
"Pulanglah Raf, ini sudah malam," ucap Nayna untuk ke sekian kalinya pada ayah dari calon anaknya yang masih tidak menghiraukannya.
"Apa kamu segitunya tidak ingin aku temani," sahut Raffa memasang wajah melas pada Nayna.
"Bukan gitu, tapi kamu harus istirahat, kamu juga harus jaga kesehatanmu." Nayna berusaha memberikan pengertian pada Raffa.
"Aku tau, kalau kamu mau aku segera pulang karena takut suami kamu datang saat aku masih di sini, kan?"
Nayna diam, tidak menyahutinya karena itu salah satu dia ingin Raffa segera pergi, selain khawatir dengan kesehatan laki-laki itu, dia pun takut suaminya salah paham, jika sampai dia datang dan melihat keberadaannya.
"Baiklah sekarang aku akan pulang, tapi besok aku akan ke sini lagi, saat suami kamu pergi bekerja," ucap Raffa dengan berat hati.
"Kamu hati-hati di jalannya, jangan ngebut," ucap Nayna yang dijawab anggukan oleh lawan bicaranya.
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," ucap Raffa.
"Iya?" Nayna mengangguk.
Raffa mulai beranjak dari kursi yang dari tadi didudukinya, dia mulai melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Nayna sendiri.
Sementara Nayna mulai mengambil ponselnya, dia melihat riwayat chat, tidak ada satu pun chat dari Arkan yang masuk ke ponselnya itu, hanya ada balasan singkat yang pria itu kirim tadi siang.
Om, masih sibuk?
Bumil itu pun berusaha mengirimkan kembali sebuah pesan untuk suaminya, tapi seperti tadi siang, setelah beberapa menit menunggu masih tidak ada balasan dari si empunya nomor.
"Apa Om Arkan masih sibuk, tapi ini sudah malam, bukannya seharusnya dia sudah pulang," gumam Nayna melihat jam di ponselnya, sudah hampir jam sepuluh malam.
Dia terus berpikiran positif, jika saat ini Arkan masih bekerja, atau dia pulang terlebih dahulu ke rumahnya, mungkin sampai ke sananya akan telat.
Setelah hampir dua jam Nayna masih setia membuka matanya, dia terus menatap ke arah pintu, berharap Arkan akan membuka pintu yang kini telah tertutup rapat itu dan memasuki ruangan itu dengan senyum yang selalu dia sukai.
Namun, ternyata itu hanya menjadi angannya saja. Suaminya itu hingga saat ini masih tidak muncul, bahkan pesan yang dia kirimkan itu tidak mendapatkan balasan, hanya di baca saja oleh si empunya ponsel.
"Mungkin Om Arkan cape, jadi dia tidak ke sini dan langsung istirahat," gumamnya masih dengan pikiran positifnya.
__ADS_1
Meskipun hatinya merasa sedih karena sebenarnya, dia begitu mengharapkan kedatangan pria itu di sana, salahkah jika dia mengharapkan hal itu, apa itu terlalu berlebihan untuknya.
Selamat istirahat ya, Om. Isi pesan yang Nayna kirimkan lagi pada Arkan.
Tanpa sadar setetes air meluncur di pipinya, tapi segera dia hapus dan berusaha tersenyum, dia pun mulai menyimpan kembali ponselnya ke tempat semula. Lalu menaikan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, sampai menutupi seluruh tubuhnya dan berusaha untuk tertidur, meskipun cukup sulit.
Sementara itu di luar ruangan, Raffa beberapa kali menguap, di lorong yang sunyi itu, dia masih setia duduk menunggu kedatangan suami dari Nayna yang tak kunjung datang.
"Apa dia tidak akan datang, ini sudah tengah malam. Bukankah sudah waktunya untuk Nayna istirahat," gumamnya sambil berdiri.
Dia membuka sedikit pintu ruang rawat untuk mengintip Nayna, saat melihatnya sudah terlelap, dia pun memasukkan dirinya dengan hati-hati dan berjalan mendekati ranjang.
Melihat Nayna dari jarak yang dekat, hingga dia dapat melihat ada air yang menggenang di ujung mata yang kini telah terpejam dengan tenang itu.
"Apa kamu sedih karena dia tidak datang?" gumamnya, sambil menghela napas dalam.
Tidak ingin mengganggu tidur Nayna, dia pun berbalik dan menuju ke sofa, dia tidak mungkin tenang untuk meninggalkannya sendirian seperti ini, tadinya dia bermaksud akan pulang saat suami dari wanita itu datang.
