
Nayna menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi, dia beberapa kali bergidik melihat bayangan dirinya dengan pakaian kekurangan bahan itu.
Baju transparan yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, bagian asetnya pun hanya tertutupi oleh pakaian dalamnya.
"Mbak apa harus kayak gini ya?" tanya Nayna pada orang diteleponnya itu.
[Iyalah, Nay. Mas Arkan sudah menantikan malam ini cukup lama, dan sekarang saatnya kamu memberikan hadiah di malam pertama kalian ini.]
[Benar, Nay. Kita yakin setelah malam ini dia akan makin kelepek-klepek sama kamu, bahkan bakalan nempel terus.]
Nayna hanya diam memandang dirinya, dia tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya itu, tapi Listi dan Fara, terus meyakinkannya sedari tadi, jika dia harus melakukan ini, untuk membuat Arkan senang.
[Anak kamu sudah kamu amankan, 'kan Nay?]
"Sudah Mbak, sesuai dengan apa yang Mbak Listi katakan tadi, aku sudah minta Indah untuk menemani Rezvan di kamarnya, juga sudah stok asi," sahut Nayna, pada Fara.
[Bagus, kalau gitu. Kamu siap-siap ya, kayaknya urusan Mas Arkan sama Mas Ivan udah selesai, aku tutup dulu ya teleponnya.]
"Iya Mbak, makasih ya untuk saran-sarannya," sahut Nayna.
[Iya sama-sama, semoga malam ini suskes ya.]
[Aku juga tutup dulu ya teleponnya Nay, ingat apa yang tadi udah aku sama Fara katakan, kamu tinggal ikuti apa yang kita ucapkan tadi.]
"Iya Mbak, makasih ya," sahut Nayna lagi.
"Oke."
Setelah itu sambungan telepon antara dirinya, Fara dan Listi pun berakhir, Nayna kembali melihat dirinya di cermin.
Dia memakai sedikit make-up tipis dan memakai lotion pada tangan dan kakinya, dia juga menyemprotkan sedikit parfum pada lehernya.
"Tenang, tenang. Itu hal yang mudah," gumam Nayna sambil menarik napas dan mengeluarkannya secara berulang.
Mencoba menghilangkan kegugupannya, degupan di jantungnya itu kian meningkat, menandakan dia benar-benar gugup saat ini.
"Sayang! Kamu di dalam?!" panggil Arkan dengan suara yang sedikit keras, dari depan pintu kamar mandi.
"Iya Mas!" sahut Nayna dengan suara yang cukup kuat juga.
"Rezvan di mana?" tanya Arkan yang menyadari, anaknya itu tidak ada di tempat tidurnya.
"Di kamarnya." Nayna menarik napas sedalam-dalamnya.
Setelah itu, dia mulai memberanikan diri melangkah menuju ke pintu, dia dengan sangat hati-hati membuka pintu kamar mandi.
Arkan tengah merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, jadi dia belum menyadari penampilan Nayna saat ini.
"Kenapa Rezvan dibiarkan tidur di sana, kalau nanti dia bangun terus kita tidakโ"
Glek ....
Arkan menelan ludahnya dengan kasar, saat menurunkan tangannya dan melihat penampilan Nayna saat ini.
Dia mendudukkan dirinya dengan tatapan tanpa berkedip, pada Nayna yang kini telah berdiri di seberang ranjang dengan senyuman manisnya.
"NaโNay!" panggil Arkan dengan masih tidak bisa mengedipkan matanya.
"Iya Mas," sahut Nayna dengan nada lembut.
Nayna mulai bergerak memutari ranjang, hingga kini dia berdiri tepat di depa Arkan, menatapnya dengan dalam, serta senyuman yang masih bertahan di bibirnya itu.
"Ka-kamu, dapat baju itu dari mana?" tanya Arkan masih dengan nada gagapnya.
Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini, kini suhu dalam tubuhnya kian meningkat, seolah dia tengah berada di padang pasir yang gersang.
__ADS_1
"Kenapa gitu Mas, baju ini tidak bagus ya?" tanya Nayna dengan sedikit cemberut.
Dia terus bergerak, semakin mendekati Arkan yang hampir menahan napasnya.
"Bu-bukan. Baju itu bagus, cocok banget di tubuh kamu, tapiโ"
"Tapi apa?" tanya Naya semakin mengikis jarak antara mereka.
Arkan semakin kelabakan dengan hal itu, dia semakin tidak mampu mengendalikan dirinya lagi, bak seekor singa yang tengah dihadapkan dengan mangsanya.
