
"Sayangnya aku di sini bukan sebagai tamu undangan, tapi sebagai pendamping dari pengantin prianya," sahut Nayna dengan santai.
Apa yang diucapkan oleh Nayna itu membuat teman-teman sekolahnya menatapnya tanpa berkedip, antara tidak terlalu percaya juga tidak terlalu mengerti maksud dari ucapannya itu.
"Maksudnya apa Nay?" sebagian orang yang masih memasang wajah tak percayanya.
"Perkenalkan dulu, ini suami aku, sekaligus om dari si pengatin pria." Nayna menjawab pertanyaan sebelumnya dengan langsung memperkenalkan Arkan pada teman-temannya itu.
"Iya, saya suami Nayna, sekaligus omnya Raffa." Arkan tersenyum ramah pada sekumpulan wanita muda itu.
"Apa!" sahutan kaget dari beberapa teman wanitanya itu membuat Nayna hanya terkekeh geli.
"Santai aja kali, kenapa harus sekaget itu."
"Kami benar-benar tidak percaya Nay, jadi maksud kamu, kamu nikahnya sama om dari mantan pacar kamu gitu?"
"Yaps, aku nikah sama suami aku tepat setelah aku lulus dulu," sahut Nayna apa adanya.
"Tapi dulu aku sempet denger gosip kalau kamu ha-mil." Temannya itu memelankan kata akhirnya, karena mendapat sikutan dari salah satu temannya.
Mendengar hal itu, Nayna hanya memasang senyum santainya, tidak merasa tersinggung sedikit pun, karena dia sudah menduga jika hal itu sudah banyak orang mengetahuinya.
"Apa yang kalian dengar itu benar, itulah alasannya kenapa aku menikah saat itu," jawab Nayna lugas, sambil menoleh ke sampingnya dan tersenyum pada Arkan yang dibalas senyuman juga oleh pria itu.
"Aku kira, kamu nikahnya sama Raffa."
"Tidak, aku menikah sama omnya," sahut Nayna lagi, lalu melingkarkan tangannya di lengan Arkan yang dari tadi hanya diam, menyimak obrolan antara istrinya dan teman-temannya.
"Hei, di sini kami yang tokoh utamanya, kenapa kalian malah sibuk dengan Nayna, bahkan kalian belum mengucapkan selamat pada kami," ucap Mika membuat teman-temannya itu beralih padanya.
"Heheh, iya kita jadi lupa niat awal kita ke sini untuk apa," kekeh salah satu temannya yang baru sadar jika mereka terlalu asyik dengan Nayna.
Akhirnya mereka semua pun mulai mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu, setelah para teman-temannya sudah berbaur dengan tamu yang lain, Nayna dan Arkan kembali saling menatap, sepetrinya tidak ada tempat untuk mereka tidak menunjukan cinta mereka itu.
"Mas, aku mau ke toilet dulu ya, sambil nyari Mama sama Papa, mereka tidak kelihatan, entah ke mana mereka membawa Rezvan pergi," pamit Nayna karena baru menyadari, jika orang-tua dan anaknya itu tidak kelihatan.
"Iya pergilah," sahut Arkan mengangguk.
Nayna pun mulai meninggalkan Arkan dan pasangan pengantin itu, menuju ke toilet terlebih dahulu, setelah selesai dari toilet, dia pun mencari kedua orang-tuanya.
Sambil berjalan, dia mencoba menghubungi mamanya. Dan dalam nada panngilan ketiga, mamanya itu baru mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Ma, kalian di mana?" tanya Nayna.
[Nay, Mama baru saja akan meneleponmu, Rezvan—]
"Kenapa dengan Rezvan Ma?" potong Nayna yang tiba-tiba saja merasa panik karena mendengar nada panik mamanya juga papanya yang terdengar tengah berbicara, juga suara ribut yang membuat pikirannya langsung ke arah yang negatif.
[Rezvan tertimpa gerbang Nay, cepat ke sini kami sedang ada di samping gedung acara itu.]
Deg ...
Jantung Nayna terasa berhenti berdetak saat itu juga, ketika mendengar ucapan mamanya itu, langkahnya berhenti begitu saja, tangan yang mengganggam ponsel itu bergetar dengan air mata langsung meledak berjatuhan ke pipinya.
[Nay, kamu masih di sana 'kan, cepatlah kita harus membawanya ke rumah sakit, Papa kamu sudah menelepon ambulans.]
"Iya Ma."
