
Nayna masih mematung di tempatnya berdiri, seolah ada lem yang menempel di kakinya, hingga dia tidak bisa mengangkat kaki jenjangnya itu untuk dilangkahkan, dia pun beberapa kali mengedipkan mata, menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Dia melamun, bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita yang kini tengah menangis di pelukan Arkan itu, interaksi mereka berdua terlihat lugas, tidak tergambar kecanggungan sedikit pun dari kedua orang beda gender itu.
Arkan pun terlihat membalas pelukan wanita itu dan mengusap bagian belakang kepala, serta punggung wanita itu, melihat pemandangan seperti itu entah kenapa, ada rasa sedikit tidak rela yang timbul di hati Nayna.
Apalagi melihat Arkan yang terlihat begitu perhatian pada wanita itu, terbukti dengan Arkan yang sesekali mengucapkan kata penenang untuk wanita itu.
"Apa itu pacar Om Arkan?" tanya Nayna pada dirinya sendiri dengan nada nyaris seperti bisikan.
Ingin rasanya dia berjalan ke arah sofa, bertanya tentang siapa wanita itu, apa hubungan mereka berdua dan kenapa wanita itu menangis dalam pelukan Arkan, tapi dia tidak bisa melakukan hal itu, karena bahkan untuk menggerakkan kakinya pun tidak bisa saat ini.
"Nay bisa tolong ambilkan air," ucap Arkan membuat lamunan Nayna itu buyar.
"Iya Om," sahut Nayna mengangguk patuh dan akhirnya dia bisa menggerakkan kaki, kembali lagi ke dapur, mengambil segelas air sesuai dengan permintaan Arkan.
Nayna pun menuju ke sofa dengan segelas air di tangannya itu, dia pun menyerahkan air itu pada Arkan. "Ini Om."
Arkan menerima gelas itu dan memberikannya pada wanita yang tidak lain adalah Listi. "Ini minumlah dulu, agar kamu merasa lebih tenang."
"Ma–makasih," sahut Listi dengan nada terputus-putus karena sisa tangisan.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Arkan menatap Listi yang baru selesai meneguk air minumnya.
"Iya, sekarang aku sudah sangat yakin, percuma aku terus mempertahankan hubungan, jika hanya sebelah pihak saja yang ingin mempertahankannya," sahut Listi dengan diiringi anggukan kepala samar.
"Apa sebelumnya kamu udah minta pendapat keluarga kamu dan keluarganya?" tanya Arkan lagi.
"Mereka menyerahkan keputusannya padaku sepenuhnya."
Listi menganggukkan kepalanya lagi, melihat hal itu Arkan hanya manggut-manggut paham, sementara Nayna masih berdiri tidak jauh dari sofa tempat mereka duduk.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bahas itu, tapi dia dapat menyimpulkan, jika wanita di depan Arkan itu, tengah mengalami sebuah perpisahan.
"Terus kenapa sekarang kamu ke sini, bagaimana dengan anakmu, apa kamu meninggalkannya sendirian?"
"Di rumah ada pengasuhnya, kamu tau sendiri bukan, kalau sedang kalut seperti ini, aku hanya butuh teman cerita, jadi aku ke sini, daripada aku melakukan hal-hal nekat lainnya saat sedang kalut seperti ini," sahut Listi sesekali mengelap air mata dengan tisu.
"Baiklah, kamu boleh menenangkan diri beberapa saat di sini, tapi saranku jangan terlalu lama, kasihan anak kamu kalau kamu tinggalkan terlalu lama." Arkan memgusap punggung Listi itu dengan lembut, bermaksud untuk kembali menenangkan.
"Iya saat aku sudah lebih baik, aku akan langsung pulang," sahut Listi menganggukkan kepala.
Interaksi kedua orang itu, tidak lepas dari pengamatan Nayna yang masih berada di sana, Nayna merasa jika wanita itu bukanlah wanita sembarangan, dia meyakini jika wanita itu adalah orang yang spesial untuk Arkan.