Dia ingin segera menerkam Nayna, menenggelamkan istrinya itu dalam lautan cinta yang mampu membuat mereka tengelam dalam kenikmatan.
Namun, saat Nayna sudah mendekatkan wajahnya, dia tersadar kembali ke dunia nyata, hingga dia pun menahan gerakan istrinya itu.
"Tunggu Sayang, gimana kalau Rezvan bangun," ucap Arkan masih berusaha mempertahankan akal sehatnya.
"Mas tenang saja, aku sudah mengurusnya, dia tidak akan mengganggu, acara kita," ucap Nayna sambil menggerakkan jemari lentiknya, mengusap wajahnya dengan lembut.
Pertahanan Arkan kian menipis karena perlakuan dari istrinya itu, usapan lembut di permukaan kulitnya itu, mampu membuatnya meremang.
Syaraf-syaraf dalam tubuhnya ikut menegang, hingga rasanya dia tidak mampu untuk bergerak, bahkan untuk menghentikan gerakan menggoda itu.
"Kamu jangan memaksakan diri sampai seperti ini, aku tau kamu masih butuh waktu untuk itu," ucap Arkan menatap Nayna dengan dalam.
Pria itu seolah tahu, jika saat ini Nayna pun merasa panas dingin dengan apa tengah dilakukannya itu, tapi dia berusaha bersikap semaksimal mungkin.
Selama ini, dia belum bisa memberikan apa pun untuk suaminya itu, sementara suaminya sudah memberikan banyak hal padanya, jadi untuk membalas setiap kebaikan suaminya itu.
Dia pun bertekad, jika dia harus memberikan dirinya sepenuhnya pada Arkan, memberikan hak yang seharusnya sudah menjadi milik pria itu.
"Aku sama sekali tidak terpaksa Mas, ini adalah kewajiban, aku ingin menjadi istri kamu seutuhnya, bukan hanya sekedar sebuah status saja," ucap Nayna dengan tulus.
"Apa kamu benar-benar serius dengan ucapanmu ini Nay, apa kamu sadar jika apa yang telah kamu lakukan ini, telah membangunkan sisi lain dalam diriku, sisi lain yang tidak diketahui oleh orang lain."
"Maka tunjukanlah padaku, sisi lain itu. Biarkan aku melihat dirimu dari berbagai sisi, miliki aku seutuhnya, hingga aku tidak akan memiliki alasan untuk pergi darimu untuk selamanya," sahut Nayna dengan serius.
"Sesuai keinginanmu, jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi," sahut Arkan yang langsung menarik pinggang Nayna, hingga Nayna jatuh di pangkuannya.
Tanpa aba-aba, Arkan segera meraup benda kenyal nan basah milik Nayna itu, dia memangutnya tanpa ampun, seolah melampiaskan keinginan yang sejak lama ditahannya.
Nayna yang pada awalnya merasa kesulitan untuk mengimbangi permainannya itu, secara perlahan mulai terbiasa dan bisa mengimbanginya dengan bertahap.
"Aku tanya sekali, apa kamu yakin. Karena jika aku sudah memulai, maka itu artinya, aku tidak akan bisa mundur lagi?"
Nayna mengangguk dengan yakin, dia akan membiarkan suaminya itu melakukan apa pun yang diinginkan terhadapnya.
"Lakukanlah Mas, biarkan malam ini kita menjadi pasangan seutuhnya, aku sudah jadi milikmu, kamu berhak atas diriku sepenuhnya," ucap Nayna mengusap kedua pipi Arkan dengan lembut.
"Baiklah," sahut Arkan, lalu dengan sekali tarikan dia pun, membalikkan posisi mereka, menjadikan Nayna di bawahnya, dia menatap Nayna dengan tatapan memuja.
Sementara Nayna hanya tersenyum manis, menyambut Arkan dengan senang hati, hingga malam yang seharusnya terjadi pun terjadi.
Dua insan yang telah dipersatukan oleh pernikahan yang tidak pernah terduga pun, kini telah menjadi pasangan seutuhnya, saling melengkapi satu sama lain.
Menikmati indahnya cinta, membawa angan mereka menuju ke nikmatnya cinta yang seharusnya mereka rasakan sejak lama.
...----------------...
Tamat.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh tapi bohong ๐๐
Sepi banget, aku prank sekalian, kali aja kolom komentarnya rame lagiโ๐คฃ
Kaboorrr!!๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ
__ADS_1