
Setiap orang kini masih menunggu dengan harap-harap cemas akan kondisi Rezvan yang saat ini tengah ditangani di IGD.
Nayna masih belum berhenti menangis meskipun kini tidak mengeluarkan suara, hanya air mata yang terus mengalir di pipinya. Dia dan Arkan duduk di kursi tunggu dengan Arkan terus memeluk dan menenangkannya.
Tiba-tiba pintu yang semula tertutup dengan rapat itu kini mulai bergerak dan terbuka, menampilkan seorang dokter wanita yang belum terlalu tua keluar dari sana, Nayna yang melihat hal itu segera berdiri dan mendekati dokter itu.
"Dok bagaimana kabar anak saya?" tanya Nayna berdiri di hadapan dokter.
"Bisa kita bicara di ruangan saya, Pak, Bu," sahut Dokter itu tersenyum pada Nayna.
"Baiklah Dok," sahut Nayna.
"Silakan," ucap Dokter meminta Nayna agar mengikutinya.
Arkan pun ikut serta mengikuti dokter itu, dia menggenggam tangan Nayna yang terasa dingin itu dengan erat.
Mereka berjalan dengan perasaan takut yang memenuhi hati mereka, takut jika kabar yang akan mereka dengar itu adalah kabar kurang baik dari yang mereka harapkan.
Tak lama kemudian mereka sampai di ruangan dokter itu, baru saja mereka duduk di kursi yang dokter tunjuk.
"Bagaimana keadaan anak kami Dok?" tanya Arkan memulai percakapan.
"Untuk saat ini keadaan anak kalian telah melewati masa krisisnya," sahut Dokter.
Nayna dan Arkan menghela napas leganya, mendengar jawaban dokter itu.
"Namun anak kalian mengalami cedera tulang ekor, atau tulang belakang, akibat dari benturan yang cukup keras itu," sambung Dokter itu.
"Apa itu berbahaya dok?" tanya Nayna dengan cemas.
"Saya berharapnya tidak terlalu berbahaya, tapi kalian harus siap jika ada kondisi yang tidak kita harapkan pada anak kalian nantinya," terang Dokter itu membuat perasaan tenang kedua orang yang sempat hadir itu kini kembali lenyap.
"Maksudnya Dok?"
"Kemungkinan anak kalian akan mengalami kelumpuhan, tapi itu baru dugaan saja, entah itu lumpuh total atau lumpuh sebagian, kita akan mengatahui dengan jelasnya saat pasien sudah sadar."
Hancur, itulah yang Nayna rasakan saa
__ADS_1
mendengar kemungkinan apa yang dokter ucapkan tentang kondisi anaknya itu, bagaimana bisa anaknya mengalami hal seperti itu diusianya yang masih sangat kecil seperti itu.
"Mas!" lirih Nayna menatap Arkan dengan tatapan kosongnya.
"Baiklah, terima kasih karena sudah melakukan yang terbaik Dok, kalau gitu apa anak kami bisa dipindahkan ke ruang rawat?" tanya Arkan menatap dokter dengan tangan yang terus mengusap punggung Nayna yang bergetar.
"Sudah bisa Pak, nanti kami akan memeriksa kondisinya lebih rinci lagi, jika anak Bapak sama Ibu sudah sadar," sahut Dokter.
"Baiklah kalau gitu, permisi Dok," pamit Arkan.
"Iya Pak, harap sabar ya Pak, Bu," ucap Dokter itu menatap iba pada mereka.
"Terima kasih Dok," sahut Arkan, menuntun Nayna untuk berdiri.
Arkan merangkul Nayna yang berjalan dengan lemah itu, menuju ke tempat mereka menunggu sebelumnya, saat baru saja tiba di ujung lorong ruang IGD tiba-tiba saja tubuh Nayna luruh begitu saja.
Beruntung Arkan dengan sigap menahan tubuhnya, hingga istrinya itu tidak sampai jatuh ke lantai.
"Nay, bangun," ucap Arkan mengusap pipi Nayna yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Karena Nayna tidak kunjung bergerak, Arkan pun mengangkat tubuh tak sadar Nayna itu.
"Kenapa Nayna Ar?" tanya Winda.
"Mungkin Nayna kelelahan Ma," sahut Arkan.
"Baringkan dulu di sini," ucap Winda menunjuk bangku,
Arkan mengikuti apa yang dikatakan mertuanya, dia membaringkan Nayna di bangku yang cukup panjang yang tidak jauh dari ruang IGD.
