
Arkan segera membalikkan badannya setelah mendengar ucapan Nayna itu, dia kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh perut istrinya yang seperti bola itu mencari tahu apakah anak di dalamnya benar-benar bergerak seperti yang bumil ucapkan, dan benar saja. Saat dia menyentuh calon anak Nayna, bayi itu masih bergerak aktif.
"Hey, kenapa kamu aktif banget malam-malam gini, apakah kamu marah karena mama kamu tidak istirahat, hingga kamu juga tidak bisa istirahat juga," ucap Arkan berbicara pada perut Nayna.
"Mana ada dia kayak gitu, Om. Dia gerak karena dia lagi pengen aja, bukannya marah," sanggah Nayna pada Arkan.
"Kamu benar-benar marah kan, sama mama kamu?" tanya Arkan tidak memedulikan ucapan Nayna itu.
Saat merasakan gerakan yang cukup aktif dari perut Nayna lagi, senyuman di wajahnya semakin lebar, kemudian menatap Nayna dengan sedikit mendongak karena posisinya saat ini sedikit membungkuk.
"Kamu lihat, kan? Dia merespon aku, berarti apa yang aku katakan tadi benar, dia marah sama kamu," ucap Arkan dengan tersenyum penuh kemenangan.
Bukannya kesal, dengan sikap Arkan yang sedikit kekanakan itu, tapi Nayna malah tersenyum, gemas rasanya pada pria yang umurnya jauh lebih tua darinya itu. Melihat dia berinteraksi dengan calon anaknya, menghadirkan rasa hangat hingga dalam hati.
Apakah pria itu nanti akan menerima dan menyayangi anaknya dengan baik, apa lagi jika seandainya nanti mereka memiliki anak lagi yang tidak lain adalah anak kandungnya.
"Om—"
"Manggil apa barusan!" tekan Arkan dengan tatapan cukup tegas.
"Maksudnya Sayang." Ralat Nayna pada panggilannya.
"Apa Sayang?" sahut Arkan kembali menundukkan kepalanya dan mengusap perut Nayna.
Pria dewasa itu begitu menikmati bisa merasakan gerakan calon anak dari wanita tercintanya, calon anak yang nantinya akan menjadi anaknya juga, memikirkan hal itu dia semakin tidak sabar, dipanggil ayah, dia seperti harus mulai memikirkan panggilan apa yang pas untuknya nanti.
"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri kayak gitu?" tanya Nayna, karena melihat Arkan yang tiba-tiba saja senyum-senyum sendiri sambil asyik mengusap perutnya itu.
__ADS_1
"Aku lagi mikirin panggilan apa yang pas, untukku nanti setelah dia lahir," sahut Arkan apa adanya.
"Apa kamu akan menyayangi dan menerimanya dengan baik nanti?" tanya Nayna dengan serius.
Mendengar apa yang ditanyakannya itu, Arkan segera menghentikan kegiatannya semula. Kemudian menegakkan kembali tubuhnya menatap Nayna tak suka.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Nanti aku pasti akan memiliki anak lagi dan itu adalah anak kandungmu, aku hanya takut rasa sayangmu pada anak ini berkurang, hal itu pasti akan membuat aku tidak nyaman nantinya, karena aku juga tidak ingin sampai dia merasa terabaikan," terang Nayna yang merupakan ketakutan seorang ibu pada nasib calon anaknya.
"Kamu tatap mataku, apa kamu pikir aku akan sampai tega melakukan hal itu, jika nanti kamu hamil dan melahirkan anak aku, rasa sayangku padanya tetap tidak akan berkurang, meskipun dia bukan hadir karena aku, tapi dalam dirinya tetap ada sedikit darahku yang mengalir dalam dirinya karena dia adalah anak dari keponakanku."
"Aku tidak akan pernah membedakan kasih sayang yang aku miliki pada anak-anakku nanti, mereka akan mendapatkan kasih sayang yang sama rata dariku, tidak akan ada yang aku bedakan sama sekali, kamu tidak perlu takut akan hal itu, cukup percaya padaku dan biarkan waktu yang menjawab semuanya."
Nayna menatap Arkan dengan penuh rasa haru, mungkin memang benar, tidak seharusnya dia memiliki pemikiran seperti itu, tapi naluri seorang ibu membuatnya memikirkan nasib anaknya kelak.
