
Nayna menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk itu, setelah semalam benar-benar dihajar tanpa ampun oleh suaminya.
Saat membuka mata, ternyata pria yang membuatnya kelelahan itu, kini tengah menatapnya dengan kepala yang ditahan oleh tangan.
"Mas udah bangun, dari kapan?" tanya Nayna membenarkan selimutnya.
"Iya, sudah cukup lama," sahut Arkan dengan wajah cerahnya.
"Terus kenapa masih di sini?" tanya Nayna yang malah membuat suaminya itu terkekeh.
"Memangnya aku harus ke mana Sayang, ini 'kan kamarku," ucap Arkan masih dengan sisa kekehannya.
"Ya maksud aku kenapa tidak pergi ke kamar mandi dan mandi," jelas Nayna.
"Bukannya kamu yang belum mandi."
Nayna melihat penampilan suaminya dengan lebih jelas lagi, ternyata benar. Pria itu sudah rapi dengan rambutnya yang sedikit basah, pertanda pria itu sudah mandi.
"Ya udah kalau gitu aku mau mandi dulu," ucap Nayna yang mulai mendudukkan dirinya.
Dia memperhatikan kamar itu, sudah kembali rapi, padahal dia ingat semalam kamar itu cukup berantakan, dengan baju mereka yang berserakan sembarangan.
Membayangkan kebar-bar'an mereka semalam, membuat dia menggeleng tak percaya, jika mereka bisa seperti itu, apalagi suaminya yang biasanya selalu tenang dan kalem, tapi semalam dia benar-benar melihat sisi lain dari pria itu.
Setelah permainan dari suaminya itu selesai, dia langsung tertidur, jangankan untuk membereskan kekacauan yang terjadi, bahkan untuk menggerakkan tangannya pun dia merasa tak kuat.
"Mas udah beresin kamar ini?" tanya Nayna menatap Arkan.
"Iya, aku tidak mau ada orang yang masuk ke sini, sedangkan kondisi di kamar ini berantakan, sisa-sisa perang semalam."
Wajah Nayna terasa panas mendengar ucapan dari Arkan itu, ya semalam mereka benar-benar telah perang, bahkan tubuhnya masih sedikit lelah karena perang semalam.
"Ayo bangunlah, sebaiknya kamu pergi mandi. Aku mau lihat Rezvan dulu, kasian dia pasti sudah pengen minum asi," ucap Arkan lalu turun dari ranjang.
"Baiklah Mas," ucap Nayna, sambil bergerak turun dari ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya itu.
Dia pun segera mengguyur tubuhnya itu dengan air hangat yang mengalir dari shower, membersihkan dirinya dari sisa peperangan dirinya dan Arkan semalam.
Karena teringat dengan anaknya, dia pun segera menyelesaikan ritual mandinya itu, dan memakai jubah mandi yang sudah tersedia di sana.
Dia keluar dari kamar mandi dan ternyata Arkan sudah ada di kamar itu, bersama dengan Rezvan yang ternyata sudah menangis.
"Oh Sayang, maaf ya Mama cuekin kamu dulu, kamu haus ya Nak," ucap Nayna yang langsung mengambil alih Rezvan dari gendongan Arkan.
"Dia sudah lama nangisnya Mas?" tanya Nayna sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.
"Kata Indah belum lama, dia baru bangun, tapi stok asinya habis. jadi langsung dia bawa ke sini," sahut Arkan.
"Oh, kirain udah lama," ucap Nayna.
Dia pun mulai menyus*i anaknya itu, sedangkan Arkan, duduk di belakang Nayna dan membuka handuk yang melingkar di kepalanya.
Arkan mengeringkan rambut Nayna menggunakan handuk kecil itu, sementara Nayna mengajak anaknya yang tengah lahap memakan makanannya itu berbicara.
"Mas sekarang kerja?" tanya Nayna menengok pada Arkan.
__ADS_1
"Iya, maaf ya, aku tidak bisa temani kamu, soalnya hari ini jadwalnya rapat mingguan, untuk para karyawan dari berbagai divisi," sahut Arkan.
"Iya, tidak apa-apa Mas, lagian aku juga tidak kenapa-napa kok," sahut Nayna.
"Kalau ada apa-apa kamu bilang saja pada Indah atau Bibi, atau kamu bisa telepon aku," ucap Arkan.
"Iya Mas," sahut Nayna tersenyum.
Arkan kemudian, melingkarkan tangannya di perut Nayna, dia mendaratkan beberapa kali kecupan di pundak dan leher Nayna yang terekspos, karena jubah mandi yang dikenakannya sedikit melorot karena dia tengah meny*sui anaknya itu.
"Mas geli ih," ucap Nayna yang kegelian dengan apa yang suaminya lakukan itu.
"Kamu wangi banget Sayang," sahut Arkan dengan lembut, tanpa menghentikan kegiatannya itu.
"Mas siap-siap dulu gih, ini sudah siang," ucap Nayna berusaha menghentikan aksi suaminya yang mulai bergerilya.
"Bentar lagi, aku masih ingin kayak gini dulu," ucap Arkan masih dengan aktivitas mengecup tengkuk istrinya itu.
Dia menyampirkan rambut yang masih setengah basah itu, ke sisi lainnya agar aktivitasnya itu tidak terhalangi oleh rambut.
"Mas, nanti Rezvan bangun lagi," ucap Nayna menatapnya dengan tampang melas.
"Dia tidak akan bangun," ucap Arkan dengan tenang.
