Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 70


__ADS_3

Nayna masih menemani Raffa di rumah sakit, meskipun dokter mengatakan jika saat ini tidak ada perkembangan yang signifikan dengan kesehatan Raffa, tapi untuk saat ini kondisinya tidak terlalu memperihatinkan.


"Nay, kalau nanti dia sudah besar, apa kalian akan mengatakan jika aku juga ayahnya?"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki yang tengah melihat kosong ke arah langit-langit ruangan itu, membuat Nayna yang sebelumnya sibuk dengan ponselnya, beralih menatapnya.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Nayna.


"Kamu dan Om Arkan, tidak perlu mengatakan tentang aku padanya, cukup kalian saja orang-tuanya," ucap Raffa lagi masih dengan tatapan kosongnya.


"Dia anak kamu juga Raf, dia berhak tau hal itu," sahut Nayna.


"Percuma dia tau, Nay!" lirih Raffa.


Lalu secara perlahan bola mata laki-laki itu terarah padanya yang kini tengah duduk tepat di samping ranjang pasien itu.


"Jangan mulai deh Raf, kamu tau kan aku paling tidak suka kalau kamu berbicara seperti kamu akan segera mati saja!" sarkas Nayna dengan tatapan tajamnya.


"Bukankah itu memang kenyataannya, aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi," sahut Raffa sambil tersenyum tipis.


Laki-laki itu kemudian kembali menatap kosong langit-langit yang putih di ruangan itu lagi.


"Tapi sekarang aku sudah merasa senang, karena bisa bertahan sampai detik ini, seandainya aku bisa menawar lagi. Aku ingin meminta waktu sampai bisa melihatnya nanti."


Nayna yang mendengar ucapan dari Raffa itu hatinya terasa ngilu, tapi dia berusaha tidak menunjukkan kesedihannya itu.


"Kamu pasti bisa bertahan Raf, umur kamu masih panjang, tenang saja." Nayna berusaha tersenyum pada Raffa.


"Ya, itu cukup menghiburku Nay," kekeh Raffa.


Nayna menatap wajah pucat laki-laki itu dengan lamat, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, laki-laki yang menitipkan benih yang kini telah tumbuh bahkan tidak akan lama lagi akan terlahir.


Wajah yang dulu terlihat ceria, karena selalu dihiasi senyuman yang mampu membuatnya jatuh cinta. Namun, kini yang dapat dilihatnya saat ini seperti bukan dirinya lagi.


Rambut yang hitam legam menghiasi kepalanya itu, kini telah tiada. Wajah yang dulu nampak tampan, telah berubah menjadi cekung juga pucat.


"Kamu sebaiknya istirahat Raf, daripada mikirnya ke mana-mana," timpal Nayna yang sengaja mengalihkan pembahasan.


"Aku dari tadi udah istirahat Nay, bosan istirahat terus. Aku jadi kangen pergi jalan-jalan, maen basket bareng teman-teman," sahut Raffa.


Nayna tidak menyahutinya, dia hanya diam kembali memfokuskan dirinya pada ponselnya lagi, berbalas pesan dengan suaminya.


"Kapan Om Arkan pulang Nay?"


Nayna pun kembali mengalihkan perhatiannya pada Raffa yang ternyata tengah menatapnya itu.

__ADS_1


"Kalau pekerjaannya hari ini bisa selesai dengan baik, tidak ada hambatan lagi, besok katanya sudah bisa pulang," terang Nayna sesuai dengan apa yang dikatakan suaminya, melalui pesan itu.


"Hemmm, baguslah kalau gitu," sahut Raffa mengangguk samar.


"Kamu mau makan sesuatu gak Raf?" tanya Nayna.


"Tidak, aku tidak ingin apa pun. Oh iya ke mana Bibi, kok tidak kelihatan dari tadi?" tanya Raffa.


"Bibi tadi izin pulang dulu, dia mau membereskan dulu rumah katanya," sahut Nayna.


"Oh gitu." Raffa pun mengangguk paham.


"Kamu tidak capek Nay, tiap hari bolak-balik ke sini, seharusnya kamu istirahat saja di rumah, tidak harus ke sini setiap hari," sambung Raffa.


"Tidak, aku tidak lelah sama sekali," sahut Nayna menggelengkan kepalanya.


Di tengah-tengah obrolannya itu, dia merasa perutnya sedikit mulas, juga pinggangnya yang terasa panas.


Dia pun mengusap perutnya itu, juga mengurut pinggangnya secara perlahan, untuk mengurangi rasa panasnya.


