Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 85


__ADS_3

Raffa saat ini tengah mengajak Rezvan jalan-jalan, dia membawa Rezvan ke mana pun yang anak itu mau, hingga membuat anak berusia tiga tahun lebih itu merasa girang.


Namun kini, hari sudah lumayan gelap, akhirnya Raffa pun membujuk Rezvan untuk berhenti bermain di wahana bermain itu, meskipun anak itu pada awalnya tidak mau, tapi pada akhirnya dia pun mau untuk diajak pulang.


Padahal sebenarnya, Arkan sudah menyiapkan tempat bermain khusus untuk anak itu di rumahnya, tapi tetap saja anak itu ingin bermain ke luar, karena jika main di rumah hanya ada dirinya, tidak seperti di tempat umum seperti itu, dimana dia bisa bertemu dengan banyak orang yang seumuran dengannya.


"Nanti lain kali Om pasti ajak kamu main lagi, sekarang udah malam, nanti kita dimarahi Papa kalau kita pulangnya kemalaman," ucap Raffa yang sudah mulai meninggalkan area tempat permainan itu.


"Baiklah, padahal tadi masih selu," rajuk anak itu.


"Iya om tau, tapi om tidak mau ya, kalau nanti sampai dimarahin Papa kamu," sahut Raffa berusaha membuat anaknya itu mengerti.


Rezvan tidak menyahutinya lagi, dia hanya diam fokus melihat ke jalanan, dengan mulut yang sudah mengunyah cemilan yang Raffa berikan.


Raffa menjalankan mobilnya dengan laju yang sedang, baru setengah perjalanan, dia merasa tidak mendapati pergerakan lagi dari sampingnya itu.


Saat menoleh, ternyata Rezvan sudah tertidur dengan tangan yang masih menggenggam cemilan, Raffa menghentikan mobilnya sejenak, mengambil cemilan yang ada di tangan anak itu lalu membenarkan sabuk pengamanannya.


Setelah dirasa cukup aman, dia pun kembali menegakkan tubuhnya, bermaksud akan kembali menjalankan mobilnya, tapi dia melihat di pinggir jalan ada Mika yang seperti tengah menunggu kendaraan umum lewat.


Raffa menjalankan mobilnya itu, mendekati Mika yang berdiri sambil sesekali melihat ponselnya.


"Dari mana?" tanya Raffa yang sudah berhenti di depannya dan membuka kaca mobilnya itu.


Mika yang semula tidak menyadari keberadaannya itu, mulai mengangkat wajahnya, di kemudian tersenyum singkat pada Raffa.


"Aku baru pulang kerja," sahut Mika.


"Masuklah, biar aku anterin kamu pulang," ajak Raffa.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Mika menatap Rezvan yang tengah terlelap.


"Tidak apa-apa masuklah, tapi duduknya di belakang ya, dia buru tidur soalnya," ucap Raffa.


Mika pun mengangguk paham, dia kemudian bergerak masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di kursi belakang.


"Makasih ya Raf, kamu udah beberapa kali nolongin aku," ucap Mika saat Raffa sudah mulai menjalankan kembali mobilnya itu.


"Iya sama-sama," sahut Raffa mengangguk.


Mika sesekali melirik ke arah Rezvan, dia bertanya-tanya dalam hatinya, siapa anak kecil itu, apa mungkin itu anaknya Raffa.


Tapi saat di rumahnya waktu itu tidak ada siapa-siapa, kalau dia udah nikah seharusnya ada istrinya. Mika membatin.

__ADS_1


"Eummm Raf, itu anak siapa?" Mika memberanikan diri untuk bertanya.


"Dia anak Omku," jawab Raffa singkat.


"Oh, aku kira dia anakmu," sahut Mika terkekeh.


Mendengar hal itu, Raffa hanya tersenyum sambil melirik ke arah anaknya yang masoh tenang itu.


Dia memang anakku.


"Oh iya Raf, gimana hubungan kamu dan Nayna?"


Raffa melirik pada wanita dibelakangnya itu melalui kaca spion, lalu menjawab, "Hubunganku dengannya baik-baik saja."