Nayna segera mematikan teleponnya, dia memkasa kakinya yang terasa berat itu untuk melangkah, menuju ke arah suaminya.
Pikirannya sangat kacau, dengan air mata yang tidak dapat dia tahan, dalam hati terus berdoa agar anaknya baik-baik saja, jangan sampai anaknya kenapa-napa.
"Ma–mas," panggil Nayna dengan nada bergetar pada suaminya yang masih cukup jauh darinya.
"Kenapa?" tanya Arkan mengusap lengannya.
"Rez–Rezvan Mas, dia, dia tertimpa gerbang ayo kita ke sana Mas," ucap Nayna dengan panik.
"Apa! Di mana? Ayo kita ke sana, kamu tenang dulu," sahut Arkan yang tidak dapat menyembunyikan kekagetannya.
"Ada apa Ar?" tanya Ivan yang dapat melihat Nayna menangis dan langsung mendatanginya.
"Rezvan kecelakaan, kamu tolong atur di sini ya," ucap Arkan sambil merangkul Nayna memberikannya ketenangan.
"Kecelakaan gimana Om, aku ikut," ucap Raffa yang juga sudah mendekati mereka.
"Kamu di sini dulu, masih banyak tamu, kamu tidak mungkin pergi gitu aja. Nanti nyusul aja ke sana saat acara sudah selesai," ucap Arkan pada Raffa sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
"Tapi Om–"
"Kamu ikutin apa kata om kamu Raf, nanti kita bisa menyusulnya ke rumah sakit," potong Ivan menepuk pundak Raffa.
Akhirnya Raffa pun menurut, dia kembali ke samping Mika dengan pikiran terus memikirkan anaknya, dia terus melapalkan doa dalam hati, agar anaknya itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Kenapa Raf? Kenapa om kamu sama Nayna pergi dan kenapa Nayna nangis seperti itu?" tanya Mika dengan beruntun.
"Rezvan kecelakaan," sahut Raffa singkat, karena pikirannya yang kacau.
"Apa bagaimana bisa, kecelakaan apa?" tanya Mika lagi, tapi kini tidak mendapatkan sahutan.
Raffa tidak bisa fokus, karena pikirannya berada di tempat lain, sedangkan Mika hanya diam, memilih tidak bertanya lagi karena melihat Raffa yang terlihat begitu khawatir.
...*******...
Nayna dan Arkan sampai di tempat kejadian, ada beberapa ambulans di sana, ada beberapa korban juga yang mengalami hal yang sama seperti Rezvan.
Tempat itu cukup ribut, dengan suara sirine dan juga tangisan beberapa orang yang menjadi keluarga korban yang notabenenya anak-anak yang menjadi korban karena tempat kejadian adalah sebuah tempat bermain.
"Ma, mana Rezvan?" tanya Nayna pada mamanya yang juga tengah menangis.
"Dia baru saja dimasukkan ke ambulans, kalian pergilah, biar Mama sama Papa nyusul pakai mobil," sahut Ferdi.
"Baik Pa, ayo kita ke sana," ucap Arkan membawa Nayna memasuki ambulans.
"Sayang kamu harus baik-baik saja ya Nak," ucap Nayna saat duduk di samping anaknya yang tidak sadarkan diri di atas brangkar.
Dia terus menangis, melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan dengan darah yang keluar dari hidungnya, serta wajah yang sudah membiru dengan memar.
"Tenanglah dia pasti baik-baik saja," bisik Arkan merangkul Nayna.
"Rezvan Mas, di tidak akan meninggalkanku kan?" isak Nayna menatap Arkan dengan mata yang sudah memerah juga bengkak.
"Tidak Sayang, dia tidak akan meninggalkan kita," Arkan menggeleng.
Dia berusaha tersenyum pada Nayna meskipun hatinya pun merasa sakit dan sedih melihat anaknya kini tidak sadarkan diri, apalagi melihat luka yang ada pada tubuh mungil itu.
"Apa masih lama Sus, kasian anak saya," ucap Nayna pada suster yang duduk tidak jauh darinya.
"Sebentar lagi sampai Bu," sahut suster dengan ramah.
"Kita berdoa ya, agar dia baik-baik saja, dia anak yang kuat," ucap Arkan lagi mengusap punggung Nayna dengan lembut.
Nayna masih tidak bisa menghentikan tangisnya itu, tatapannya tertuju pada anaknya, dia terus memohon agar anaknya itu baik-baik saja.
__ADS_1