Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 47


__ADS_3

Maaf aku tidak bisa menjemput kamu untuk pulang, ada hal yang harus aku urus.


Begitulah isi pesan dari Arkan pada Nayna siang ini, setelah membaca pesan itu, bumil yang kini sedang duduk berselonjor di ranjang rumah sakit, hanya dapat menghela napas dalam.


Iya, tidak apa-apa Om, semoga urusan Om berjalan dengan lancar.


Isi balasan yang Nayna kirim pada Arkan, sebelum akhirnya dia menyimpan ponselnya itu ke tas kecil yang akan disampirkan di bahunya.


"Arkan tidak bisa jemput kamu?" tanya Winda yang dapat melihat raut tak semangat dari wajah anaknya.


"Tidak Ma, Om Arkan katanya ada urusan," sahut Nayna memasang senyum pada mamanya itu.


"Apa suami kamu itu tidak bisa menyempatkan ke sini sebentar saja untuk menjemputmu, setelah itu dia bisa pergi lagi bekerja," timpal Ferdi yang tidak senang setelah mendengar ucapan Nayna itu.


"Om Arkan, ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan Pa, kalau Papa sama Mama tidak bisa anterin aku, biar aku pulang naik taksi aja," sahut Nayna pada papanya.


"Bukannya tidak bisa, cuma suami kamu itu harusnya lebih perhatian, setelah apa yang terjadi pada kamu. Dia bersikap seperti tidak menganggap anak dalam kandunganmu itu anaknya saja!" cerca Ferdi yang tidak memedulikan delikan dari istrinya itu.


Sementara itu Nayna mengepalkan tangannya dengan kepala tertunduk menatap perutnya.


Ini memang bukan anak Om Arkan, jadi wajar saja kalau dia juga tidak peduli padanya. Batin Nayna dengan rasa sesak yang hadir di dadanya.


Entah kenapa, dia merasa sedih dengan apa yang papanya katakan itu, ditambah sikap Arkan yang seolah acuh tak acuh padanya, selama dia berada di rumah sakit tiga malam, pria itu bahkan tidak pernah datang.


Padahal dia dengan sengaja meminta orang-tuanya untuk pulang, berharap Arkan akan datang menemui dan menemaninya agar mereka bisa menghabiskan waktu lebih banyak.


"Sudah, jangan dengarkan omongan Papa kamu itu, ayo sebaiknya kita pulang sekarang saja," ucap Winda, membuat Nayna mulai mengangkat wajahnya.


"Iya ayo Ma," sahut Nayna kembali memasang senyum pada kedua orang-tuanya.


Dia tidak ingin orang-tuanya itu merasa khawatir padanya. Nayna pun mulai turun dari ranjang dia berjalan dengan dibantu oleh mamanya keluar dari ruangan itu.


Saat hampir sampai di lobby rumah sakit, Nayna tiba-tiba saja kebelet dia pun menghentikan langkahnya dan ingin ke toilet terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ma, Pa. Duluan saja ya ke mobilnya, aku mau ke toilet dulu," ucap Nayna, membuat langkah kedua orang-tuanya pun ikut terhenti dan menatapnya.


"" Kenapa tidak dari tadi saja, saat di ruangan kamu," ucap Winda.


"Baru pengennya sekarang Ma."


"Ya sudah biar Mama anterin."


"Tidak perlu Ma, aku bisa sendiri kok, Mama sama Papa duluan saja aku tidak akan lama kok," tolak Nayna pada mamanya.


"Baiklah, kamu hati-hati jalannya." Winda pasrah membiarkan Nayna untuk pergi sendiri.


"Iya, Ma." Nayna segera berjalan menuju ke toilet yang tidak terlalu jauh dari sana.


Karena efek kehamilan yang semakin membesar, dia pun jadi sering bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah menemukan Toilet dia segera menuntaskan keinginannya itu.


Beberapa menit kemudian, dia pun selesai dengan urusan toiletnya dan segera kembali untuk menyusul orang-tuanya yang kini sudah menunggu di mobil.


Bumil itu berjalan dengan langkah ringan, menuju ke pintu lobby rumah sakit, tapi atensinya teralihkan oleh suatu objek yang mampu membuat langkahnya terhenti begitu saja.


"Om Arkan!" lirih Nayna dengan nada yang berupa bisikan.


Bukankah beberapa menit yang lalu pria itu mengatakan, jika dia tidak bisa menjemputnya karena ada urusan, jadi ini urusan yang dia maksud, mengantarkan anak dari wanita yang selalu membuat Nayna tidak tenang dengan keberadaannya.