"Emmmm, apa hubungan kalian sudah sampai ditahap yang serius, aku ingat saat masih sekolah dulu melihat hubungan kalian begitu dekat," tutur Mika.


"Tidak, hubungan kami bukan lagi sebagai pasangan." Geleng Raffa.


"Maksudnya, kalian sudah putus?" tanya Mika lagi dengan ekspresi kagetnya.


"Nayna saat ini sudah menikah, dia bahkan sudah memiliki anak," sahut Raffa.


"Oh," sahut Mika mengangguk paham, meskipun dia masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu.


Raffa segera mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celananya, dia kemudian menjawab telepon yang tidak lain adalah omnya itu.


"Iya halo Om, Om udah nyampe rumah?"


"Iya ini aku lagi di jalan, bentar lagi sampai kok."


Setelah itu sambungan telepon itu pun terputus, Raffa kembali menyimpan ponselnya itu ke tempat semula lalu menatap Mika dari kaca spion.


"Kita anterin dulu anak Om aku tidak apa-apa 'kan? Rumahnya udah dekat kok," ucap Raffa.


"Iya tidak apa-apa kok ... apa om kamu itu adalah orang menyewakan rumahnya padaku?" tanya Mika.


"Iya, aku memang cuma punya satu Om," sahut Raffa mengangguk.


"Kalau gitu aku nanti mau menemuinya dan berterima kasih," ucap Mika yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Raffa.


Sesuai dengan ucapan Raffa, jika perjalanan mereka tidak akan lama lagi, kini mereka pun telah sampai di depan gerbang sebuah rumah yang cukup mewah.


Raffa menghentikan mobilnya di depan gerbang, tidak dibawa masuk karena ternyata omnya itu sudah menunggu di depan gerbang.

__ADS_1


"Om tumben nungguin di luar?" tanya Raffa saat turun dari mobil.


"Iya tadi Om habis dari depan beli makanan yang Mama Rezvan mau," sahut Arkan sambil menunjukkan sebuah kantong kresek yang dibawanya.


"Tidak pakai mobil Om?"


"Tidak, tempatnya juga dekat, di mana Rezvan?"


"Oh dia tidur Om, kayaknya kecapean habis main," sahut Raffa yang sudah mulai membuka pintu mobil tempat Rezvan.


Arkan mengangguk, lalu mengambil Rezvan yang masih terlelap itu dengan hati-hati, setelah itu dia menatap Raffa dan Mika bergantian.


"Oh iya, Om ini teman aku yang menyewa rumah Om," ucap Raffa yang berinisiatif memperkenalkan Mika pada Arkan.


"Halo Om, saya Mika. Terima kasih karena Om sudah mengizinkan saya untuk menyewa rumah Om itu," ucap Mika dengan ramah.


"Iya sama-sama, kebetulan rumah itu sudah cukup lama tidak ditempati," sahut Arkan menangguk.


"Iya terima kasih Om," sahut Mika lagi.


Arkan mengangguk, sebagai sahutan dari ucapan Mika itu, dia kemudian beralih menatap Raffa.


"Kamu mau masuk dulu Sya," tawar Arkan.


"Tidak perlu Om, ini udah malam. Aku mau langsung anterin Mika juga," sahut Raffa menggeleng.


"Baiklah, kalau gitu hati-hatilah, setelah nganterin teman kamu langsung pulang," ucap Arkan.


"Iya Om," sahut Raffa mengangguk patuh.


"Kalau gitu, kita langsung pergi ya Om," pamit Raffa.


"Iya."


"Kami permisi dulu Om," sambung Mika yang juga ikut berpamitan.


Arkan mengangguk, dia berdiam diri di sana hingga mobil Raffa mulai menghilang dari pandangan, setelah itu kembali masuk membawa anaknya yang tidak terganggu dari tidurnya.


Kembali ke mobil Raffa. Saat ini Mika telah duduk di kursi samping kemudi, bersebelahan dengan si pemilik mobil itu.


"Om kamu masih muda ya," ucap Mika membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam.


"Iya, kita hanya selisih umur 10 tahunan," sahut Raffa.

__ADS_1


"Pantesan, memang terlihat tidak terlalu jauh," ucap Mika mengangguk paham.


__ADS_2