Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 36


__ADS_3

Nayna yang sempat menghentikan langkahnya karena berpapasan dengan orang yang tidak ingin ditemuinya itu pun, memilih untuk melanjutkan kembali langkah kakinya menuju ke kasir.


"Ternyata kamu hamil Nay? Kapan nikahnya kok tidak ada yang tau kamu nikah, atau jangan-jangan ...."


Gadis yang seumuran dengannya itu, tidak melanjutkan kata-katanya, dia sengaja menggantungkan ucapannya dan berbicara dengan nada yang sedikit keras, hingga beberapa pengunjung yang ada di dekat mereka, melihat ke arah mereka.


"Mbak, tolong hitung ya?" Nayna memilih mengabaikan gadis itu.


Dia tahu jika orang itu memang sengaja ingin mempermalukan dirinya, jadi dia lebih memilih diam dan mencoba mengabaikannya.


Diabaikan seperti itu, tentu saja membuat gadis yang kini masih basih berada di belakangnya kesal, dia tidak terima dengan hal itu dan kembali melanjutkan aksinya.


"Pantesan kamu tiba-tiba hilang gitu aja, aku kira kamu benar-benar kuliah di luar negeri seperti yang pernah kamu banggain itu, ternyata karena hamil, bersikap sok polos saat sekolah, tapi ternyata—"


"Kalau aku memang hamil, apa masalahnya untukmu, apa itu mengganggumu?" Nayna memotong ucapan si pemilik mulut nyinyir itu dengan tegas.


"Mbak ini semuanya jadi ...," ucapan kasir yang sudah selesai menghitung barang belanjaannya, membuat bumil itu kembali berbalik pada meja kasir.


Nayna pun membayar barang belanjaannya itu dan kembali berbalik, menatap Mika— temannya saat sekolah yang kini masih menatapnya dengan sinis itu.


"Aku benar-benar tidak menyangka, kalau kamu benar-benar tidak sebaik yang terlihat, heh!" cibir Mika.


"Kenapa? Apa kamu masih merasa kesepian … oh iya lupa. Kamu kan emang selalu kesepian ya, tidak pernah diperhatikan orang-tua, tidak punya pacar atau teman," ledek Nayna tersenyum miring saat melihat tatapan Mika semakin tajam padanya.


"Bukankah saat ini kamu juga sama seperti aku, tidak punya pacar, orang-tuamu membencimu dan tidak ada lagi teman yang mengelilingimu, bukankah kamu lebih menyedihkan, lihat kondisismu saat ini, bahkan kamu hamil tanpa suami!" cemooh Mika semakin menatap remeh pada Nayna.


"Untuk apa pacar? Aku tidak membutuhkannya dan orang-tuaku, mereka bukan membenciku, mereka hanya kecewa karena aku telah mengecewakan mereka, itu adalah bukti kasih sayang mereka, bukan benci. Dan kamu salah, jika beranggapan aku tidak tidak punya suami. Apa mau aku kenalkan sama suami aku?"


Nayna berbicara dengan tenang, Mika yang merasa kalah pun semakin menatapnya dengan tajam, kilatan amarah terlihat jelas dari pancaran matanya itu, sedangkan Nayna, bumil itu masih berdiri dengan tenang di depannya, menikmati ekspresi kalah dari lawan mainnya itu.


"Baru kali ini aku melihat orang yang tidak punya rasa malu sepertimu! Bahkan kamu sama sekali tidak merasa bersalah dengan kondisi kamu sekarang!" Lagi dan lagi, Mika masih berusaha untuk menjatuhkan Nayna.

__ADS_1


"Untuk apa aku malu? Apa aku udah ngerugiin orang lain?" Hanya Om Arkan yang aku rugiin dalam hal ini. Sambung Nayna dalam hatinya.


"Kamu tidak berhak menilai aku, bersalah atau tidaknya, itu adalah urusan aku, karena sebesar apa pun kesalahan yang aku lakukan, hanya akulah yang akan menebusnya bukanlah orang lain, bukan kamu juga!"


"Kamu sebaiknya, urus saja hidupmu dengan baik, jangan sampai kamu mengalami hal yang sama denganku."


Bukan sombong atau tidak merasa bersalah, justru setiap saat dirinya selalu dihantui oleh rasa bersalah itu, tapi dia tidak suka jika Mika menjadikan itu alat untuk menyerangnya.


"Aku merasa kasihan padamu, mencari hiburan hanya dengan mencari keburukan orang lain, apa kamu tidak lelah terus seperti itu? Kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan, jika kamu terus seperti itu, kamu tidak akan selamanya bisa terus sendiri, suatu saat nanti kamu akan membutuhkan orang lain, maka berubahlah agar kamu tidak terus sendiri seperti itu."


