
"Tidak kenapa-napa, makanannya enak kok," sahut Nayna menatap Raffa sekilas sambil tersenyum, setelah itu kembali melanjutkan makannya lagi.
Arkan diam-diam memperhatikan gerak-gerik Nayna itu, dengan sesekali menyuapi anak yang kini masih anteng di pangkuannya.
Selama acara makan itu berlangsung, tidak ada yang kembali membuka suaranya, ke empat, orang dewasa itu sibuk menghabiskan makanan mereka, hingga setelah makanan mereka habis dan mereka pun memutuskan untuk langsung pulang.
"Kamu hati-hati bawa mobilnya, setelah sampai rumah segeralah istirahat," ucap Arkan pada Raffa yang sudah sampai di samping mobilnya.
"Iya Om, kalau gitu aku duluan ya Om, Kak Listi. Om juga hati-hati ya bawa mobilnya," pamit Raffa sambil bergerak memasuki mobilnya.
Listi dan Arkan pun, hanya menganggukkan kepalanya, memperhatikan mobil Raffa yang sudah mulai bergerak meninggalkan area parkiran restoran itu.
"Ayo, aku anterin kamu untuk pulang," ucap Arkan pada Listi.
"Iya, tapi nanti jelasin apa yang baru saja terjadi ini," sahut Listi, sambil bergerak memasuki mobil.
Arkan hanya mengangguk setuju, lalu ikut memasuki mobil, dia pun menjalankan mobilnya itu, meninggalkan area parkiran restoran meneuju ke rumah Listi.
...********...
"Sedekat apa hubungan antara Om kamu sama Mbak Listi?"
Entah kenapa, pertanyaan itu keluar dari mulutnya begitu saja, pertanyaan yang selama ini timbul di hatinya, kini tanpa pikir panjang dia menanyakan hal itu, hal yang mungkin akan terasa aneh di indera pendengaran, laki-laki di sampingnya itu.
"Mantan pacar," sahut Raffa dengan enteng.
"Mantan pacar?" tanya Nayna menerawang.
Pantas saja jika mereka terlihat sangat dekat, ternyata benar perkiraannya, jika mereka memang pernah menjadi pasangan, pantas saja, dia dapat melihat sikap Arkan terhadap Listi begitu alami.
"Iya, dulu kalau tidak salah, mereka menjalin hubungan dari berteman saat masih sekolah menengah pertama, hingga saat kuliah mereka mulai majalin hubungan pacaran, dulu aku ingat mereka adalah pasangan yang benar-benar bisa buat orang iri."
"Om aku adalah pasangan terbaik, dia sama sekali tidak pernah menolak apa pun keinginan Kak Listi, entah karena memang itu adalah sifat alaminya, atau karena perasaan yang dimilikinya pada Kak Listi terlalu besar," terang Raffa yang tanpa dia sadari jika ucapannya itu, telah menimbulkan perubahan di raut wajah bumil di sampingnya.
"Terus kenapa mereka bisa putus." Meskipun hatinya terasa panas, tapi rasa penasaran dalam hatinya tidak bisa ditahan.
__ADS_1
"Seperti yang aku bilang tadi, dia tidak bisa menolak apa pun yang Kak Listi mau, termasuk saat Kak Listi meminta untuk mengakhiri hubungan mereka, dia menyetujuinya, meskipun harus menyakiti dirinya sendiri, asal itu terbaik untuk Kak Listi dan bisa membuat Kak Listi bahagia."
"Kapan mereka putus?"
"Seminggu sebelum acara pertunangan."
Nayna mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Saat itu kalau tidak salah setahun setelah orang-tuaku meninggal, awalnya dia terlihat baik-baik saja saat orang-tuaku yang merupakan saudara Satu-satunya meninggal, karena saat itu ada Kak Listi, hingga akhirnya setelah lulus kuliah, dia pun memutuskan untuk melamar Kak Listi dan mempersiapkan acara pertunangan, tapi semuanya tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan."
"Seminggu sebelum acara pertunangan itu diadakan, Kak Listi tiba-tiba saja meminta untuk mengakhiri hubungan mereka, tanpa bertanya apa alasannya waktu itu, Om Arkan menyetujuinya begitu saja."
"Apa karena dia terlalu mencintainya, hingga menerima gitu saja. Dan apa menurutmu mereka sekarang akan kembali bersama?" tanya Nayna menatap Raffa dengan serius.
"Menurutku memang itu alasannya, mungkin karena itu juga Om Arkan sampai sekarang belum memiliki pasangan lagi, mungkin dia nunggu saat ini, saat di mana Kak Listi kembali lagi padanya," ucap Raffa, sambil manggut-manggut.
