Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 30


__ADS_3

Kini terjadi kecanggungan di meja makan, tapi itu hanya berlaku untuk Nayna yang merasa seperti orang asing di sana, bagaimana tidak, selama sarapan itu berlangsung, dia hanya melihat Arkan dan Listi yang terus berbicara panjang lebar, sedangkan dirinya hanya diam berusaha menghabiskan makanannya secepatnya.


"Om, kenapa pelut Tante itu ada balonnya?" tanya seorang anak perempuan –anaknya Listi yang baru saja berusia empat tahun, menatap Nayna dengan bingung.


Pertanyaan dari anak itu membuat obrolan antara Listi dan Arkan terhenti dan kedua orang itu pun, beralih menatap anak yang tengah menyantap sarapannya itu.


"Itu bukan balon, tapi di dalam perut Tante Nay, ada bayinya," terang Arkan tersenyum sambil mengusap rambut anak itu dengan lembut.


"Bayi, kayak punya Liani di lumah ya Ma?" tanya anak bernama Liani itu menatap Listi.


"Iya sama seperti punya kamu yang ada di rumah, tapi bayi dalam perut tante, akan terus membesar seperti Liani," terang Listi sambil memakan makanannya.


"Apa nanti bisa jadi teman liani Om?" tanya Liani beralih ke arah Arkan, menatap Arkan dengan mata yang mengerjap lucu.


"Bisa dong," sahut Arkan.


Nayna lagi-lagi merasa, jika dia hanya nyamuk di sana, dia beberapa kali menghela napas dan mengeluarkannya secara perlahan, dia benar-benar kurang nyaman dengan keadaan itu, apalagi melihat kedekatan Arkan dengan ibu dan anak itu.


"Kamu kenapa diam aja Nay? Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Arkan yang dari tadi dapat melihat gerak-gerik aneh dari Nayna.


'Iya Om, aku tidak nyaman melihat Om begitu dekat dengan Mbak Listi dan anaknya itu.' Ucapan yang tentu saja hanya dapat Nayna ucapkan dalam hatinya.


"Tidak kenapa-napa Om," sahut Nayna singkat.


"Apa makanannya gak enak, maaf ya aku tidak tahu seleramu, jadi aku hanya masak sesuai dengan makanan kesukaan Arkan saja," terang Listi, dari nada dan ucapannya memang biasa saja.


Namun, hal itu mampu membuat perasaan Nayna kian tidak nyaman, bahkan dia yang sebagai seorang istrinya pun tidak tahu apa yang menjadi kesukaan pria yang berstatus suaminya itu.


"Tidak Mbak, makanannya enak kok Mbak. Enak banget malah," sahut Nayna berusaha memasang senyuman lebar pada Listi.


"Baguslah kalau gitu." Listi pun memgangguk dan tersenyum.


Nayna melanjutkan makannya, hingga makanan yang berada di piringnya itu habis tak bersisa, setelah itu dia pun memutuskan untuk beranjak dari meja makan dan mencuci peralatan yang sudah menumpuk di wastafel.


Sementara Arkan, Listi dan anaknya, mereka duduk di sofa ruang tengah entah apa yang mereka bicarakan, Nayna sebenarnya ingin sekali mendengar pembicaraan mereka itu, tapi dia melupakan keinginannya itu.


Setelah selesai dengan kegiatannya, bumil muda itu pun berjalan ke arah mereka, terlihat Listi sudah mulai berdiri, bersama dengan Liani.

__ADS_1


"Kamu nanti langsung temui saja Ivan," ucap Arkan pada Listi.


"Iya makasih ya Ar, kamu udah mau bantu aku lagi," ucap Listi tersenyum pada Arkan.


"Iya sama-sama."


"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu ya, makasih udah ngijinin aku sama Liani, untuk sarapan di sini," ucap Listi.


"Iya, makasih juga udah buatin sarapan," sahut Arkan.


"Aku pulang dulu ya Nay," ucap Listi yang kemudian beralih menatap Nayna.


"Iya Mbak," sahut Nayna tersenyum.


Setelah itu Listi pun pergi dari sana, Arkan mengantarkan Listi sampai ke depan pintu rumah.


"Om keliatannya dekat banget sama Mbak Listi?" tanya Nayna, membuat Arkan yang semula menatap ke arah Listi pergi, menjadi menatapnya.