Setelah mengatakan hal itu Nayna pun melangkah pergi, menjauh dari Mika yang kini semakin menatapnya tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Aku tidak butuh teman atau siapa pun, tidak ada yang namanya teman, itu hanya kedok yang akan menghancurkan hidupku saja, aku bukan orang yang menyedihkan, hingga membutuhkan teman!" teriak Mika pada Nayna yang kini sudah sampai di pintu toko itu.


Nayna yang mendengar ucapan Mika itu hanya menggelengkan kepala, dia tidak mengerti kenapa perempuan itu menjadi seperti itu, padahal dulu saat mereka masih dekat sikapnya biasa saja.


"Maaf lama Pak," ucap Nayna saat memasuki mobil.


"Tidak apa-apa Non," sahut Ridwan.


"Iya Pak, langsung aja," jawab Nayna.


"Baiklah Non."


Nayna melihat ke sampingnya, memperhatikan hilir mudik di jalan yang selalu ramai oleh pengendara ataupun pejalan kaki itu. Saat mobilnya melewati jalan yang sepi, Ridwan menatap ke arah belakang melalui kaca spion, melihat Ridwan yang terlihat kebingungan membuat Nayna pun penasaran.


"Ada apa Pak?" tanya Nayna.


"Mungkin cuma perasaan saya aja Non, mobil di belakang seperti ngikutin kita," ucap Ridwan, sontak membuat Nayna melihat ke arah kaca belakang.


"Mungkin arah kita sama Pak," ucap Nayna berusaha tidak berpikiran buruk.

__ADS_1


"Iya, mungkin Non," sahut Ridwan mengangguk.


Nayna kembali melihat ke arah samping, tapi setelah beberapa saat kemudian, karena penasaran, dia pun kembali melihat ke arah belakangnya. Dan mobil tadi ternyata masih mengikuti mobilnya itu, dia jadi merasa itu sedikit aneh.


"Pak, coba kita muter-muter dulu, kalau mobil itu terus di belakang kita, berarti mobil itu benar-benar ngikutin kita," pinta Nayna pada Ridwan.


"Baiklah Non," ucap Ridwan mengikuti intruksi dari Nayna itu.


Sopir keluarga Nayna itu pun, sengaja berputar-putar ke sembarang arah, awalnya Nayna tidak berpikiran buruk, tapi ternyata setelah tiga puluh menit mereka berputar-putar, mobil di belakangnya itu masih terus mengikuti.


"Apa sebenarnya niat orang itu, kenapa dia mengikuti kita Pak?" tanya Nayna masih melihat ke belakang.


"Saya juga kurang tau Non."


"Apa itu orang jahat. Atau jangan-jangan dia begal, Pak sebaiknya kita lewat jalan yang ramai saja," ucap Nayna yang kini sudah mulai ketakutan.


Ridwan kembali menjalankan mobilnya ke arah jalanan yang ramai, tapi mobil itu terus mengikuti, Nayna kini sudah berpikiran yang buruk, dia bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh si pengendara mobil itu, kenapa terus mengikuti seperti itu.


Bahkan tidak terasa, kini mereka sudah satu jam setengah, terus muter-muter seperti itu, mobil itu secara perlahan semakin mendekati mobilnya, melihat hal itu Nayna pun meminta sopirnya untuk menambah kecepatan dan menjauh.


"Kayaknya itu benar-benar orang jahat deh Pak," ucap Nayna yang sudah terlihat panik.


"Non tenang saja, meskipun orang itu memang orang jahat, tapi dia tidak akan bisa berbuat apa pun, karena saat ini jalanan cukup ramai," ucap Ridwan berusaha menenangkan Nayna.


Nayna mengangguk, berharap tidak terjadi apa pun pada mereka saat ini, tapi yang jadi masalahnya, saat ini mereka sudah mulai memasuki komplek perumahan Arkan dan jalan di sana cukup sepi.


Baru saja Nayna akan berbicara pada Ridwan agar mencoba mengalihkan perhatian orang yang entah siapa itu, agar tidak tahu rumahnya, karena dia takut orang itu memang sengaja mengintainya, tapi kini mobil itu sudah lebih dulu menghadang mobilnya.


Napas Nayna serasa berhenti, saat melihat siapa yang baru saja turun dari mobil itu dan kini sudah mulai berjalan mendekati mobilnya itu, dia sedikit merasa lega campur kesal saat melihatnya.


...----------------...

__ADS_1


Kecewa gak karena ternyata bukan Raffa yang datang🙏😆


Yuk komen sebanyak-banyaknya😉


__ADS_2