
"Kamu sebenarnya kenapa sih Mas, kok aneh tiap nyium bau makanan muntah terus, kamu bisa sakit kalau terus-terusan muntah gini, sama sekali tidak mau makan," ucap Nayna saat memapah suaminya yang baru saja muntah ke meja makan.
"Aku juga bingung Yang, tapi kemarin pas diperiksa semuanya baik-baik aja kok, tidak ada yang salah dengan kondisiku," sahut Arkan.
"Tapi ini udah beberapa hari, sejak di rumah sakit kamu seperti ini terus," ucap Nayna dengan wajah khawatirnya.
"Mungkin aku hanya kecapean aja Sayang, ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu ya, mau langsung tidur aja," ucap Arkan sambil menguap.
Satu lagi keanehan dari pria itu, biasanya suaminya itu jarang tidur saat masih sore, dia selalu mengerjakan sesuatu dulu dan akan tidur jika sudah tengah malam.
Namun, akhir-akhir ini pria itu tidur saat masih sore, Nayna benar-benar khawatir dengan kesehatan suaminya itu, tapi seperti yang Arkan ucapkan sebelumnya, menurut pemeriksaan dokter jika dia baik-baik saja.
"Ya udah aku bentar lagi nyusul, mau beresin dulu makannya, sama mau lihat dulu Rezvan," sahut Nayna.
"Iya cepat ya Yang," ucap Arkan.
"Iya Mas."
Arkan pun mulai beranjak dari meja makan, menuju ke kamarnya, sementara Nayna meneruskan makannya yang tinggal tersisa beberapa suap lagi.
"Non, tuan masih suka mual-mual ya kalau nyium aroma makanan?" tanya Karti mendekati meja makan.
"Iya Bi, aku jadi bingung sebenarnya Mas Arkan kenapa sih, apa dia memiliki penyakit berbahaya ya Bi?" tanya Nayna dengan takut pada Karti.
"Sepertinya bukan itu deh Non, alasannya," sahut Karti menggelengkan kepalanya.
"Terus kira-kira apa Bi?" tanya Nayna menatap Karti dengan khawatir.
"Non selama ini pakai pencegah kehamilan tidak?" tanya Karti dengan serius.
"Tidak Bi, setelah lepas asi Rezvan, aku tidak memakai apa pun," sahut Nayna menebak-nebak arah pembicaraan Karti itu.
"Itu berarti bisa saja saat Non hamil lagi sekarang, dan yang ngalamin ngidamnya tuan."
Mendengar ucapan Karti itu Nayna menatap artnya itu tak percaya.
"Masa sih Bi, emang bisa gitu. Pria yang ngalamin ngidam saat istrinya hamil?" tanya Nayna masih dengan wajah tidak percayanya.
"Bisa loh Non, itu namanya kehamilan simpatik kalau tidak salah, dulu waktu Bibi hamil anak pertama juga kayak gitu, almarhum suami Bibi yang ngidam," terang Karti lagi.
Antara senang dan tak percaya, saat mendengar hal itu, jika memang benar saat ini dia tengah hamil, bukankah itu yang dia harapkan selama ini.
"Sebaiknya Non coba tes aja Non, siapa tau benar," saran Karti langsung dijawab anggukan kepala oleh Nayna.
__ADS_1
"Tapi Bibi jangan bilang-bilang dulu ke Mas Arkan ya, takutnya ini cuma perkiraan kita aja," ucap Nayna.
"Iya Non, saya tidak akan bilang dulu ke siapa-siapa." Angguk Karti.
"Ya udah kalau gitu, aku ke atas dulu ya," pamit Nayna karena telah menghabiskan makanannya.
"Iya Non." Angguk Karti lagi.
Setelah itu Nayna pun pergi menaiki tangganya, dia pergi ke kamar anaknya terlebih dahulu.
"Mbak, Rezvannya udah tidur?" tanya Nayna ke Indah.
"Sudah Non, baru aja," sahut Indah berdiri di samping ranjang Rezvan.
Sementara Nayna mendudukkan dirinya di pinggir ranjang anaknya itu, dia menatap dan mengusap kepala anaknya itu dengan lembut.
"Mbak pergi istirahat saja, ini udah malam," ucap Nayna pada Indah.
"Baiklah Non, kalau gitu saya permisi dulu ya," pamit Indah.
"Iya Mbak," sahut Nayna menangguk.
Indah pun mulai beranjak pergi dari kamar itu, meninggalkan Nayna yang masih menatap anaknya yang tengah terlelap itu dengan lembut.