Arkan dan Listi tampak sibuk dengan urusan administrasi, hingga tidak menyadari kehadirannya yang hanya berjarak beberapa langkahnya dari posisi mereka.


Melihat hal itu, orang yang hanya melihat sekilas pun pasti beranggapan, jika mereka seperti sebuah keluarga kecil yang terlihat serasi dan cocok dalam berbagai aspek.


"Ayo kita langsung ke dokter anak saja," ucap Listi dengan raut wajah khawatirnya.


"Iya ayo," sahut Arkan diiringi anggukan kepala ringan.


Nayna hanya melihat interaksi antara kedua orang itu dengan berdiri bak pajangan, melihat Arkan yang terlihat khawatir juga dengan anak yang kini tengah berada di gendongannya.

__ADS_1


Bumil itu merasa, bahwa kini dia adalah makhluk yang tak kasat mata, hingga baik Arkan mau pun Listi, melewatinya begitu saja. Apa mereka tidak menyadari keberadaannya atau pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya itu sengaja bersikap seolah tidak melihatnya di sana.


Tanpa sadar tangannya bergerak, memegang dadanya yang terasa sesak bukan main, seolah dihantam oleh besi yang berukuran besar. Dengan langkah yang terasa melayang, dia mulai membawa dirinya menuju ke mobil orang-tuanya.


Ingin rasanya dia menemui mereka saat ini juga, tapi apa yang harus diucapkan dan dilakukannya jika dia sudah berada di depan mereka, apakah dia harus memarahi mereka berdua, atau dia harus memaki Arkan karena lebih peduli pada anak dari wanita itu.


Nayna tersenyum kecut dengan mata yang terasa mulai memanas, apa haknya untuk melakukan semua itu, dia tidak memiliki hak apa pun untuk hal itu, karena lagi dan lagi dia harus tertampar oleh kenyataan, jika pernikahan antara dia dan Arkan hanya sebatas status saja.


"Kenapa, apa kamu merasa ada tidak nyaman lagi?" tanya mamanya yang tanpa sadar kini telah berdiri di hadapannya.


Karena dari tadi berjalan sambil menunduk, dia sampai tidak menyadari, jika ada mamanya di sana, Nayna berusaha tersenyum pada mamanya, dengan pikiran was-was, takut Winda atau Ferdi melihat Arkan tadi.


"Tidak kenapa-napa Ma, aku baik-baik saja, ayo Ma," sahut Nayna yang tidak berani menatap mamanya terlalu lama. Dia pun kembali melangkah, menuju ke mobil orang-tuanya itu.


"Terus kenapa kamu lama?" tanya Winda yang mengikutinya menaiki mobil.


"Tadi aku mules, jadi sekalian aja." Nayna menjawabnya dengan melihat ke samping.


Setidaknya dia bisa bernapas lega, karena kedua orang-tuanya, tidak melihat Arkan di sana, karena itu bukanlah hal yang baik jika orang-tuanya melihat keberadaan Arkan da Listi itu, apalagi papanya itu.


"Pantesan lama," sahut Winda, secara perlahan mobil yang dikemudikan oleh Ridwan mulai meninggalkan area rumah sakit, Ferdi duduk di kursi samping kemudi dan Winda duduk di sampingnya, kursi belakang.


Nayna hanya diam, menatap ke arah jalan, pikirannya melayang pada apa yang baru saja dilihat, keyakinan dalam hatinya kini semakin kuat, jika antara Arkan dan Listi ada hubungan yang spesial.


"Kamu mau pulang ke rumah kalian saja, tidak ke rumah kita agar Mama bisa memantaumu," ucap Winda membuat perhatian Nayna teralihkan ke mamanya.


"Tidak Ma, aku mau pulang saja." Nayna menggelengkan kepala mendengar ucapan mamanya itu.


"Baiklah kalau gitu," sahut Winda, setelah itu dia tidak berbicara lagi.


Nayna yang merasakan adan notifikasi di ponselnya pun segera mengeluarkan benda pipih itu dari tasnya, dia melihat ada sebuah pesan yang masuk.


Aku ikut mengantarkanmu pulang, aku ada di belakangmu.

__ADS_1


Setelah melihat isi pesan itu, dia berbalik dan melihat ke arah belakang mobilnya, kemudian bibirnya terangkat, karena sadar di belakang ada mobil yang mengikutinya, itu adalah mobil Raffa.


__ADS_2