
"Apa kamu yakin akan melakukan hal itu, hanya untuk menolong teman kamu itu?" tanya Arkan pada Raffa setelah keponakannya itu menceritakan tentang niatnya.
"Iya, Om. Aku merasa kasihan saja padanya, karena ayahnya merencanakan hal yang tidak baik padanya," saahut Raffa menatap Arkan dengan yakin.
Arkan pun melihat keyakinan yang ada pada keponakannya, tapi dia tidak langsung menjawab. Bukan karena dia tidak ingin atau ragu untuk menolong Raffa, tentang membantu perusahaan ayah dari Mika.
Sebenarnya Raffa juga memiliki beberapa persen saham di perusahaan itu, peninggalan dari orang-tuanya, jadia dia juga berhak atas perusahaan itu.
Namun yang jadi pertimbangan adalah, apakah keponakanny itu tidak akan menyesal di kemudian hari, mengingat dia mengatakan akan menikahi orang yang belum lama ini dia ketahui sebagai temannya itu.
"Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, maka Om sebagai pengganti orang-tua kamu hanya bisa menyetujuinya. Namun satu yang harus kamu ingat, pernikahan bukan hal yang main-main, apa kamu akan sanggup melangkah di jalan itu?" Arkan menatap Raffa dengan serius.
"Semoga aku sanggup Om," sahut Raffa meski dengan hati yang paling dalam belum sepenyhnya yakin.
Namun, dia ingin mencoba hal itu, berharap dengan hal itu, dia bisa sepenuhnya melupakan Nayna, dan bisa menganggap wanita itu sebagai ibu dari anaknya saja, tidak lebih lagi.
"Baiklah, nanti kita temui orang-tuanya, biar nanti Om suruh Nayna untuk ikut juga," ucap Arkan.
"Baiklah, terima kasih Om." Raffa tersenyum pada Arkan yang dibalas anggukan kepala dan senyuman pula oleh pria itu.
"Om harap jika memang dia hamil, kamu bisa menerima anaknya dengan baik, kamu juga bisa menjaga pernikahan itu, karena meskipun agama, tidak melarang adanya perceraian, tapi itu adalah hal yang seharusnya tidak terjadi juga," pepatah Arkan.
"Iya Om, aku akan berusha menjaga ikatan itu, menjaga komitmen yang sudah aku ambil." Raffa mengangguk singkat.
"Sekarang kamu pulanglah dulu, nanti malam kita berangkat ke sana," ucap Arkan.
"Iya Om, kalau gitu aku pulang dulu ya," pamit Raffa sambil bangun dari kursi yang berada di depan meja kerja Arkan itu.
"Iya," sahut Arkan mengagguk.
Raffa pun pergi dari ruangan itu, sedangkan Arkan yang -mulailah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya, dia melapaskan kacamata yang selalu diakainya jika tengah bekerja, lalu menyimpnnya ke meja.
__ADS_1
Dia masih memikirkan tentang Raffa, entah kenapa dia berpikir Raffa melakukan hal ini hanya untuk menghindar dari masa lalunya tentang Nayna, meskipun dia memang tidak pernah melihat gerak-gerik aneh yang ditunjukan keponakannya itu saat berhadapan dengan istriya.
Namun, dia sudah merawat anak itu dari dia kecil bahkan sebelum orang-tuanya meinggal pun, dia sering menjaganya di saat kakak dan kakak iparnya tengah pergi, jadi dia bisa tahu keponakannya itu tengah berusaha menyembuyikan perasaan dan tentang masa lalunya dengan Nayna.
Arkan sama sekali tidak memiliki pemikiran buruk tentang keponakannya itu, karena dia tahu, menghilangkan perasaan, juga kenangan masa lulu tidaklah mudah, jadi dia bisa mengerti jika saat ini Raffa juga mengalami hal yang sama seperti yang dia rsakan, sebelum kenal dan mencintai istrinya.
"Semoga ini memang yang terbaik untukmu, semoga Mika memang orang bisa menghilangkan bayang-bayang masa lalu itu, seperti Nayna yang bisa membuatku keluar dari cengkraman masa lalu," gumam Arkan dengan penuh harap.
Dia selalu ingin yang terbaik untuk keponakannya, dia tahu sbesar apa prasaan yang Raffa miliki pada Nayna, dulu keponakannya itu, selalu menceritakan tetang perasaanya itu padanya.
