Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 73


__ADS_3

Suara melengking tangisan yang berasal dari bayi yang baru saja hadir itu, membuat seluruh orang yang berada di ruangan persalinan itu, bernapas lega karena kehadirannya.


Bayi berjenis kelamin laki-laki itu, telah lahir ke dunia dengan membawa perasaan bahagia dan haru, bagi yang telah menunggunya selama sembilan bulan.


"Selamat Sayang, sekarang kamu sudah benar-benar menjadi seorang ibu, ibu dari seorang jagoan kecil," ucap Arkan mendaratkan beberapa ciuman di kening Nayna.


"Terima kasih Mas," sahut Nayna tersenyum dengan air mata yang jatuh dari ujung matanya.


Nayna tidak bisa menahan tangis harunya, saat mendengar suara tangisan dari anaknya itu untuk yang pertama kalinya, kini gelarnya sudah menjadi seorang ibu.


Arkan mengangguk dan tersenyum padanya, dia mengusap air mata yang turun dari mata Nayna itu dengan lembut.


"Perjuanganmu akan dimulai dari sini, tapi kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri," ucap Arkan dengan tulus.


Nayna mengangguk, dia benar-benar merasa beryukur memiliki Arkan di sisinya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya selama ini, jika tidak ada pria itu.


"Ini, Anda adzanilah dulu Pak," ucap suster yang sudah selesai membersihkan bayi mungil itu dan menyerahkannya pada Arkan.


"Terima kasih Sus," ucap Arkan tersenyum, lalu mengambil alih bayi itu.


Dia menatap bayi mungil yang tengah mengerjap dengan perlahan itu, menyesuaikan tempat barunya setelah sebelumnya, dari dalam kandungan.


Rasa syukur, terus dia gumamkan dalam hatinya, atas hadirnya mahluk mungil yang mampu memberikan kebahagiaan pada orang di sekelilingnya itu.


Nayna tersenyum melihat anaknya, juga melihat Arkan yang tengah mengumandangkan Adzan dan iqamah pada anaknya.


"Bayinya bisa dicoba disimpan di dada si ibu, dulu Pak," ucap dokter setelah Arkan selesai mengadzani anaknya itu.


"Baiklah Dok." Arkan pun menyimpan bayi itu di dada Nayna.


Nayna menatap bayinya dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya, bayi yang selama sembilan bulan berada di perutnya itu, kini telah ada dalam dekapannya.


Dokter memberikan intruksi agar Nayna membiarkan bayinya itu mencari sumber makanan dan minumannya.


"Aku mau keluar dulu ya, mau menemui Fasya, kamu aku tinggal dulu tidak apa-apa?" ucap Arkan dengan nada pelan pada Nayna.


"Iya Mas pergilah, di sini ada Mama, kalau ada apa-apa aku akan minta tolong pada Mama," sahut Nayna.


"Mas tidak akan lama," ucap Arkan.


"Iya Mas," sahut Nayna.


Arkan pun mulai pergi meninggalkan Nayna dan anaknya itu, tugasnya masih belum selesai, ada satu lagi tugasnya saat ini, yaitu mengurus masalah keponakannya.


"Apa Nayna dan anaknya sudah selesai diurus Ar?" tanya Winda, saat dia keluar dari ruangan itu.


"Sudah Ma, Mama sama Papa sudah bisa ke dalam untuk melihatnya," sahut Arkan tersenyum pada kedua mertuanya itu.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan ke dalam, kamu mau ke mana dulu?" tanya Ferdi.


"Arkan mau melihat keponakan Arkan dulu Pa, tidak akan lama kok," sahut Arkan.


"Baiklah, kalau gitu kamu pergilah."


Arkan mengangguk, mendengar ucapan Papa mertuanya itu, dia kemudian berpamitan pada kedua mertuanya itu menuju ke ruangan tempat Raffa dirawat.


Namun, sebelum itu dia menemui dokter yang menangani Raffa untuk membicarakan beberapa hal terlebih dahulu dengannya.


...******...


"Gimana Bi? Apa anaknya sudah lahir Bi?" tanya Raffa pada Bibi.


"Alhamdulillah sudah, Den. Anaknya laki-laki, tapi barusan Bibi belum bisa melihat ke dalam, karena belum beres," sahut Bibi tersenyum.


Lega, tentu saja, itu yang Raffa rasakan, seolah dia baru saja keluar dari jurang yang sangat dalam, saat mendengar jawaban dari artnya itu.


Anaknya telah terlahir dengan selamat, juga jenis kelamin anaknya itu sama seperti dengan perkiraannya, dia memiliki seorang jagoan kecil sekarang.


Raffa tersenyum, lalu mengusap ujung matanya yang tetasa basah, bukan tangisan kesedihan, tapi itu adalah tangisan bahagia.