"Kita memang berteman dari sejak lama," sahut Arkan santai.


"Ya udah kalau gitu aku siap-siap buat berangkat kerja dulu ya," ucap Arkan terdengar santai.


Namun, terdengar beda di pendengaran bumil muda itu, dia seolah mendengar Arkan sengaja mengalihkan pembahasan tentang Listi di antara mereka.


"Iya Om," sahut Nayna mengangguk dan membiarkan Arkan pergi ke kamarnya.


Nayna menghela napas sedalam-dalamnya, entah kenapa sejak kejadian tadi, ada rasa tidak nyaman dalam dirinya, apa yang sbenarnya terjadi padanya itu.


Tidak mau terlalu banyak berpikir, dia pun memutuskan untuk melanjutkan membereskan rumah, di tengah kesibukannya itu, dia jadi teringat kejadian kemarin saat dia bertemu dengan Raffa lagi, juga saat papanya yang sudah sadar.


Pria paruh baya itu, tidak melihat ke arahnya sama sekali semenjak sadar, dia membuang pandangan ke arah lain, hingga membuat Nayna sedih dan memutuskan untuk langsung pulang.


"Apa Papa tidak akan memaafkan aku ya?" gumamnya sambil melamun dan tidak fokus pada apa yang tengah dikerjakannya itu.


Karena saat ini posisinya, dia tengah menyapu di depan kamarnya, dia pun dapat mendengar ponselnya berbunyi.


Dia pun segera menghentikan kegiatannya itu dan melihat siapa yang menelponnya, awalnya dia mengira jika itu adalah mamanya, tapi ternyata dia salah.

__ADS_1


Lagi dan lagi, orang yang berusaha dia hindarilah yang meneleponnya, pria yang tidak lain adalah Raffa, ternyata pria itu masih belum menyerah, terus mencoba menghubunginya.


"Apa lagi Sih, Raf. Aku udah bilang jangan ganggu aku lagi, aku gak mau suami aku sampai tau jika aku masih berhubungan dengan pria lain dan dia nyangka yang mecem-macem!"


Setelah mengatakan hal itu Nayna berniat akan mematikan sambungan telepon itu, tapi gerakannya terhenti karena mendengar apa yang Raffa ucapkan.


'Kalau kamu memang tidak mau terus terang, jika anak itu anak adalah anak aku, maka aku akan mencari taunya sendiri.'


Deg ... deg


"A–apa maksud kamu?" ucap Nayna dengan gugup.


'Benarkan, anak itu adalah anak aku Nay, anak kita.'


'Gak pa-pa kalau kamu masih tidak mau jujur. Yang jelas setelah aku tau semuanya, aku akan mencari kamu lagi.'


"Ka— halo." Sambungan telepon itu tiba-tiba saja terputus.


Nayna bergerak dengan gelisah, apa yang harus dia lakukan jika apa yang Raffa ucapkan itu benar, pria itu benar-benar mencari tahu tentang kebenarannya.


"Dia pasti cuma menggertakku saja, kan?" gumam Nayna dengan tubuh yang lemas.


Perasaannya campur aduk, dia belum siap jika Raffa tahu tertang kebenarannya saat ini, dia tidak ingin masalah yang semula sudah mulai membaik kembali kacau balau.


Apalagi orang-tuanya pasti akan semakin kecewa padanya, jika sampai mereka tahu, jika Arkan bukanlah ayah dari anaknya itu.


Terlalu larut dalam pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, membuat Nayna tidak menyadari jika Arkan dari tadi sudah berdiri di pintu kamarnya yang terbuka itu.


"Ada apa Nay? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu? Siapa yang menelepon barusan?"


Mendengar pertanyaan Arkan itu, sontak saja membuat Nayna berbalik dan menatapnya, dia berusaha terlihat biasa saja di depan Arkan dan menormalkan ekspresi wajahnya itu.


"Tidak apa-apa Om, tadi yang nelepon teman aku saat di sekolah," sahut Nayna berusaha senormal mungkin.


"Oh, ya udah kalau gitu aku berangkat kerja dulu ya," pamit Arkan.


"Iya Om, hati-hati ya," sahut Nayna.

__ADS_1


__ADS_2