"Kenapa Nay?" tanya Raffa yang menyadari pergerakan Nayna itu.


"Tidak kenapa-napa, ini kayaknya efek perut yang semakin membesar, jadi pinggangku sedikit sakit," terang Nayna.


"Aku baik-baik saja Raf, lagian Bibi belum kembali, nanti saja aku pulangnya kalau Bibi udah dateng," sahut Nayna.


"Beneran kamu tidak kenapa-napa Nay?" tanya Raffa meyakinkan.


"Iya, kamu tenang aja." Nayna bersikap biasa saja.


Menunjukkan jika dia memang tidak kenapa-napa, meskipun perut dan pinggangnya masih merasa sakit.


"Raf aku duduk sofa aja ya, biar bisa nyender," ucap Nayna.


"Iya," sahut Raffa mengangguk.


Nayna pun mulai berdiri dari kursi, dia melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan dan hati-hati, tapi belum sempat dia sampai ke sofa.


Dia meringis, hingga membuat Raffa pun refleks mendudukkan dirinya di ranjang, menatapnya dengan khawatir.


"Nay, kamu kenapa?" tanya Raffa.


"A–aku baik-baik saja Raf, kamu diam saja di sana," sahut Nayna berpegangan pada meja yang ada di dekat sofa.


Dia mengusap perutnya dan mengatur napasnya berharap itu akan mengurangi rasa sakit itu.

__ADS_1


"Nay jangan-jangan kamu mau lahiran," ucap Raffa dengan panik, dia menyingkap selimutnya, bermaksud untuk mendekati Nayna.


"Diam di sana, Raf. Aku baik-baik saja!" sentak Nayan saat melihat pergerakan Raffa itu.


"Tapi kamu harus diperiksa dokter Nay," sahut Raffa masih dengan ekspresi panik campur khawatirnya.


Dia bahkan berniat untuk melepaskan jarum infus yang menancap di punggung tangannya itu dengan paksa, jika Nayna tidak menghentikannya.


"Raf, demi apa pun aku akan marah kalau kamu melepaskan itu!" tekan Nayna menatapnya tajam.


Bumil itu kini sudah dapat menggapai sofa dan mendudukkan dirinya di sofa, dia masih berusaha mengatur napasnya dengan teratur.


"Tapi kamu harus diperiksa oleh dokter Nay, aku takut kamu dan anakku kenapa-napa," ucap Raffa menatap Nayna dengan sendu.


"Kalau kamu memang ingin aku diperiksa dokter, panggil suster dengan tombol itu aja, tidak perlu kamu turun dari ranjang," ucap Nayna menunjuk tombol yang berada di dekat nakas samping ranjangnya itu.


Raffa pun menatap benda itu, saking paniknya dia sampai melupakan jika ada benda itu di sana. Akhirnya tanpa menunggu lama lagi, dia pun segera menekan tombol itu dengan tidak sabar.


Berharap suster segera datang ke sana, untuk membawa Nayna pergi diperiksa ke dokter.


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu pun terbuka, seorang suster masuk ke dalam ruangan itu dengan memasang senyum ramahnya pada Raffa.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya suster itu.


"Mbak, tolong bawa dia untuk diperiksa, perutnya sakit," ucap Raffa menunjuk Nayna.


Suster itu pun segera mengalihkan perhatiannya ke sofa tempat Nayna duduk sambil mengusap perutnya itu.


"Baiklah, saya ambilkan dulu kursi roda ya Mbak," ucap suster itu yang hanya dijawab anggukan kepala samar oleh Nayna.


"Kamu sabar dulu ya Nay," ucap Raffa menenangkan Nayna.


Nayna kembali mengangguk, dia berusaha memasang senyuman agar tidak membuat laki-laki itu khawatir berlebihan terhadapnya.


"Ayo Mbak," ucap suster yang sudah kembali dengan kursi roda yang dia ambil dari luar, ruangan itu.


Suster itu pun membantu Nayna untuk pindah ke kursi roda, sebelum pergi dari ruangan itu Nayna menatap Raffa, berusaha menenangkan laki-laki itu.


"Aku akan baik-baik saja Raf, jangan terlalu berpikir berlebihan," ucap Nayna.


"Iya, kalau ada apa-apa kabari aku," ucap Raffa mengangguk.


Suster pun mulai membawa kursi roda itu meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Raffa yang menatap pintu dengan penuh harap.


"Semoga kalian baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2