Terlihat dari cara Arkan memperlakukannya, hanya dengan sekali lihat pun, semua orang pasti tahu hal itu, karena sikap Arkan yang penuh perhatian pada wanita itu.
"Kalau kamu mau mengerjakan hal yang lain lagi, pergilah," ucap Arkan beralih menatap Nayna.
Mendengar ucapan itu Nayna sedikit tidak suka, dia merasa Arkan saat ini sedang mengusirnya secara halus, dia pun hanya diam, tidak langsung menjawab ucapan Arkan barusan itu.
"Baiklah Om, kalau ada apa-apa panggil aku lagi aja ya Om," ucap Nayna dengan berat hati.
Dia pun pergi dengan hati yang sedikit merasa sedih, karena Arkan bahkan tidak mencoba memperkenalkan dirinya pada wanita yang terlihat cantik dan dewasa itu.
"Apa yang kamu pikirkan Nay, ingat posisi kamu di sini hanya sebagai orang yang menumpang hidup, jadi jangan terlalu banyak berharap," gumam Nayna sambil melangkah kembali ke dapur.
Dia berusaha mengingatkan dirinya sendiri dengan posisinya di sana, tapi sekuat apa pun dia berusaha mengingat hal itu, tetap saja ada sedikit rasa tidak rela melihat Arkan perhatian pada Listi.
"Wanita itu cantik, dia juga terlihat dewasa dan berpenampilan menarik, jadi wajar jika Om Arkan memiliki perasaan lebih padanya," gumam Nayna sambil memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci yang belum lama ini Arkan beli.
Nayna kembali melakukan kegiatannya itu sambi melamun, dia juga penasaran dengan apa yang terjadi di sofa, ingin rasanya dia kembali ke sana dan melihat apa yang kedua orang itu lakukan.
Namun, dia tidak mungkin melakukan hal itu, Arkan pasti tidak menyukainya, jika dia terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Arkan.
__ADS_1
Akhirnya dia memendam rasa penasaran yang timbul di hatinya itu dan menyibukkan diri dengan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya, berusaha tidak memikirkan apa yang terjadi pada Arkan dan tamunya itu.
Saat Nayna tengah menyibukkan dirinya dengan kegiatannya itu, Arkan mendatanginya yang tengah mengepel lantai dapur. Arkan berdiri di pintu dapur karena tahu, jika lantai dapur itu masih basah.
"Aku mau pergi dulu, nganterin teman aku dan langsung kerja."
Nayna menghentikan sejenak kegiatannya itu dan menatap Arkan, tak lama kemudian dia pun mengangguk.
"Iya Om," sahut Nayna singkat.
"Kalau kamu mau membereskan kamarku sekalian, bereskan saja."
"Iya Om." Lagi dan lagi Nayna hanya menjawabnya dengan singkat.
Bukannya langsung pergi, tapi Arkan masih tetap diam di ambang pintu itu dan menatap Nayna intens, hingga membuat Nayna merasa sedikit risih.
"Ada apa Om, apa masih ada yang mau Om katakan lagi?" tanya Nayna menatapnya dengan heran.
"Kamu hati-hatilah di rumah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja," ucap Arkan lagi.
"Baiklah Om, Om juga hati-hati ya."
"Iya."
Arkan pun mulai pergi dari sana meninggalkan Nayna, menuju ke ruang tengah menemui Listi lagi, Nayna berjalan ke arah pintu, berusaha mengintip apa yang terjadi di sofa.
"Ayo aku anterin kamu pulang, sekalian aku berangkat kerja," ucap Arkan pada Listi.
"Iya, kita bawa mobil aku aja tidak apa-apa, kan?" sahut Listi yang sudah mulai berdiri.
"Iya ayo, nanti biar aku berangkat kerja naik kendaraan umum."
__ADS_1
Setelah itu, Arkan dan Listi pun pergi, sedangkan Nayna yang masih diliputi oleh rasa penasaran, berjalan ke arah jendela, dia mengintip dari jendela, melihat Arkan dan Listi memasuki mobil milik Listi dan secara perlahan mobil itu pun pergi meninggalkan pelataran rumah.