
Arkan, Nayna, dan Mika saat jni tengah berada di deretan kursi tamu, di aula yang berada di kampus tempat Raffa menempuh pendidikannya, menyaksikan pria itu akan menerima gelar sarjananya.
Sementara itu, Mika melihat ke deretan kursi para calon sarjana itu dengan senyum yang mengembang, apalagi fokusnya hanya pada pria yang tidak lain adalah suaminya.
"Apa kamu mau melanjutkan pendidikanmu Sayang?" tanya Arkan membuat Nayna yang semula fokus pada berlangsungnya acara di depan, teralihkan pada suaminya itu.
"Aku memang ingin melanjutkan pendidikanku Mas, tapi bagiku sekarang mengurus kamu dan anak-anak lebih penting, apalagi sekarang aku sudah hamil lagi, aku harus lebih fokus pada anak-anak terlebih kondisi Rezvan saat ini."
"Dia pasti akan merasa aku kurang perhatian padanya jika aku disibukkan dengan kuliah dan adiknya, aku tidak ingin Rezvan sampai memiliki pikiran yang seperti itu, karena saat ini dia benar-benar sedang membutuhkan perhatian ekstra dari orang-orang terdekatnya."
Nayna terus berbicara panjang lebar, menyuarakan pendapatnya pada sang suami.
"Iya kamu benar, jangan sampai Rezvan merasa tidak mendapat perhatian apalagi dokter juga sempat mengatakan, jika karena kondisinya saat ini, itu bisa saja mempengaruhi kondisinya psikologisnya." Arkan mengangguk mengerti.
"Jadi, sekarang aku hanya ingin fokus pada anak-anak sama kamu aja," sahut Nayna tersenyum lebar pada suaminya, kemudian mengusap kepala Rezvan yang tengah anteng di pangkuan Arkan itu.
"Iya Sayang." Arkan balik tersnyum dan menggenggam tangan Nayna itu dengan erat.
Mika yang kebetulan duduk tepat di samping Nayna dapat mendengar apa yang mereka bicarakan itu, dia kemudian melirik ke sampingnya.
Melihat Arkan yang terlihat begitu mencintai Nayna, membuat dia merasa iri dengan apa yang Nayna dapatkan itu.
Apakah kelak aku juga akan merasakan cinta seperti yang Nayna dapatkan dari suaminya itu. Batin Mika.
Kemudian dia kembali menatap suaminya yang saat ini tengah bersiap untuk naik ke atas podium bersama dengan teman-temannya.
Apa akan ada masa, di mana kamu mencintai aku Raf? Tanya Mika yang hanya dia ucapkan dalam hatinya.
Beberapa jam kemudian, acara wisuda itu pun telah selesai diselenggarakan, setelah menghabiskan sesi foto dan sebagainya, mereka pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sebagai perayaan paska sarjana Raffa.
Mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang tidak jauh dari kampus Raffa, ketika sampai di sana, Rezvan yang sedari tadi digendong oleh Arkan pun, mengatakan jika dia ingin ke toilet.
"Rezvan sama om aja yuk ke toiletnya, kasihan papanya sudah gendong kamu dari tadi," tawar Raffa pada Rezvan yang akan pergi bersama Arkan.
"Tidak perlu Sya, kamu sebaiknya pesankan makanan saja, biar Om yang anterin Rezvan," tolak Arkan.
"Ya udah kalau gitu Om," sahut Raffa pasrah.
"Perlu aku anterin tidak Mas?" tanya Nayna membuat Arkan menoleh padanya yang sudah duduk manis di kursi.
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Kamu tunggu aja di sini, dari tadi kamu sudah jalan-jalan, nanti kecapean," tolak Arkan dengan lembut.
"Baiklah, kalau gitu," sahut Nayna mengangguk.
Arkan pun mulai pergi dari sana, menuju ke toilet dengan menggendong Rezvan.
"Raf aku juga mau ke toilet dulu ya," pamit Mika yang tiba-tiba saja merasa pengen ke toilet.
"Iya," sahut Raffa mengangguk.
Mika beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah toilet, meninggalkan Raffa dan Nayna berdua saja.
"Oh iya Nay, kata Om Arkan kamu sedang hamil lagi," ucapa Raffa memulai percakapan setelah selesai memesan makanan.
"Iya." Nayna menjawabnya singkat diiringi dengan anggukan kepala.
"Selamat ya, semoga semuanya berjalan lancar," sambung Raffa.
"Iya, makasih untuk doanya," sahut Nayna lagi dengan santai.
"Oh iya Nay, apa nanti kamu tidak akan kerepotan untuk mengurus Rezvan saat anak kedua kamu sudah nantinya," ucap Raffa dengan hati-hati.
"Aku tidak akan kerepotan kok, karena ada pengasuh sama ada Mas Arkan juga, kenapa kamu mengatakan hal itu?" Nayna menatap Raffa dengan serius.