Nayna yang mendengar hal itu, menelan ludahnya dengan kasar, saat merasakan dadanya terasa diremas, apakah benar yang Raffa ucapkan itu, jika itu memang benar, berarti saat ini pria yang berstatus suaminya itu akan kembali pada mantan pacar terindahnya.
Melanjutkan kisah cinta mereka yang sempat terhenti, menyambung kembali ikatan-ikatan cinta mereka yang sempat terputus, terus sekarang bagaimana dengan dirinya.
"Agak baper aja, dengar cerita tentang Om kamu itu," ucap Nayna berusaha tersnyum.
"Sekarang sebaiknya kamu turun, bersih-bersih dan segeralah istirahat," ucap Raffa karena saat ini mereka telah sampai di pinggir jalan depan rumah Nayna.
"Suami kau belum pulang?" tanya Raffa yang melihat rumah itu masih gelap.
"Belum," sahut Nayna sambil bergerak turun dari mobil.
Raffa pun mengikutinya untuk turun dari mobil, dia kemudian menutup pintu mobilnya itu.
"Biar aku bawa dulu barang-barangnya ya." Raffa berjalan menuju ke bagasi mobilnya, mengambil beberapa kantung barang belanjaannya dan stoller bayi yang dia beli tadi.
"Simpan di teras saja, biar nanti aku yang bawa ke dalam," ucap Nayna yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Raffa.
Nayna pun ikut membantu laki-laki itu membawa barang-barang untuk calon anaknya ke teras rumahanya.
__ADS_1
"Kamu bisa bawa semua ini ke dalam sendiri?" tanya Raffa, saat mereka telah selesai mengangkut barang-barang itu ke teras.
"Bisa, kamu segeralah pulang, ini sudah malam. Kamu juga harus istirahat," ucap Nayna sambil mulai membuka pintu rumahnya.
"Baiklah, kalau gitu. Aku pergi dulu ya," pamit Raffa.
"Iya, hati-hati."
Raffa pun kembali ke mobilnya dan langsung pergi dari sana, sedangkan Nayna mulai memasukkan satu persatu barang-barang itu ke dalam rumahnya, saat baru saja beberapa kantong yang dia masukan, Arkan sudah datang dan langsung membantu.
"Biar aku saja yang masukin ini ke dalam, kamu segeralah beres dan istirahat, ini sudah malam," ucap Arkan dengan mengambil beberapa kantong belanjaan itu.
"Biar aku bantuin saja."
"Tidak perlu!" sahut Arkan seolah tidak ingin dibantah.
Nayna pun akhirnya hanya bisa pasrah, dia mulai memasuki rumah dan segera membersihkan dirinya, meskipun benaknya lagi-lagi dibuat bingung oleh sikap Arkan yang biasa saja.
Dia segera memutuskan untuk tidak berlama-lama di kamar mandi, karena penasaran ingin menanyakan tentang hal beberapa saat ini terus mengganggu pikirannya itu.
Setelah selesai berpakaian di dalam kamar mandi, dia pun segera keluar dan saat itu Arkan baru selesai memasukkan barang-barangnya, tengah mengunci pintu rumah itu.
"Om, aku mau bicara sama Om," ucapa Nayna yang masih berdiri di depan pintu dapur.
Arkan berbalik dan menatapnya, dia tidak memberi tanggapan apa pun, hanya diam sambil menatap Nayna yang juga tengah menatapnya dengan berbagai pertanyaan yang ingin segera dia layangkan.
"Besok saja bicaranya, sekarang sebaiknya kamu sesegera istirahat," ucap Arkan yang seolah sengaja mmenghindar darinya.
"Tapi Om—"
"Aku juga cape, ingin segera istirahat," potong Arkan dengan berjalan dan langsung memasuki kamarnya.
Melihat reaksi Arkan yang seperti itu, membuat Nayna hanya bisa menghela napas sedalam-dalamnya, terlihat jelas jika saat ini pria dewasa itu tengah menghindarinya.
Namun, kenapa harus menghidar, Nayna benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang berstatus sebagai suaminya itu, karena yakin jika dia tidak dapat bicara dengan Arkan malam ini.
__ADS_1
Bumil itu pun akhirnya memutuskan untuk ke kamarnya, dia memang harus istirahat karena merasa cukup lelah, mungkin besok mereka bisa bicara tentang hal kenapa sikap Arkan yang terlihat biasa saja setelah pertemuan mereka itu.