Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 32


__ADS_3

Nayna kini telah sampai di depan pintu rumahnya, tapi dia tidak langsung masuk ke dalam rumah itu, wanita hamil itu, beberapa kali menghela napas sedalam-dalamnya untuk menenangkan hatinya.


Secara perlahan, tangannya mulai terulur dan mengetuk salah satu pintu dari dua pintu yang ada ada di sana, setelah beberapa kali mencoba, di ketukan selanjutnya terdengar sahutan dari dalam pintu, disusul oleh pintu yang mulai terbuka.


Seorang wanita yang lebih tua darinya membuka pintu dan langsung tersenyum ramah padanya, dia adalah Art di rumah orang-tuanya itu.


"Loh, Non. Kirain siapa, kenapa tidak langsung masuk aja sih Non," ucap Art-nya, lalu membuka pintu rumah lebih lebar.


"Mama ada di rumah, kan Mbak?" tanya Nayna tersenyum ramah pada wanita yang memiliki bobot cukup besar itu.


"Ada Non, barusan habis makan siang, langsung nganterin tuan ke kamar untuk istirahat kayaknya."


"Oh, gitu Mbak," sahut Nayna mengangguk.


"Ya sudah, ayo masuk Non, kanapa malah berdiri di pintu seperti itu, pamali loh, orang hamil berdiri di pintu seperti itu, ayo masuk."


"Iya Mbak."


Nayna pun mulai melangkah, memasuki rumah yang tidak berubah dari semenjak dia tinggalkan, masih sama seperti sebelumnya, suananya juga masih sama, tenang dan menenangkan.


"Kangen ya Non, sama rumah ini?" tanya Art-nya yang masih mengekor di belakangnya.


"Iya Mbak, rasanya udah lama aku tidak pulang, padahal baru beberapa bulan saja?" sahut Nayna menengok ke arah Art-nya itu sambil tersenyum.


"Beberapa bulan serasa beberapa tahun Non, namanya juga ke rumah yang menjadi tempat kita lahir dan tumbuh, pasti rindu saat kita harus pergi dari rumah itu."


Nayna menganggukkan kepala, membenarkan apa yang Art-nya itu ucapkan.


"Oh iya Non, kalau boleh tau, kenapa Non sendiri ke sininya? Suami Non tidak ikut ke sini?"


"Tidak Mbak, suami aku lagi kerja, jadi tidak bisa ikut ke sini," sahut Nayna sambil menggelengkan kepala.


"Oh gitu, eh iya Non, mau saya buatkan minuman apa?"


"Tidak perlu Mbak, aku mau ke kamar dulu aja, nanti kalau Mama keluar dari kamarnya, bilangin aja kalau aku di kamar ya."


"Iya baiklah Non, Non pasti kangen juga sama kamarnya itu, kalau gitu Mbak mau ke belakang lagi ya."

__ADS_1


Nayna mengangguk dan mulai melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, dia menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada.


Saat membuka pintu kamarnya itu, ternyata semua yang ada di sana masih sama juga, tata letak barang-barang tidak ada yang bergeser, kamarnya pun sangat rapi, terlihat jika Art-nya itu selalu merapikan kamar itu.


"Aku merindukan kamarku ini," ucap Nayna yang mulai menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya.


Kamar itu memang lebih luas dan lebih mewah dari kamarnya yang ada di rumah Arkan, tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu, baginya tinggal di rumah sederhana itu juga sangat baik.


Daripada dia harus terlunta-lunta di jalanan, saat itu. Masih untung saat itu pria dewasa yang belum dia kenal dengan baik itu, mau membiarkannya untuk tinggal di sana, tidak meninggalkan dia begitu saja, karena marah atas apa yang telah dia lakukan padanya.


Memikirkan hal itu, dia jadi teringat kembali pada Arkan yang bersikap aneh saat di telepon tadi, dia berusaha berpikiran yang positif tentang hal itu, tapi pikiran negatif juga ikut serta berkecamuk dalam benaknya.


"Gak mungkin, kan? Kalau saat ini Om Arkan lagi bareng Mbak Listi, sampai dia terdengar malas berbicara denganku," gumam Nayna yang tak lama kemudian, menggelengkan kepala, berusaha menyanggah pikiran buruknya itu.


"Lagian apa salahnya, kalau Om Arkan lagi bareng sama Mbak Listi, biarkan saja, toh itu hak dia," sambungnya lagi, kemudian menerawang, menatap langit-langit kamarnya, sambil sesekali menguap.


Entah karena dia memang merindukan kamarnya itu, atau karena semalam kurang tidur, hingga tidak memerlukan waktu lama, dia pun langsung terlelap di sana.