"Aku tudak ada hak untuk melarang kamu, karena walau bagaimanapun, kamu ayah Rezvan, tapi aku juga tidak bisa memberikan keputusan sendiri, kau harus meminta izin tentang masalah itu ke Om kamu, sama ke Rezvan sendiri ...." Nayna menguntungkan ucapannya dan semakin menatap lawan bicaranya itu dengan serius.
"Terlebih lagi saat ini ada Mika, kamu juga harus menanyakan pendapatnya dalam hal apa pun mulai sekarang ... apa kamu udah ngomong ke dia tentang Rezvan?"
Raffa menggelengkan kepalanya, membuat Nayna mengangguk paham.
"Itu sebenarnya hak kamu mau ngomong ke dia atau tidak, cuma yang aku takutkan, dia akan salah paham tentang perhatianmu terhadap Rezvan, aku takutnya dia malah salah tanggap dan berpendapat, jika kamu bersikap seperti itu karena hubungan kita dulu."
"Aku mungkin akan menceritakan semuanya kalau aku udah siap," sahut Raffa.
"Jangan sampai terjadi kesalahpahaman di antara kalian hanya karena sikapmu ke Rezvan," ucap Nayna lagi.
Nayna bukan tanpa alasan berpikir seperti itu, dia mengambil contoh dirinya sendiri di masa lalu, ketika melihat kedekatan Arkan pada Liani, anaknya Listi.
Sementara itu, di sudut restoran, Mika yang baru saja dari toilet melihat mereka yang tengah berbincang dengan santai, terlihat benar-benar dekat.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri jika hal itu membuatnya tidak nyaman, lagi dan lagi pikiran buruk kembali hinggap di kepalanya, sekuat apa pun dia berusaha berpikir fositiv, tapi pikiran-pikran buruk itu selalu menghantuinya.
"Kenapa kamu di sini?"
Sebuah suara yang berasal dari belakangnya itu membuat Mika menoleh ke asal suara dan tersenyum ketika mendapati Arkan yang berada di sana.
"Aku habis dari toilet juga Om," sahut Mika tersenyum, bersikap biasa saja di depan Arkan.
"Kalau begitu kembalilah ke sana," ucap Arkan.
"Iya Om," sahut Mika yang mulai melangkah mendekati meja mereka.
"Jangan suka menyimpan pikiran buruk, itu tidak baik untuk dirimu sendiri, terkadang apa yang terlihat tidak selalu sebuah kebenaran," ucap Arkan begitu melewati Mika.
Mendengar apa yang diucapkan olehnya itu, Mika kembali menghentikan langkahnya, dia menatap punggung Arkan yang sudah semakin mendekati meja.
"Apa Om Arkan, tidak pernah memiliki pikiran jelek, tentang kedekatan antara Nayna dan Raffa," tanya Mika pada dirinya sendiri, sambil kembali melangkahkan kakinya.
"Pa, lesvan mau dipangku Om aja, Papa pasti belat gendong Lesvan telus," ucap Rezvan pada Arkan saat dia mendudukkan dirinya di tempat semula.
"Sini Rezvan duduk di Om aja kalau gitu," sahut Raffa dengan senang hati mengambil alih Rezvan dari Arkan.
Meskipun Arkan belum menjawab ucapan dari Rezvan itu.
"Rezvan biar sekalian Om suapin ya, Rezvan suka ayam goreng crispy ini kan?" ucap Raffa mengambil lauk yang menjadi makanan kesukaan Rezvan.
"Tapi kamu juga harus makan Raf, biar aku aja yang pangku Rezvan," ucap Nayna karena tidak ingin membuat kesalahpahaman terhadap Mika.
"Tidak apa-apa Nay, toh aku bisa gantian, sambil nyuapin Rezvan sambil aku makan," sahut Raffa dengan santai mulai menyuapi anaknya itu.
"Lesvan tidak mau duduk di Mama, nanti dede bayi dalam pelut Mamanya kebelatan kalau aku duduk di Mama," timpal Rezvan dengan wajah polosnya, terus menerima suapan dari Raffa.
"Sudah tidak apa-apa, kamu sebaiknya makan dulu," sahut Arkan pada Nayna.
Meskipun tidak nyaman dengan keadaan itu, apalagi melihat tatapan Mika yang terlihat tidak terlalu menyukai kedekatan antara Raffa dan Rezvan. Nayna hanya bisa pasrah dam mulai memakan makanannya.
"Oh iya Mik, gimana keadaan kandungan kamu?" tanya Nayna yang tidak tahu kebohongan Mika sebelumnya.
"Aku tidak hamil," sahut Mika menatapnya sekilas, lalu kembali menyibukkan dirinya dengan makannya itu.
__ADS_1
Mendengar apa yang Mika ucapkan itu, Nayna melirik Arkan yang juga tengah menatapnya dengan heran juga, pasangan itu kemudian menatap Raffa yang memberikan isyarat jika dia akan menceritakan hal itu nanti.
Akhirnya Nayna pun melanjutkan kembali makannya, tanpa berniat berbincang lagi, karena takut salah bicara lagi.