Nayna, akhirnya hanya pasrah membiarkan suaminya itu terus dengan kegiatannya, tangan Arkan yang semula diam di perutnya, mulai bergerak mengelus dengan pelan, saumber makanan Rezvan yang manganggur.
"Mas," ucap Nayna memberikan peringatan agar Arkan berhenti.
Namun, bukannya berhenti, pria itu malah menaikan sebelah alisnya, memberikan tatapan menggoda pada istrinya, dengan senyum tanpa dosanya.
"Beri aku asupan sebelum bekerja oke," ucap Arkan mendudukkan dirinya di depan Nayna.
"Tapi ini sudah siang Mas, kamu harus segera ke kantor," ucap Nayna menolaknya dengan cara halus.
"Aku akan mempersingkat waktunya," ucap Arkan kukuh.
"Tapi—"
Arkan, tidak membiarkan Nayna menyelesaikan ucapannya itu, dia membungkam Nayna dengan ci*man lembut namun menurutnya.
Pria itu terus memancing Nayna agar istrinya ikut terhanyut dalam permainan itu, dia ingin mengulang kembali apa yang semalam terjadi di antara mereka.
Ingin menikmati, rasanya terbang ke nirwana, tenggelam dalam panasnya ga*irah cinta yang membuatnya, ingin merasakannya lagi dan lagi.
"Bolehkan? Sebentar saja," pintanya dengan tatapan yang sudah berkabut.
Karena tidak tega, melihat suaminya yang sudah dalam kondisi on seperti itu, mau tak mau akhirnya Nayna pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Mendapat lampu hijau dari istrinya itu, senyum penuh semangat pun segera terbit di bibirnya, secara perlahan dia pun kembali melanjutkan aksinya itu.
Dia menuntun Nayna agar kembali merebahkan tubuhnya di kasur, sementara Nayna melingkarkan tangannya di leher Arkan, dengan mata yang sudah terpejam.
Namun sayangnya, kegiatan yang mulai memanas itu harus terganggu, oleh suara yang berasal dari ponsel Arkan, membuat aktivitas itu pun terganggu.
"Mas, ponselnya bunyi tuh," ucap Nayna sambil menggigit bibir bawahnya, meredam desah*n dari bibir.
__ADS_1
"Biarkan saja," ucap Arkan yang tidak menghentikan kegiatannya yang tengah menyesap, leher Nayna.
"Tapi siapa tau itu penting," sahut Nayna, karena teleponya itu terus berbunyi tanpa henti.
"Tapi tanggung Yang," rajuk Arkan, lalu membawa tangan Nayna ke arah celananya.
"Tapi sekarang udah siang, Mas juga harus ke kantor," ucap Nayna berusaha memberikan pengertian pada suaminya itu.
"Baiklah!" decak Arkan meskipun dengan berat hati, tapi dia mulai beranjak dari ranjang.
"Apa!" sahutnya dengan kesal pada orang yang meneleponnya.
"Iya! aku lagi siap-siap dulu!" Arkan segera mematikan teleponnya, lalu menyimpan ponselnya itu kembali ke nakas.
Dia kemudian kembali ke kamar mandi, mengguyur dirinya dengan air dingin, untuk memadamkan hawa panas yang sudah terlanjur menyala dalam dirinya.
Sementara Nayna, pergi ke ruang ganti untuk berpakaian dan menyiapkan keperluan kerja suaminya.
Tak membutuhkan waktu lama, Arkan pun sudah selesai dengan ritualnya dan memasuki ruang ganti sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil.
"Ini bajunya Mas, sudah aku siapkan," ucap Nayna menyodorkan satu setel pakaian padanya.
"Iya makasih." Arkan tanpa semangat mengambil pakaian itu dan langsung memakainya di depan Nayna.
Nayna hanya melihat setiap gerakan suaminya itu, dengan seksama tanpa rasa malu, dia beranggapan jika dia dan suaminya sudah saling melihat satu sama lainnya, jadi kenapa harus malu-malu kucing lagi.
"Sayang," panggil Nayna dengan lembut.
"Hemmm," sahut Arkan tanpa minat.
"Marah ya," ucap Nayna sambil menatapnya.
"Tidak," sahut Arkan singkat.
Nayna yang mengerti jika mood suaminya itu buruk, dia pun mendekati suaminya, lalu berdiri di depan Arkan yang tengah memasangkan dasi di depan cermin.
"Kita bisa lanjutkan itu nanti malam ya, biar lebih tenang kayak semalam," ucap Nayna sambil mengambil alih dasi itu dari Arkan.
Dia menatap Arkan dengan lembut, juga dengan senyuman yang merekah di bibirnya, tangannya terus bergerak, memasangkan dasi di leher pria itu.
"Baiklah, nanti malam aku tidak akan melepaskanmu lagi," sahut Arkan yang sudah kembali membaik.
"Baiklah, sekarang Mas bekerja saja yang benar dan cepat pulang," ucap Nayna merapikan dasinya.
"Baiklah, tapi berikan aku penyemangat dulu."
Nayna langsung memberikan ci*man di seluruh wajah Arkan dan berakhir, di bibirnya dengan cukup lama.
"Sudah?" tanya Nayna, Arkan pun mengangguk semangat.
"Baiklah, ayo kita turun dan sarapan," ajak Nayna.
...----------------...
Jangan minta yang 🔥🔥 ya karena aku gak bisa bikin yang begituan🙈🙈
__ADS_1