Namun ternyata, pria yang ditunggu-tunggu olehnya itu tidak kunjung datang, meskipun sebelumnya dia menunggu pria itu dari jarak yang cukup jauh dari ruangan itu, karena dia ingin melihat secara langsung pria yang mungkin akan dipanggil ayah oleh anaknya kelak.
"Kamu sudah bangun Nay, mau aku bantu ke kamar mandi dulu atau mau sarapan dulu saja, tadi suster membawakan bubur untukmu," ucap Raffa saat Nayna baru saja membuka matanya.
Bukannya menjawab, apa yang Raffa ucapkan, Nayna malah menatap Raffa dari atas sampai bawah, melihat baju yang laki-laki itu pakai masih sama seperti kemarin, dia yakin jika laki-laki itu semalam tidak pulang.
"Kenapa kamu tidak pulang?"
"Sebenarnya aku sudah pulang, tapi semalam ponselku ketinggalan di sofa, jadi terpaksa balik lagi, tapi saat lihat kamu hanya sendiri, akhirnya aku nginep di sini karena takut kamu butuh bantuan," alibi Raffa.
"Kenapa aku tidak melihat ponselmu semalam?" Nayna menatap tidak percaya pada Raffa.
"Ponselku terselip, jadi kamu pasti tidak melihatnya. Aku juga semalam nyari dulu ke kamar mandi, juga di luar karena takut jatuh di luar." Raffa berusaha meyakinkan Nayna.
"Tidak perlu bohong seperti itu," ucap Nayna yang sepertinya tidak berhasil Raffa bohongi.
"Iya, iya. Aku semalam tidak pulang, aku bermaksud nungguin sampai suami kamu datang, tapi aku menunggunya cukup jauh dari ruangan ini kok." Akhirnya Raffa berkata dengan jujur.
__ADS_1
"Karena suami kamu tidak datang juga, akhirnya aku mutusin untuk masuk lagi dan numpang tidur di sofa karena di luar dingin, mana banyak nyamuk lagi," keluh Raffa.
"Terus kenapa kamu tidak pulang saja," ucap Nayna menatap Raffa dengan tegas.
"Bagaimana aku bisa pulang, kalau kamu sendirian di sini, gimana kalau kamu mau ke kamar mandi atau butuh apa-apa."
"Aku bisa meminta bantuan pada suster," sahut Nayna santai.
"Tapi suster jauh dari sini dan pasti butuh sedikit waktu untuk langsung ke sini," timpal Raffa, membuat Nayna tidak bisa menjawabnya lagi.
"Mau ke mana?" tanya Raffa sambil bergegas mendekatinya, saat dia membuka selimut dan menurunkan kakinya.
"Aku mau ke kamar mandi," sahut Nayna.
"Ayo aku bantuin." Tanpa menunggu persetujuan dari Nayna, Raffa pun merangkulnya.
Mereka berjalan dengan langkah hati-hati menuju ke kamar mandi, Raffa mengantarkan Nayna sampai memasuki kamar mandi, setelah itu dia pun keluar lagi.
"Aku tunggu kamu di depan pintu," ucap Raffa lalu menutup pintu kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Nayna sudah selesai dengan urusannya, saat dia membuka pintu kamar mandi, ternyata Raffa benar-benar menunggunya di depan pintu. Laki-laki itu pun kembali membantunya menuju ke ranjang.
"Apa kamu tidak menghubungi orang-tuamu?" tanya Raffa sambil mengambil bubur yang telah disiapkan oleh suster sebelumnya.
"Biar aku makan sendiri saja," ucap Nayna bermaksud akan mengambil alih mangkuk dari tangan Raffa.
"Biar aku saja," sahut Raffa menyodorkan sendok ke mulut Nayna.
Nayna pun dengan pasrah menerima suapan dari Raffa itu.
"Hubungilah orang-tuamu, mereka harus tau kondisimu, nanti aku akan pergi kalau orang-tuamu akan ke sini," ucap Raffa tanpa menghentikan kegiatannya, menyuapi Nayna dengan telaten.
"Iya, nanti aku akan menghubungi mereka, sebaiknya kamu jangan ke sini dulu kalau orang-tuaku memang ke sini."
Raffa mengangguk setuju dengan ucapan dari Nayna itu, setidaknya jika ada orang-tua Nayna dia tidak perlu khawatir.
__ADS_1
Akhirnya setelah selesai sarapan, Nayna benar-benar menghubungi orang-tuanya dan Raffa pun memutuskan untuk pulang, saat tahu jika orang-tua Nayna sedang dalam perjalanan menuju ke sana.