Kebahagiaan yang bahkan tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata, hanya hatinya yang seolah terasa ringan, tidak ada lagi rasa terhimpit seperti sebelumnya.


"Aku sudah yakin kalau dia adalah anak laki-laki Bi, ternyata dia benar-benar laki-laki," ucap Raffa dengan senyuman merekah.


Bibi yang melihat reaksi Raffa itu, merasa sedikit aneh sebenarnya, dari tadi dia merasa ada yang janggal dengan Raffa yang terlihat sangat tidak tenang dengan proses persalinan Nayna itu.


Art yang sudah bekerja lama pada Arkan dan Raffa itu, memang tidak tahu apa yang terjadi antara Nayna, Raffa dan Arkan.


"Om Arkan udah datang Bi?" tanya Raffa pada Bibi.


"Sudah sepertinya Den," sahut Bibi.


"Baguslah kalau Om sudah ada," sahut Raffa mengangguk.


Di tengah-tengah obrolan mereka itu harus terpotong karena kedatangan Arkan yang langsung memasuki ruangannya.


Pria dewasa itu tersenyum pada Arkan juga pada Bibi, lalu dibalas senyuman juga oleh mereka berdua.


"Selamat ya Den, anaknya sudah lahir dengan selamat," ucap Bibi tersenyum ikut senang.


Arkan tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan selamat itu.


"Terima kasih Bi, Bibi bisa istirahat dulu, Raffa biar nanti dijaga suster, aku sudah memanggil sopir buat jemput ke sini," ucap Arkan.


"Baiklah kalau gitu, Den." Bibi pun mengangguk.

__ADS_1


"Kalau gitu, Bibi permisi dulu ya Den," pamit Bibi pada paman dan keponakan itu.


"Iya Bi," sahut Arkan.


Setelah artnya itu pergi, Arkan mendekati ranjang, lalu duduk di pinggir ranjang itu menatap keponakannya yang semakin kurus.


Dia memang sengaja meminta artnya itu untuk pergi, karena dia ingin berbicara dengan Raffa mengenai anak itu berdua.


Sesuai dengan kesepakatan antara Arkan, Nayna dan Raffa, jika mereka tidak akan membicarakan masalah ini kepada orang lain, cukup mereka bertiga saja yang tahu.


Mereka tidak ingin, karena hal itu akan menggangu tumbuh kembang anak mereka di lingkungannya kelak, mengingat kerumitan yang ada, jadi biarkan semua orang tahunya, jika anak itu adalah anak Nayna dan Arkan.


"Selamat ya Sya, sekarang kamu sudah jadi seorang ayah," ucap Arkan tersenyum pada Raffa.


Raffa yang tidak dapat menahan lagi, langsung memeluk omnya itu, dia menumpahkan berbagai emosi yang ada dalam dirinya itu pada pria yang sudah dia anggap sebagai ayah itu.


"Selamat juga untuk Om, bukankah itu adalah anak Om juga, terima kasih karena kalau tidak ada Om saat itu, mungkin saat ini anak itu tidak akan pernah ada," tutur Raffa.


Arkan pun hanya mengangguk dan tersenyum mendengar hal itu, dia menepuk punggung Raffa.


"Apa kamu sudah menentukan namanya?" tanya Arkan.


Raffa pun mulai melepaskan pelukan di antara mereka, dia menatap Arkan sambil tersenyum, lalu mengangguk dengan antusias.


Melihat Raffa yang terlihat lebih semangat itu membuat Arkan senang, dia tersenyum dan ikut mengangguk.


"Siapa namanya?"


"Rezvan Gioraff."


"Rezvan Gioraff?"


"Iya, Gioraff adalah gabungan dari Giovan dan Raffasya, bolehkan Om?"


"Boleh, itu bagus." Arkan mengangguk setuju.


"Setidaknya meskipun nanti aku pergi, nama aku ikut tersemat di anak itu," ucap Raffa tersenyum dengan tatapan menerawang.


"Kamu tidak akan pergi ke mana pun, kamu akan tetap ada di sini, melihat tumbuh kembangnya, bersama aku dan Nayna, kita akan mengurus anak itu bersama," ucap Arkan dengan serius.


"Tapi Om—"


"Lusa kamu akan melakukan operasi," potong Arkan pada ucapan Raffa.


Raffa menatap tak percaya padanya, sedangkan Arkan menatapnya sambil tersenyum, lalu mengangguk.


...----------------...

__ADS_1


Tadinya aku mau buat si Raffa meninggoy, tapi aku jadi gak tega, kasian juga kalau dia meninggoy, terlanjur sayang juga sama dianya🤣


Setuju gak, kalau Raffa tetap hidup, atau mau dia berakhir aja🤔


__ADS_2