
Nayna dibawa ke ruang khusus untuk ibu hamil, dia meminta dokter kandungan yang biasa menanganinya untuk memeriksa keadaannya itu.
"Ini baru pembukaan dua," ucap dokter setelah memeriksa keadaannya itu.
"Apa masih lama Dok?" tanya Nayna yang sudah merasa lebih tenang, karena rasa sakit itu tidak terlalu terasa lagi.
"Tergantung kondisinya, proses setiap orang berbeda, ada yang membutuhkan waktu lama dari durasinya pembukaan awal ke pembukaan akhir, ada yang membutuhkan waktu singkat," terang Dokter.
"Tapi sepertinya, ini masih cukup lama. Kamu bisa coba buat jalan-jalan ringan dulu, kalau merasa kontraksi lagi, bisa istirahat," lanjut dokter itu.
"Apakah aku bisa pulang dulu dok?" tanya Nayna.
"Sebaiknya tidak, karena takutnya durasi pembukaannya cepat, sebaiknya di sini aja dulu, kalau bosen. Bisa coba jalan-jalan di sekitar sini," terang Dokter lagi.
"Baiklah Dok," ucap Nayna mengangguk patuh.
"Sebaiknya hubungi suami kamu, biar dia bisa menemani di sini," saran Dokter.
"Mas Arkan masih di luar negeri, dia baru pulang besok. Nanti aku akan hubungi Mama sama Papa aku aja Dok," ucap Nayna.
"Baiklah, kalau gitu aku tinggal dulu bentar ya, biar suster yang jagain kamu di sini, aku masih ada beberapa pasien lain lagi, setelah selesai nanti akan ke sini lagi."
Nayna pun mengangguk, dokter yang sudah cukup dekat dengannya itu pun, mulai meninggalkan ruangan itu.
Setelah Dokter itu menghilang dari balik dinding ruangan itu, Nayna mengambil ponselnya, menghubungi mamanya agar datang ke sana.
Setelah selesai memberikan kabar pada orang-tuanya, dia mencoba menghubungi Arkan, menanyakan apakah pekerjaan suaminya itu sudah selesai.
"Mas gimana pekerjaannya?" tanya Nayna saat Arkan mengangkat telepon darinya.
"Doakan saja, semoga nanti malam semuanya berjalan dengan baik, nanti malam adalah rapat untuk penentuannya, kalau seandainya nanti malam kita bisa mencapai kesepakatan yang diinginkan dari kedua belah pihak, maka besok aku sudah bisa pulang," terang Arkan dari balik telepon.
"Semoga saja semuanya lancar," ucap Nayna.
"Iya aamiin, kabar kamu di sana gimana baik-baik saja 'kan?" tanya Arkan.
"Aku baik-baik saja Mas," sahut Nayna yang memilih tidak mengatakan tentang kondisinya itu.
Dia tidak ingin Arkan kepikiran, hingga menghambat pekerjaannya, dia tahu sebesar apa usaha Arkan untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan itu.
Jadi dia tidak ingin membuat apa yang sudah dikerjakannya menjadi sia-sia karenanya, apalagi dokter sudah menjelaskan, jika waktunya untuk melahirkan, masih belum tentu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, apa sekarang kamu lagi di rumah sakit?" tanya Arkan.
"Iya Mas," sahut Nayna mengangguk, meskipun Arkan tidak akan melihat anggukannya itu.
"Apa kamu tidak lelah, bolak-balik ke rumah sakit setiap hari, kamu sebaiknya istirahat saja di rumah jangan terlalu sering ke rumah sakit," ucap Arkan yang mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tidak kenapa-napa kok Mas, oh iya Mas. Mas udah makan belum?" tanya Nayna yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Ini aku lagi makan sama Listi, kamu sendiri udah makan belum?" tanya Arkan.
"Udah Mas, tadi aku makan bareng Raffa," sahut Nayna.
"Oh iya, gimana kabar Raffa sekarang?" tanya Arkan yang memang selalu menanyakan tentang perkembangan kesehatan keponakannya itu dari Nayna.
"Kata dokter sudah lebih baik, dari kemarin-kemarin. Meskipun tidak ada perkembangan yang signifikan," terang Nayna.
"Syukurlah, bilang padanya kalau aku akan usahakan untuk pulang besok, jangan benyak pikiran."