...******...


Saat hari sudah mulai sore, Nayna menggeliatkan badannya, secara perlahan mata indahnya itu mulai terbuka sedikit demi sedikit.


"Iya Ma, masuk aja!" sahut Nayna pada sang mama dengan suara yang cukup keras.


Pintu pun terbuka, di suaul olah wanita yang sangat penting dalam hidupnya, memasuki kamarn dengan sebuh senyuman yang wanita itu tunjukkan.


"Mama kira kamu belum bangun," ucap Winda berjalan mendekati ranjangnya.


"Aku baru saja bangun Ma, ada apa Mama manggil aku ke sini? Apa ada hal yang penting?" tanya Nayna menatap Winda dengan berbagai pertanyaan yang dilayangkan.


"Mama hanya ingin kamu mulai berbaikan saja sama papa kamu, mama harap dengan kamu sering ke sini, bisa membuat papa kamu lebih cepat lupain kekesalannya itu."


"Tapi gimana kalau dengan adanya aku di sini, malah membuat Papa semakin kesal Ma?" tanya Nayna dengan penuh keraguan.


"Terus kamu pikir, mau sampai kapan kamu menghindar dari papa kamu itu, mama yakin papa kamu pasti akan segera kembali seperti sebelumnya," ucap Winda menatap Nayna dengan lamat.


"Ya mudah-mudahan aja, gitu Ma," sahut Nayna disertai helaan napas samar.

__ADS_1


"Ya udah, kalau gitu kamu mandi dulu gih, Mama mau ke dapur mau bantuin Mbak masak," ucap Winda yang langsung dijawab anggukan oleh Nayna.


Winda pun keluar dari kamar putrinya, menuju ke dapur untuk memasak, sedangkan Nayna setelah mamanya tidak ada, langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya.


Setelah selesai mandi dan memakai baju yang ada di rumah itu, Nayna pun keluar dari kamarnya, tujuannya adalah meja makan, karena sebentar lagi waktunya untuk makan malam.


Saat sampai di ruang makan, bumil muda itu melihat papanya sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di meja makan, pria paruh baya itu nampak sedang serius membaca koran.


"Pa, gimana kabar Papa sekarang, sudah mendingan?" tanya Nayna berbasa-basi, saat mendaratkan b*kongnnya di kursi yang tidak jauh dari Ferdi.


Namun, orang yang diajaknya bicara itu tidak menyahuti sapaan darinya, pria itu hanya melirik sekilas pada putri semata wayangnya, kemudian kembali melihat koran yang berada di tangannya.


Melihat sikap yang ditunjukkan oleh papanya itu, Nayna hanya bisa menghela napas dengan dalam, papanya itu memang orang yang sulit untuk melupakan kekesalannya, jika sudah kesal sama seseorang pasti akan lama untuk menghilangkan kekesalannya itu.


"Kirain kamu belum turun," ucap Winda yang baru saja memasuki ruangan itu dan menyusul duduk di meja makan.


"Aku baru aja tururn Ma," sahut Nayna.


"Kalau gitu kita langsung makan aja ya Pa," ucap Winda beralih menatap suaminya.


Ferdi pun mulai menyimpan koran yang di bacanya, dia hanya berdehem dan menganggukkan kepala samar, sebagai sahutan dari ucapan istrinya itu.


Winda mengambilkan makanan untuk suaminya terlebih dahulu, setelah itu baru untuk dirinya, sedangkan Nayna mulai mengambil makanan untuk dirinya, setelah orang-tuanya selesai.


"Suami kamu sibuk terus ya, Nay?" tanya Winda memulai percakapan di sela-sela makannya.


"Ya gitu deh Ma," sahut Nayna seadanya.


"Oh iya, kandungan kamu udah jalan lima bulan, kan? Gimana udah tau jenis kelaminnya belum?" tanya Winda.


"Aku sengaja gak minta dokter untuk ngasih tau sekarang Ma, biar jadi suprise aja."


"Padahal Mama penasaran, nanti beberapa bulan lagi Mama temani kamu belanja kebutuhannya ya."


"Iya Ma, masih lumayan lama juga, kan?"


"Iya sih."

__ADS_1


Winda berbicara dengan Nayna seperti itu, sambil sesekali melirik ke arah suaminya, dia yakin jika suaminya itu juga pasti sangat penasaran tentang bagaimana perkembangan calon cucu mereka.


Itu adalah cucu pertama mereka, jadi dia juga ingin tahu tumbuh kembangnya, begitu pun dengan suaminya, meskipun suaminya itu tidak mengatakan secara terang-terangan hal itu.


__ADS_2