Dia pun mencium kening anaknya yang masih terbalut sedikit perban, lalu membenarkan selimut anaknya dan menghidupkan babby monitor, agar ketika anaknya bangun membutuhkan sesuatu, anaknya bisa langsung memanggilnya melalui baby monitor itu.
Nayna pun keluar dari kamar anaknya itu, dia menutup pintu dengan hati-hati tanpa menguncinya.
Tujuan ibu muda itu, kini adalah kamarnya, dia masuk ke kamarnya menyusul suaminya yang ternyata telah terlelap dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
"Kok lama Yang," ucap Arkan yang langsung membuka mata, saat Nayna merebahkan tubuh di sampingnya.
"Aku kan tadi bilang mau ke kamar Rezvan dulu," sahut Nayna.
"Oh."
Arakan menyahutinya dengan santai, dia kemudian mendekap Nayna dan menyimpan kepalanya di dada istrinya dengan mata yang sudah kembali terpejam.
Nayna mengusap rambut suaminya itu, dia kemudian mengambil ponselnya, lalu melihat tanggal di ponselnya.
"Ternyata aku udah telat seminggu, karena terlalu sibuk dengan Rezvan, aku sampai tidak menyadari hal ini," gumam Nayna dengan pelan.
Dia pun menyimpan kembali ponselnya dan mulai memejamkan matanya, dengan harapan esok pagi dia akan mendapatkan kabar baik.
__ADS_1
...*******...
Keesokan paginya, Nayna yang sudah membuka matanya lebih dulu, langsung beranjak dari ranjang, tujuan utamanya adalah satu, yaitu kamar mandi.
Dia membuka laci yang berada di bawah wastafel, tempat yang biasa digunakan untuk menyimpan stok sabun dan sebagainya, dia mengambil sebuah testpack yang sudah dia beli dari jauh-jauh hari.
"Semoga hasilnya sesuai dengan apa yang aku harapkan," gumam Nayna penuh harap, sambil mencelupkan testpack itu ke sebuah tempat kecil yang sudah dia isi dengan urine.
Setelah beberapa menit,Nayna pun mulai mengeluarkan benda segi panjang berukuran kecil itu, dari urine yang ditampungnya, lalu menatap tanda yang masih belum berubah.
Setelah menunggu dengan harap-harap cemas, seutas senyum pun mengembang, di bibir Nayna saat melihat garis itu telah berubah, dari yang semula bergaris satu, kini berubah menjadi dua.
"Aku hamil."
Berbeda dengan saat melihat tanda itu beberapa tahun yang lalu, dimana dulu dia langsung sedih dan bingung saat melihat tanda itu di alat yang serupa.
Namun, kini dia merasa teramat bahagia, garis dua yang sudah dia nantikan, kini terjadi juga, hatinya terus mengucapkan rasa syukur. Nayna segera keluar dari kamar mandi, bermaksud akan langsung memberikan kabar bahagia itu pada suaminya.
"Ke mana Mas Arkan?" gumamnya karena tidak mendapati keberadaan suaminya di tempatnya semula.
Nayna pun menyimpan testpack itu ke laci nakas, bermaksud akan memberitahu masalah itu, kepada suaminya. Dia kemudian keluar dari kamarnya, pergi ke kamar anaknya karena yakin jika suaminya pasti berada di sana.
"Mas," panggilnya dari ambang pintu kamar anaknya.
Arkan di dalam sana tengah menggendong Rezvan, dari arah kamar mandi menuju ke ranjangnya.
"Rezvan habis ngapain Mas?" tanya Nayna mendekati suami dan anaknya.
"Dia tadi mau pipis," sahut Arkan menidurkan anaknya kembali ke ranjang anaknya.
"Gimana badannya, masih pada sakit tidak?" tanya Nayna dengan lembut sambil mengusap kepalanya.
"Sudah tidak Ma, tapi Lesvan masih belum bisa menggelakan kaki Lesvan," sahut anaknya menatap kakinya yang terbungkus oleh gips itu dengan sedih.
"Nanti kalau Rezvan sudah sembuh pasti bisa jalan lagi kok," ucap Nayna berusaha menghibur anaknya itu.
"Apa masih lama Ma, Pa." Rezvan menatap Nayna dan Arkan dengan bergantian.
"Kalau Rezvan rajin minum obatnya, sama dengerin apa yang dokter katakan, pasti tidak akan lama kok," sahut Arkan menghiburnya.
"Benelan Pa," sahut Rezvan dengan senyuman yang hadir di bibirnya itu.
Nayna yang melihat itu menjadi terenyuh, melihat anaknya yang tidak nyaman dengan keadaannya, membuat dia ikut merasa sedih.
__ADS_1