"Iya Mas," sahut Nayna.
"Kamu juga jangan banyak pikiran ya, kalau ada apa-apa langsung kasih tau aku," ucap Arkan lagi.
"Aku matikan dulu ya teleponnya, ada rekan kerjaku di sini yang mendatangi kami," ucap Arkan.
"Iya Mas, Mas hati-hati ya selama di sananya, cepat pulang," ucap Nayna.
"Iya sayang, aku juga udah pengen pulang."
Mendengar hal itu Nayna tersenyum, dia pun sudah merindukan suaminya yang sudah lima hari tidak dia lihat secara langsung itu.
"Ya udah kalau gitu Mas, matikan saja teleponya," ucap Nayna.
"Iya, nanti aku telepon lagi ya Sayang."
"Iya Sayang."
Setelah itu sambungan telepon antara pasangan itu pun, terputus Nayna menyimpan ponselnya ke dalam tasnya lagi.
Dia kemudian mulai turun dari ranjang tempatnya berbaring, karena saat ini dia sudah tidak mengalami kontraksi lagi, dia pun memutuskan untuk bejalan-jalan di sana.
"Mbak mau ke mana?" tanya suster yang dengan sigap langsung membantunya untuk turun.
__ADS_1
"Aku mau jalan-jalan aja Sus, seperti yang dokter sarankan tadi," ucap Nayna tersenyum pada suster.
"Apa mau pakai kursi roda Mbak?" tanya Suster.
"Tidak perlu Sus, aku cuma jalan-jalan di ruangan ini saja," sahut Nayna.
"Baiklah kalau gitu Mbak," sahut Suster.
"Suster tidak perlu memapahku, aku bisa berjalan sendiri," ucap Nayna saat Suster berniat untuk memapahnya.
"Baiklah kalau gitu Mbak," sahut Suster itu, akhirnya hanya diam memperhatikan Nayna yang mulai berjalan-jalan di ruangan itu.
Nayna dan suster itu bercengkerama dengan santai, untuk mencairkan suasana agar tidak canggung.
Di tengah-tengah obrolan mereka, pintu ruangan itu terbuka. Dan muncullah kedua orang-tuanya, dengan wajah khawatir yang tergambar jelas dari wajah keduanya itu.
"Kamu masih bisa jalan-jalan Nay?" tanya Winda mendekatinya.
Sementara Ferdi menyimpan tas berukuran besar berisi keperluan Nayna dan bayinya di sofa, dia kemudian mendudukkan dirinya di sofa.
"Iya Ma, kata dokter ini baru pembukaan dua, jadi masih cukup lama, sekarang kontraksinya juga sudah berkurang," sahut Nayna.
"Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar," doa Winda yang langsung diamini olehnya dan Ferdi.
"Kamu udah memberitahu Arkan tentang ini?" tanya Ferdi.
"Belum Pa, Mas Arkan masih sibuk, nanti aja aku kasih taunya kalau dia sudah selesai dengan pekerjaannya," sahut Nayna.
"Kenapa tidak sekarang saja, biar dia bisa cepat pulang, anak kalian sebentar lagi akan lahir, dia juga pasti ingin menemanimu saat persalinan nanti," ucap Ferdi.
"Iya Pa, nanti akan Nayna hubungi." Nayna memilih tidak memperpanjang pembahasan itu.
"Aaaww!" ringis Nayna saat rasa sakit di perutnya kembali datang lagi.
"Kamu duduk dulu di ranjang Nay, tarik napas lalu keluarkan terus ulangi itu," ucap Winda membantu Nayna untuk berjalan kembali ke ranjang.
Nayna didudukan di ranjang, dia mengikuti apa yang mamanya intruksikan itu, Winda mengurut pinggang Nayna dengan perlahan, sementara suster yang masih berada di sana memberikan air minum padanya.
Di saat suster dan Winda tengah serius mengurus Nayna. Ferdi saat ini sedang duduk dengan kaku di sofa yang didudukinya itu, melihat Nayna tengah kesakitan seperti itu.
Dia mengingat bagaimana dulu dia menemani Winda saat melahirkan Nayna, melihat proses yang meninggalkan trauma tersendiri baginya, itulah kenapa saat ini dia hanya mematung melihat anaknya tengah menahan sakit itu.
__ADS_1