Dia takut karena anaknya sekarang bukan anak kandung dari Arkan, rasa sayang pria itu akan berbeda. Dan pada akhirnya, dia akan dihadapkan dengan pilihan antara anaknya dari Raffa itu atau anaknya Arkan itu.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, jika kamu memang takut aku akan seperti itu, maka nanti kita tidak perlu memiliki anak lagi, cukup dia saja," ucap Arkan tanpa ragu, lalu menarik Nayna ke dalam pelukannya, memberikan rasa nyaman pada istrinya itu.
Dia mengerti, kenapa Nayna sampai memikirkan hal itu, saat ini perasaan Nayna pasti sedang tidak stabil, mendekati masa persalinan, terkadang bumil mengalami banyak ketakutan dalam dirinya. Jadi dia harus bisa lebih ekstra, untuk menjadi tempat teraman dan ternyaman untuk bumil itu.
Baginya meskipun nanti dia memiliki anak lagi dengan Nayna itu tidak masalah, hanya dengan adanya anak itu saja sudah cukup, karena menurutnya anak adalah bonus dalam pernikahan, karena yang akan menghabiskan waktu dengannya adalah istrinya, jadi dengan adanya Nayna saja di sisinya itu sudah lebih dari cukup.
"Maaf tidak seharusnya aku meragukanmu," ucap Nayna dengan nada pelan.
Dia membalas pelukan Arkan dan memejamkan matanya. Ya, memang seharusnya dia tidak pernah meragukan kebaikan dari pria yang menjadi suaminya itu, pria yang jelas-jelas berhati baik.
__ADS_1
"Aku mengerti ketakutanmu, aku tidak bisa berjanji banyak, karena terkadang janji terlalu mudah untuk diingkari, aku hanya bisa memintamu untuk melihat ke depannya aku akan seperti apa, seperti yang aku ucapkan sebelumnya, jika di masa depan aku memang melakukan kesalahan, tegur aku dan bawa aku ke jalan yanga benar lagi."
Nayna tidak mampu menjawab lagi ucapan pria itu, dia hanya menganggukkan kepalanya menikmati dekapan hangat dari suaminya yang selalu bisa menenangkan hati dan pikirannya.
Kurang beruntung apalagi dia saat ini, mendapatkan pria sebaik dan sesabar Arkan, bertanggung jawab juga mau menerima dirinya apa adanya, terlepas dari bagaimana masa lalunya.
"Apa kamu mau terus seperti ini hemmm?" tanya Arkan karena dia masih belum menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya, biarkan seperti ini dulu, ini benar-benar nyaman," sahut Nayna apa adanya.
Arkan pun lagi-lagi kembali tersenyum, sepertinya akhir-akhir ini stok senyumnya tidak terbatas. Hingga tidak ada habisnya, dia kemudian mendaratkan kecupan ringan di kening Nayna.
"Baiklah, jika kamu merasa nyaman."
Akhirnya dia pun kembali melanjutkan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi itu, dengan sebelah tangan merangkul istrinya yang bersandar nyaman di dada bidangnya.
Setengah jam kemudian, Arkan sudah selesai dengan pekerjaannya, dia segera mematikan dan menutup laptopnya. Kemudian tatapannya beralih pada Nayna yang sudah terlelap di pelukannya.
Arkanpun segera mengangkat tubuh Nayna yang cukup berat itu, membawanya ke kamar milik bumil itu, saat ini dia dan istrinya memang masih tidur dengan kamar terpisah.
"Selamat istirahat," ucap Arkan setelah selesai menidurkannya di ranjang dan memakaikan selimut untuk melindungi bumil itu dari dinginnya malam.
Tidak lupa juga sebuah kecupan pengantar tidur dia berikan pada wanita muda yang kini sudah sepenuhnya menjadi pemilik hatinya itu. Setelah itu Arkan pun segera keluar dari kamar itu.
Dia membereskan meja tempatnya bekerja tadi terlebih dahulu, lalu membawa laptopnya ke dalam kamar dan mulai memejamkan matanya, karena masih ada beberapa jam hingga pagi datang, jadi kini waktunya untuk dia mengistirahatkan dirinya.
...----------------...
__ADS_1
Maaf banget telat, ya up-nya🙏
Sekarang gak janji bakal dobel ya, tapi kalau memang memungkinkan pasti bakal up lagi, meskipun malam🙏