa kandungan."
Arkan tidak berbicara lagi, di hanya mengangguk paham dan menjalankan motornya dengan tenang.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, motor Arkan pun telah berhenti di parkiran rumah sakit yang Nayna sebutkan tadi, Nayna turun dari motor dan melepaskan helmnya.
"Terima kasih Om," ucap Nayna menyerahkan helm itu pada Arkan.
"Ya." Arkan menerima helm itu dan menyimpannya ke setang motornya itu.
Tak lama kemudian dia ikut turun dan melepaskan helm yang dipakainya, Nayna menatap dengan heran pria itu, awalnya dia berpikir jika Arkan akan kembali setelah mengantarkannya.
"Ayo," ajak Arkan yang sudah menyimpan helmnya di setang motor.
"Om tidak pulang?" tanya Nayna dengan melongo.
"Pulang, tapi nanti setelah kamu selesai memeriksa kandungannya," sahut Arkan yang sudah mulai melangkah.
Nayna masih menatap punggung Arkan dengan bingung, sedangkan Arkan yang sadar jika Nayna tidak mengikutinya, kembali membalikkan badan, menatap ke arahnya.
"Ayo, kenapa kamu malah diam, cepatlah ini sudah hampir sore," ucap Arkan.
"I-iya Om," sahut Nayna kemudian melangkah dengan langkah pelan, hingga dia beriringan dengan Arkan, memasuki rumah sakit.
Arkan terus mengikuti langkah Nayna, dia bahkan mendudukkan dirinya di samping ibu hamil muda itu, tidak terlihat kecanggungan sedikit pun di wajah pria itu, mengikuti Nayna seperti itu, dia malah terlihat layaknya seorang suami yang mengikuti istrinya untuk memeriksa calon anaknya.
Berbeda dengan Nayna yang merasa canggung, diikuti seperti oleh Arkan, terlebih lagi banyak pasang mata yang melihat ke arahnya, dari pertama kali datang ke sana, seolah dia adalah tontonan yang langka.
"Kenapa, kamu terlihat tidak nyaman?" tanya Arkan yang melihat gerak-gerik aneh dari Nayna.
"Tidak apa-apa Om," sahut Nayna dengan suara pelan, berusaha memasang senyum pada Arkan.
"Rileks saja, anak kamu pasti akan baik-baik saja," ucap Arkan menenangkan Nayna dengan polosnya.
Dia tidak tahu, jika Nayna seperti itu karena kehadirannya bukan karena takut kenapa-napa sama kandungannya, selama ini dia merasa baik-baik saja, jadi dia yakin kandungannya itu juga baik-baik saja.
"Iya Om," sahut Nayna, kemudian dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Dia memutuskan untuk memainkan ponselnya itu, sambil menunggu namanya dipanggil, pria di sampingnya itu pun, melakukan hal yana sama, dia juga memainkan ponselnya.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya namanya pun dipanggil, Nayna mulai memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya, dia kemudian berdiri dan menatap Arkan.
"Om aku masuk dulu ya," pamit Nayna pada Arkan, tapi malah mendapatkan sahutan tak terduga dari pria itu.
"Ayo, aku juga akan ikut masuk," sahut Arkan dengan santai, dia bahkan sudah berdiri dan memasukkan kembali ponselnya pada saku celana yang dipakainya.
"Tapi Om—" Nayna bingung bagaimana melarang pria itu untuk tidak ikut masuk.
"Kenapa? Ayo cepatlah masuk, agar pemeriksaannya segera selesai, biar kita bisa segera pulang," ucap Arkan bahkan dia sudah mulai masuk, meninggalkan Nayna yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi itu.
Pria yang berstatus suaminya itu, berjalan dengan santai menuju ke ruang pemeriksaan, Nayna hanya bida menghela napas pasrah, dia kemudian mulai melangkah dengan perlahan.
Menyusul Arkan yang sudah sampai di depan pintu ruangan yang telah dibuka oleh seorang suster di sana, mereka memasuki ruangan itu dengan saling beriringan.
"Silakan duduk Pak, Bu," ucap seorang dokter wanita yang masih muda itu dengan tersenyum ramah pada mereka.
"Iya Dok," sahut Arkan tak kalah ramah.
Pria itu menggeser kursi untuk Nayna, lagi-lagi perlakuan yang sederhana itu, membuat Nayna menatapnya dengan linglung, sementara Arkan seperti sebelumnya, dia memasang wajah kalem, Nayna akhirnya duduk di kursi itu dan mulai menatap dokter itu.
"Boleh saya minta catatan pemeriksaan sebelumnya," ucap Dokter itu pada Nayna.
Nayna mengangguk dan mulai membuka tasnya, dia kemudian memberikan catatan pemeriksaan di bulan sebelumnya pada dokter itu.
"Ini Dok," ucap Nayna menyodorkan catatan pemeriksaan itu pada dokter.
"Biar saya periksa dulu." Dokter itu pun memeriksa catatan itu dengan seksama.
Nayna dan Arkan hanya diam menunggu apa yang akan dokter itu lakukan setelahnya.
"Kenapa nama ayahnya tidak dituliskan di sini?" tanya Dokter itu menatap Nayna dan Arkan dengan heran. Karena yang tertera di sana hanya ada nama Nayna saja, tidak tertera nama ayah si calon anak itu.
Nayna tidak langsung menjawabnya, dia memang tidak menyebutkan nama ayah dari anaknya itu, saat melakukan pemeriksaan pertamanya, karena saat itu dia tidak tahu apakah harus menyebutkan nama laki-laki itu atau tidak.
"Nama ayahnya Arkana Giovan Dok."
__ADS_1