"Biar Papa aja yang minta suster untuk ngurus ruang rawat untuk Rezvan," ucap Ferdi.
"Iya terima kasih Pa, maaf merepotkan," sahut Arkan, dijawab anggukan oleh Ferdi.
Sementara Winda sibuk mengulaskan minyak angin yang selalu ada dalam tasnya pada Nayna, juga mengarahkannya pada hidung Nayna agar dia sadar.
"Nay bangun Nak, jangan bikin Mama tambah panik," ucap Winda berbicara pada Nayna.
__ADS_1
"Sayang bangun Sayang, kamu jangan lemah, siapa yang akan menjaga Rezvan, dia saat ini membutuhkan kita."
Arkan berusaha menyadarkannya dengan menepuk-nepuk lembut pipinya, akhirnya tak berapa lama kemudian, Nayna pun mulai membuka matanya.
Dia menatap Arkan dan Winda dengan tatapan kosongnya, Arkan beberapa kali mendaratkan kecupan di keningnya, mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.
"Semuanya akan baik-baik saja, bukankah tadi dokter mengatakan itu hanya kemungkinan," ucap Arkan berusaha menenangkan Nayna.
"Bagaimana kalau itu benar Mas? Bagaimana dia menjalani hidupnya jika dia tidak bisa seperti anak lainnya!" lirih Nayna.
"Sssttt, meskipun itu benar, ada kita di sampingnya, kita akan memberikan apa yang dia inginkan tanpa dia harus mengambil sesuatu sendiri," sahut Arkan mengusap pipi Nayna.
Nayna tidak mampu untuk bersuara lagi, dia kembali menenggelamkan dirinya dalam pelukan suaminya, jas yang dikenakan Arkan yang semula rapi, kini telah berubah jadi kusut serta basah karena dari tadi dia terus memeluk Nayna yang terus menangis.
Tidak hanya Arkan, penampilan Nayna yang tadi rapi pun juga sudah acak-acakan, make-upnya sudah luntur, rambut yang semula tertata rapi kini menjadi berantakan.
Suara derap kaki yang saling bersahutan, membuat perhatian ketiga orang itu teralihkan, menatap ke asal suara yang semakin mendekati mereka.
Raffa dan Mika berjalan ke arah mereka, dengan pakaian mereka yang sudah berganti, tidak mengenakan lagi pakaian yang mereka kenakan sebelumnya.
Di belakang mereka pun ada Fara, Listi, juga Ivan yang juga sudah berganti pakaian dengan pakaian santainya, tidak lagi memakai baju yang mereka kenakan saat acara pesta pernikahan.
"Bagaimana kabar Rezvan Om?" tanya Raffa saat sudah berdiri di depan Arkan dan Nayna.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, untuk kondisi lebih rincinya, dokter akan memastikannya setelah dia sadar," ucap Arkan yang memilih tidak langsung memberitahu apa yang Dokter katakan sebelumnya.
Dia memilih menunggu dokter itu kembali menjelaskan, secara detail tentang kondisi anaknya pada setiap orang yang ada di sana.
Raffa pun mengangguk, dengan sedikit bernapas lega mendengar Rezvan sudah lepas dari masa kritisnya.
"Kamu sabar ya, Nay." Fara menepuk punggung Nayna, bermaksud untuk menenangkannya.
"Iya Nay, dia pasti akan baik-baik saja, kamu harus kuat demi dia," timpal Listi.
"Makasih Mbak." Nayna menjawabnya dengan suara yang serak, tanpa senyuman di wajahnya.
Tak lama kemudian pintu ruangan IGD terbuka, didorong oleh suster yang menarik sebuah brangkar dimana di atasnya terdapat Rezvan yang kini telah di perban di bagian kepala juga tangannya yang tidak tertutupi selimut.
__ADS_1
Nayna segera bangun, dia berdiri di samping brangkar itu, lalu ikut mendorong brangkar menuju ke ruang rawat yang akan menjadi tempat Rezvan dirawat.
Tidak hanya Nayna, tapi semua orang yang hadir pun mengikuti ke mana brangkar itu dibawa, Raffa menatap anaknya dengan sedih, anaknya yang selalu cerewet itu, kini hanya tengah terbaring lemah dengan perban yang menghiasi tubuh mungilnya itu.