Saat tengah asyik dalam lamunannya itu, dia melihat handel pintu ruangannya bergerak, dia yakin jika yang membuka pintu itu Ivan, jika tidak sahabatnya itu, pasti istrinya, karenya hanya kedua orang itu yang selalu masuk ke ruanganny tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sayang," panggil wanita kesayangannya itu dengan nada manja, sambil memasuki ruangan itu.
"Iya Sayang, tumben ke sininya tidak bilang dulu," sahut Arkan dengan senyum lebarnya sambil bangun dari kursinya.
"Emang kenapa harus bilang dulu, ada yang kamu sembunyiakannya ya, jadi takut ketauan karena aku ke sini tidak bilang dulu," sahut Nayna menyipitkan mata, menatap curiga pada suaminya.
"Biasanya 'kan kamu kalau mau ke sini, selalu bilang dulu," sambug Arkan menarik tubuh Nayna ke dalam pelukannya.
"Aku tiba-tiba kangen aja, jadi langsung ke sini tanpa ngasih tau kamu dulu," sahut Nayna menghirup aroma tubuh Arkan sedalam-dalamnya.
"Oh, kenapa kangenya tiba-tiba, tidak selalu aja," ucap Arkan mennyimpan dagunya di puncak kepala Nayna.
"Biasanya juga selalu kangen, tapi sekarangnya kamgennya lebih lagi," sahut Nayna mendongak dan menatap wajah suaminya itu.
"Hmmmm baiklah, ayo kita duduk dulu," ajak Arkan sambil melepaskan pelukan mereka.
Nayna pun mengangguk, tapi matanya tak sengaja melihat ada dua cangkir di meja kerja suaminya, hal itu membuat dia menghentikan langkahnya yang akan menduduki sofa bareng suaminya, dia kembali menatap suaminya dengan curiga.
"Kok ada dua cangkir bekas kopi di sana, yang satu lagi bekas siapa?" selidik Nayna yang masih berdiri di depan Arkan yang sudah duduk di sofa.
__ADS_1
Dicurigai seperti itu, Arkan menanggapinya dengan tenang, dia tersenyum dan menarik Nayna agar duduk di pangkuannya, entah kenapa pria itu merasa jika akhir-akhir ini sikap wanita kesayangannya itu memang sedikit berbeda, jadi lebih curigaan.
"Itu bekas Raffa Sayang, barusan Raffa dari sini kamu tidak berpapasan dengannya gitu?" tanyanya dengan lembut, sambil merapikan rambut Nayna yang sedikit berantakan.
"Beneran, bukan bekas tamu perempuan?" nanya Nayna yang sudah mulai kembali normal lagi.
"Benar Sayang, lagian kamu sendiri tau 'kan, jika aku tidak pernah menerima tamu di ruanganku, selain orang-orang yang deket sama aku," terang Arkan masih dengan sabar.
Pria itu memang paling bisa mendinginkan suasana dan mengembalikan mood baik pada lawan bicaranya, apalagi pada Nayna, semarah apa pun dan semenyebalkan apa pun sikap Nayna yang memang terkadang masih memiliki ego tinggi, pria itu selalu menghadapinya dengan lembut dan penuh cinta.
"Aku hanya takut Mas, diam-diam ketemu sama wanita lain," tutur Nayna yang entah kenapa, akhir-akhir ini dia selalu memiliki pikiran negatif pada suaminya itu.
"Aku tidak akan melakukan itu Sayang, aku tidak mungkin melakukan hal yang membuatmu sakit hati," sahut Arkan menatapnya dalam.
Nayna pun tersenyum mendengar hal itu, dia kemudian menci*m bibir Arkan dengan singkat.
"Jangan maning-mancing Yang!" Peringat Arkan, membuat Nayna terkekeh.
"Oh iya mau apa Raffa ke sini?" Nayna turun dari pangkuan Arkan dan duduk dengan benar di sampingnya.
"Dia ke sini untuk .... "
Nayna mendengar setiap kata yang suaminya ucapkan itu dengan serius, dia hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk, tidak berniat untuk menimpalinya, hingga Arkan selesai bercerita barulah dia mulai bersuara.
"Berasa de javu ya Mas," ucap Nayna untuk pertama kali, saat Arkan selesai bercerita.
"Hemmm, mungkin Raffa jadi Arkan yang kedua," timpal Arkan sambil terkekeh.
"Tapi aku bersyukur karena kejadian itu, kini aku bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia yang sebenernya," sambung Arkan menatap Nayna dengan lamat.
"Iya aku juga bersyukur, pria yang pertama aku lihat saat itu adalah kamu," sahut Nayna yang juga ikut tersenyum.
__ADS_1