
Nayna dan Raffa kini sudah saling berhadapan di salah satu meja yang ada di cafe tempat mereka membuat janji sebelumnya. Namun, hingga beberapa menit terlewati, mereka masih sama-sama bungkam.
"Jadi apa ada yang mau kamu omongin, ngajak aku bertemu di sini?" tanya Raffa akhirnya mulai membuka suara.
"Aku udah berpikir beberapa hari ini, kamu boleh menemui aku kapan pun, tapi ingat hanya sebatas teman dan sebatas ayah dari calon anakku," ucap Nayna menatapnya dengan tegas.
"Benarkah, aku bisa menemuimu?" tanya Raffa menatapnya dengan penuh harap.
"Ya. Dan ini." Nayna mengeluarkan beberapa foto usg dari tas yang dibawanya, dia menyimpan foto-foto hitam putih itu ke meja.
Raffa tidak bergerak untuk mengambilnya, tapi dia hanya menatapnya dengan bingung.
"Itu foto-foto usg dia dari pertama kali aku pergi ke rumah sakit, sampai yang terakhir kalinya," terang Nayna yang mengerti dengan kebingungan lelaki itu.
"Benarkah," sahut dengan wajah berbinar, dia pun mulai mengambil foto itu satu per-satu.
"Apa ini dia?" tanya Raffa memperlihatkan foto yang pertama kali dia datang untuk periksa, ukuran calon anaknya masih berupa titik.
"Iya, itu adalah saat pertama kalinya aku memeriksa ke rumah sakit."
Raffa mengangguk, dia menatap foto yang berjumlah empat buah itu dengan seksama, melihat bagaimana calon anaknya yang terus bertambah besar.
"Apa dia berkembang dengan baik?" tanya Raffa tanpa melihat ke arah Nayna. Tatapannya hanya fokus pada gambar calon anaknya itu.
"Hemmm, sangat baik. Dokter mengatakan tidak ada kendala dengan tumbuh kembangnya," terang Nayna.
"Syukurlah, oh iya, apa kamu ngalamin ngidam atau morning sickness?" tanya Raffa yang sudah mulai beralih menatapnya.
"Aku hanya ngalamin ngidam, ingin sesuatu hanya sekali, kalau morning sickness di tiga bulan pertama, aku hanya mengalami mual saat bangun tidur, sama susah tidur saja saat malam hari, selain dari itu, tidak ada," tutur Nayna.
Raffa tiba-tiba saja menatapnya dengan raut wajah sedihnya.
"Pasti itu tidak mudah untukmu!" lirih Raffa.
"Ya, memang tidak terlalu mudah, tapi sekarang semua itu berlalu," sahut Nayna dengan santai.
"Maaf aku tidak ada di saat itu, ak–"
"Sudahlah jangan membahas tentang hal itu lagi," potong Nayna membuat Raffa secara reflek langsung menghentikan ucapannya itu.
"Maaf, oh iya kapan jadwal periksa kandunganmu lagi?" Raffa segera mengalihkan percakapan karena melihat raut wajah Nayna yang tidak suka saat dia membahas tentang beberapa bulan lalu.
"Minggu depan."
"Apakah aku boleh mengantarmu?" tanya Raffa penuh harap.
"Entahlah, karena biasanya suamiku selalu nganterin aku."
"Eummm baiklah kalau gitu, tapi kamu mau ngasih tau aku kan, tentang perkembangannya nanti." Raffa menatapnya penuh harap lagi.
"Iya, nanti pasti akan aku kasih tau kamu tentang tumbuh kembangnya," sahut Nayna mengangguk yakin.
__ADS_1
"Baguslah kalau gitu." Raffa tersenyum senang.
Nayna hanya tersenyum melihat wajah Raffa yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya, entah itu karena keputusannya yang akan memberikannya kesempatan, atau karena apa, bumil itu memilih tidak terlalu ingin tahu hal itu.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu ya, sebentar lagi suami aku pulang? Rasanya tidak nyaman kalau saat dia pulang, aku belum sampai rumah," ucap Nayna yang langsung berdiri.
"Tapi kamu belum makan apa pun." Raffa ikut berdiri.
"Aku tidak lapar, nanti aku makan di rumah aja."
"Baiklah, kalau gitu aku anterin ya."
Nayna menggeleng, lalu berkata, "Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Aku anterin aja ya?"
Melihat tatapan permohonan dari ayah calon anaknya itu, Nayna pun akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah, tidak bisa menolaknya lagi.
"Baiklah ayo." Pasrah Nayna membuat senyuman kembali terbit di bibir Raffa.
"Ayo."
