Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 35


__ADS_3

Hari ini Nayna memutuskan untuk pulang ke rumah Arkan, sedangkan Arkan pagi-pagi sudah pergi dari rumah Ferdi untuk pergi bekerja.


"Kamu beneran tidak mau menginap lagi di sini, semalam lagi?" tanya Winda padanya yang kini sudah siap untuk pulang.


"Tidak Ma, aku tidak mungkin nginep lagi di sini, karena tidak enak sama Om Arkan, jika kita harus nginep terus di sini," sahut Nayna membuat Winda hanya mengangguk pasrah.


"Baiklah, kalau gitu biar Pak Ridwan yang anterin kamu."


"Iya Ma." Nayna mengangguk setuju.


"Ya udah, aku mau langsung pulang aja ya, Papa di mana?" sambung Nayna.


"Papa kamu tadi lagi di teras kayaknya," sahut Winda.


"Baiklah, kalau gitu aku langsung pamit aja sama Papa."


"Ya udah ayo, biar Mama anter."


Nayna pun mengambil tas selempangnya dan mulai melangkah keluar dari kamar itu, dia langsung menuju ke teras rumahnya untuk sekalian berpamitan pada Ferdi, diikuti oleh Winda.


Ferdi saat ini tengah berdiri di teras, sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, Nayna yang dapat mendengar obrolan serius papanya itu, memilih menunggu pria paruh baya itu agar selesai dengan urusannya terlebih dahulu.


"Ya, kamu pantau saja dulu sendiri di sana, saya masih belum bisa kembali ke pabrik untuk beberapa hari kedepan."


Setelah selesai mengatakan hal itu, sambungan telepon Ferdi pun terputus, dia melihat ke arah Nayna yang kini telah berdiri di sampingnya, bersama dengan Winda.


"Pa, aku pulang dulu ya," pamit Nayna mengulurkan tangannya, bermaksud untuk mencium tangan Ferdi.


"Hemmm." hanya itu sahutan dari Ferdi, sambil membiarkan Nayna mencium tangannya.


"Papa sama Mama, jaga kesehatan ya, kalau ada apa-apa hubungi aku langsung," ucap Nayna menatap kedua orang-tuanya dengan bergantian.


Winda hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, Nayna pun tersenyum pada kedua orang-tuanya itu dan mulai melangkah menuruni teras rumahnya.


"Jaga kandunganmu baik-baik."


Mendengar suara yang keluar dari mulut papanya itu, Nayna membalikkan badannya dan menatap pria paruh baya itu dengan senyuman lebarnya.

__ADS_1


"Iya pasti Pa," sahut Nayna mengangguk dengan antusias.


Dia senang, karena papanya sudah mau berbicara lagi dengannya, itu artinya papanya sudah mulai memaafkan dirinya, dia kemudian melihat ke arah Winda yang ternyata sedang tersnyum juga.


Mamanya itu pasti juga merasa senang, karena suaminya sudah mulai mau bicara lagi pada Nayna meskipun hanya sebatas itu kata yang dia ucapkan.


"Kalau gitu aku pergi sekarang ya Pa, Ma."


Nayna pun melanjutkan kembali langkahnya, dia menuju ke mobil yang telah menunggunya, saat mobil mulai berjalan, dia melambaikan tangan pada kedua orang-tuanya itu.


"Pak, jangan langsung pulang ke rumah ya," ucap Nayna pada sopirnya, saat dia baru saja keluar dari komplek rumah Ferdi.


"Iya Non, kalau gitu Non mau ke mana dulu?" tanya Ridwan.


"Aku mau beli beberapa baju."


"Ke toko baju yang biasa aja?" tanya Ridwan yang memang sudah tahu, di mana tempat Nayna biasanya membeli baju.


"Iya Pak, ke sana aja, biar bajunya agak murah-murah."


Karena waktunya pulang kerja Arkan masih lama, jadi bumil itu pun memutuskan untuk pergi membeli beberapa baju terlebih dahulu, semakin lama berat dan ukuran badannya, memang semakin bertambah, jadi saat ini baju yang masih muat di tubuhnya hanya tinggal beberapa saja.


Untungnya dia masih memiliki sedikit tabungan yang bisa buat dia beli beberapa baju yang cocok untuknya. Sampai saat ini dia memang belum pernah meminta uang sepeser pun pada Arkan.


Biasanya setiap dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan meminta hal itu secara langsung pada pria itu sesuai dengan apa yang Arkan minta pada saat itu.


Mengingat tentang suaminya itu, dia jadi teringat kejadian saat bangun tidur tadi, tiba-tiba saja wajahnya terasa memanas saat mengingat hal yang terjadi saat dia membuka mata itu.


Saat Nayna mulai membuka mata, dia mendapati jika saat itu ada sebuah tangan yang melingkari perutnya dengan begitu erat, untuk beberapa saat dia tidak dapat mencerna apa yang terjadi itu, tapi saat matanya melihat guling yang menjadi pembatas semalam, kini telah tergeletak di lantai dia pun sadar sadar sepenuhnya dengan situasi yang tengah terjadi.


Apa aku yang udah nyingkirin guling itu tanpa sadar ya?— gumam Nayna dalam hatinya.


Melihat posisi guling yang saat ini tergeletak di lantai sebelahnya, dia pun sadar pasti dialah yang telah menyingkirkan guling itu, karena tidak ingin merasa canggung, jika Arkan terbangun dengan posisi seperti itu, dia pun berusaha menyingkirkan tangan yang membelit itu dengan sangat hati-hati.


Namun, bukannya lepas, belitan itu malah semakin erat dan naik ke atas, Nayna bahkan sampai menahan napasnya saat merasakan, belitan itu sudah mulai berubah jadi usapan di tempat yang tidak seharusnya.


Dia menelan ludahnya dengan kasar, saat rasa geli menjalari seluruh tubuhnya akibat dari usapan tangan kokoh itu.

__ADS_1


Om Arakan ini, benar-benar masih tidur, atau hanya pura-pura dan cari kesempatan saja sebenarnya?— Nayna menyipitkan mata dan berpikiran negatif tentang Arkan atas apa yang pria itu lakukan padanya.


"Jangan pergi," gumam Arkan tepat di tengkuknya, hingga dia dapat merasakan hembusan lembut di tengkuknya itu dan hal itu membuatnya terasa merinding.


Karena tidak ingin membuat suasana semakin kacau, dia pun memutuskan untuk diam dengan posisinya itu, hingga beberapa menit kemudian, belitan itu mulai mengendur. Dia pun segera membebaskan diri dan menggantikannya dengan guling dan benar-benar bernapas lega saat sudah bisa terlepas.


Meskipun awalnya sempat memliki pikiran negatif terhadap prilaku Arkan itu, tapi setelah melihat pria itu terbangun dari tidurnya dan bersikap biasa saja, dia pun membuang pikiran itu dan beranggapan jika Arkan melakukan itu memang tanpa sadar.


"Non, Non!" panggil Ridwan yang ternyata dari tadi sudah berusaha memanggilnya beberapa kali, tapi tidak dapat sahutan juga darinya.


"Eh iya Pak, ada apa?"


"Kita sudah sampai Non," sahut Ridwan.


Nayna segera melihat ke luar mobil, ternyata mobilnya telah terparkir di parkiran toko yang ditujunya, saking asyiknya mengingat kejadian tadi pagi, dia sampai tidak menyadari jika ternyata mereka telah sampai.


"Ah maaf, tadi aku melamun Pak, jadi tidak sadar kalau ternyata kita sudah sampai," ucap Nayna tersenyum canggung.


"Iya tidak apa-apa Non."


"Ya udah, aku turun dulu, kalau Pak Ridwan mau pulang tidak apa-apa kok Pak, aku bisa naik taksi aja pulangnya," ucap Nayna sambil turun dari mobil.


"Saya nungguin di sini aja Non, tadi kan nyonya sudah meminta saya untuk mengantarkan Non sampai ke rumah," sahut Ridwan.


"Baiklah, maaf kalau nanti agak lama Pak."


"Iya tidak apa-apa Non."


Nayna pun mengangguk dan mulai melangkah memasuki toko itu, dia berkeliling mencari baju yang kira-kira pas untuknya, setelah mendapatkan beberapa yang cocok, wanita hamil itu pun bermaksud untuk segera membayarnya, dia tidak enak jika membiarkan Ridwan menunggunya terlalu lama.


"Nay!"


Langkah Nayna yang nyaris sampai ke kasir menjadi terhenti karena harus berhadapan orang yang sama sekali tidak ingin dia temui itu.


...----------------...


Hari senin nih, adakah yang mau ngasih aku vote sama bunga👉👈🥺

__ADS_1


__ADS_2