Raffa berjalan memimpin, dia membayar minuman yang mereka pesan terlebih dahulu setelah itu berjalan menuju ke parkiran dan memasuki mobilnya.
Saat mobil mulai berjalan, Nayna hanya diam dengan menatap ke samping, sedangkan Raffa sesekali melihat ke arahnya, melihat apa yang tengah dilakukannya.
"Suami kamu kerja di mana?" Raffa sedikit berdehem dan memulai percakapan.
"Kerja di restoran," sahut Nayna tanpa melihatnya.
"32 tahun, kalau tidak salah."
"Oh, cukup jauh juga perbedaan umurnya denganmu."
"Hemmmm."
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka, hingga mobil itu sudah memasuki komplek perumahan Arkan.
"Aku berhenti di sini aja," ucap Nayna membuat Raffa menatapnya dengan haeran.
"Meskipun suami aku ngijinin aku buat kita berkomunikasi, demi anak ini, tapi—"
"Baiklah aku ngerti," sahut Raffa mengangguk,
Dia kemudian mulai menghentikan mobilnya di pinggir jalan, cukup jauh dari rumah Arkan, lelaki itu mulai membalikan tubuh menatap Nayna yang juga tengah menatapnya.
"Kalau suami kamu lagi sibuk, terus ada apa-apa terjadi padamu, kamu bisa hubungi aku."
Nayna hanya mengangguk samar sebagai sahutan.
"Kamu juga bisa langsung hubungi aku, kalau kamu sedang menginginkan sesuatu, aku akan langsung memberikan apa pun yang kamu inginkan itu."
__ADS_1
"Yakin, kamu akan memberikan apa pun?" tanya Nayna mengerutkan keningnya.
"Yakin!"
"Bagaimana kalau aku mau jet pribadi, mobil mewah, rumah megah, apa kamu akan memberikannya?"
"Kalau kamu memang mau, aku akan berusaha untuk memberikannya, asal semua itu bisa membuatmu bahagia," sahut Raffa.
"Terdengar menggiurkan, tapi sayang, aku tidak menginginkan apa pun, udah ah aku mau turun dulu," ucap Nayna yang langsung membuka pintu mobil dan langsung turun.
"Baiklah, kamu hati-hatilah, nanti kalau suami kamu gak bisa anterin kamu buat periksa, hubungi aku aja ya," ucap Raffa sebelum Nayna menutup pintu mobilnya.
"Baiklah, kamu hati-hatilah berkendaranya," sahut Nayna.
"Iya." Raffa mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan Nayna yang masih berdiri di sana.
Setelah mobil Raffa mulai menjauh, bumil muda itu pun bermaksud untuk melangkah, menuju ke rumahnya, tapi dari arah belakang ada sebuah motor yang berhenti tepat di sampingnya.
"Om, sudah pulang?" tanya Nayna.
Dia sedikit kaget dengan keberadaan Arkan, di sana, dia bertanya-tanya apakah pria itu sudah lama berada di sana, apa pria itu melihat dia dan Raffa barusan.
"Iya naiklah, biar kita pulang bareng," ucap Arkan dengan eksepsi biasa saja.
"Iya Om." Nayna pun naik ke motor itu.
Arkan mulai menjalankan motornya itu dengan pelan, Nayna yang merasa penasaran pun akhirnya menanyakan hal yang dari tadi mengganggu pikirannya itu.
"Om, udah lama berada di sana tadi?"
"Tepat saat kamu turun dari mobil itu," sahut Arkan dengan tenang.
Entah kenapa, Nayn merasa tidak nyaman, dia merasa sebagai seorang istri yang ketahuan pergi bersama dengan laki-laki lain, oleh suaminya.
"Om tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena aku pergi dengan laki-laki lain," ucap Nayna.
"Tidak, itu hak kamu," sahut Arkan masih dengan nada santainya.
"Oh iya, Om kenapa jam segini udah pulang?" tanya Nayna yang sengaja mengalihkan pembahasan.
"Aku ada urusan lain, jadi izin pulang lebih awal."
"Urusan apa?" tanya Nayan yang baru saja turun dari motor Arkan yang baru saja berhenti di depan rumahnya.
Arkan baru saja akan menjawab pertanyaan darinya itu, tapi suara klakson yang berasal dari pinggir jalan di depan rumah mereka membuatnya tidak jadi pertanyaannya.
"Kamu turun dulu aja Van, tunggu di dalam, aku belum siap," ucap Arkan pada Ivan.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Ivan yang kemudian turun dari mobilnya dan berjalan ke arah mereka.
"Kenalkan ini Ivan, teman aku sekaligus suaminya Fara," ucap Arkan karena melihat tatapan bingung Nayna terhadap Ivan.