Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP.Part 65


__ADS_3

Nayna dan Arkan saat ini tengah duduk di meja makan, menyantap sarapan mereka bersama.


"Semalam aku sengaja tidak memberitahumu tentang Fasya, karena aku tidak ingin mengganggu istirahatmu," terang Arkan sambil menyuapkan makanannya.


"Iya tidak apa-apa, tapi kalau sekarang aku pergi ke rumah sakit apa boleh?" tanya Nayna.


"Iya boleh, biar aku anterin sebelum pergi ke kantor," sahut Arkan mengangguk.


"Aku pesan taksi aja Yang, kamu langsung berangkat saja ke kantor, nanti malah telat lagi." Nayna berusaha menolak, karena tidak ingin suaminya itu sampai telat.


Sebenarnya hingga saat ini, wanita yang sebentar lagi akan berubah status menjadi ibu itu, masih belum mengetahui jika Arkan adalah pimpinan di perusahaan itu.


"Telat sebentar saja tidak akan apa-apa, karena hari ini tidak ada rapat penting," sahut Arkan dengan santai.


"Ya udah deh kalau, gitu. Setelah sarapan aku langsung siap-siap." Nayna pun mengangguk.


"Oh iya, kalau Mas pulang, terus yang sekarang jaga di rumah sakit siapa kalau gitu?" tanya Nayna menatap Arkan dengan serius.


"Ada Bibi yang jaga di sana," sahutArkan tanpa menghentikan makannya.


"Bibi?" tanya Nayna kurang paham.


"Art yang kerja di rumah Fasya," jelas Arkan.


Nayna pun hanya ber-oh ria, mendengar jawaban dari suaminya itu dan melanjutkan makannya.


Sarapan sambil mengobrol tanpa terasa, mereka pun selesai dengan sarapannya itu, lalu pergi ke kamar masing-masing.


Mereka pergi bersiap-siap untuk ke rumah sakit, tak terlalu membutuhkan waktu lama. Mereka pun selesai dengan kegiatannya.


Arkan keluar lebih dulu dari kamarnya, kemudian disusul Nayna yang juga udah siap, mereka pun segera pergi ke rumah sakit, agar tidak membuat Arkan terlambat.


"Oh iya Mas, kenapa kamu tidak tinggal bersama dengan Raffa saja, kenapa kalian terpisah? Terus dulu juga Raffa ngekos, kalau punya rumah dan tidak terlalu jauh kenapa harus ngekos?"


Nayna bertanya panjang lebar, karena dia baru menyadari akan keanehan kedua saudara itu.


"Nanti akan aku ceritakan, kenapa aku sama Raffa tinggal terpisah," ucap Arkan yang tengah fokus pada setirnya.


"Kenapa harus nanti sih Mas, kenapa tidak sekarang saja," ucap Nayna yang memang sudah penasaran.


"Ceritanya panjang, kalau diceritakan sekarang waktunya tidak akan keburu," sahut Arkan.


"Memangnya sepanjang apa sih?" decak Nayna yang sedikit merajuk.


"Panjang banget, bahkan kalau dijadikan sinetron tidak akan tamat di episode 100," canda Arkan. Lalu mengacak rambut Nayna karena gemas.

__ADS_1


"Tinggal disingkat aja apa susahnya." Nayna masih memasang wajah merengutnya.


"Nanti aku ceritain semuanya ya, bumilku Sayang. Sekarang kita turun dulu yuk, udah sampai nih," ucap Arkan yang sudah menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit.


Pasangan suami-istri iti itu pun, mulai memasuki rumah sakit, mereka langsung menuju ke tempat dimana Raffa saat ini mendapatkan perawatan.


"Kamu mau langsung pulang setelah melihat keadaannya?" tanya Arkan sambil melangkah.


"Aku di sini dulu tidak apa-apa, kan?" tanya Nayna meminta pendapat dari suaminya.


"Kalau kamu tidak merasa lelah, kamu bisa di sini. Nanti aku jemput lagi," sahut Arkan yang langsung setuju dengan maksud dari istrinya itu.


"Iya." Nayna mengangguk, akhirnya kini mereka sampai di depan pintu icu.


Arkan celingukan mencari keberadaan Bibi yang ternyata tidak ada di sana. Entah ke mana perginya wanita itu.


"Nyari apa Yang?" tanya Nayna yang heran dengan gerak-gerik suaminya itu.


"Aku nyari Bibi, ke mana ya, kok tidak ada," sahutnya.


"Mungkin lagi pergi cari makanan atau ke toilet dulu kali Mas."


"Iya kali ya." Arkan mengangguk paham dengan ucapan Nayna itu.


Tak lama kemudian, orang yang dicarinya pun menampakkan batang hidungnya, mendekati mereka dengan wajah sedikit bingung.


"Bi ini Nayna, dia istriku. Dan Sayang, kenalkan dia Bibi orang yang aku ceritain tadi," ucap Arkan memperkenalkan mereka.


Bibi terkesiap kaget, saat mendengar apa yang bati saja diucapkan oleh Arkan itu. Dia benar-benar belum mengetahui tentang pernikahan salah satu majikannya, karena Arkan yang memang jarang terbuka dengan masalah pribadinya.


"Den Arkan udah nikah?" Bibi menatap tak percaya pada Arkan.


"Iya Bi, aku sebenarnya udah nikah cukup lama, hanya saja baru nikah seadanya," sahut Arkan mengangguk.


"Ya ampun, Bibi sampai tidak tahu toh kalau Den ini udah nikah, tapi Bibi turut senang dengarnya, selamat ya untuk kalian," ucap Bibi yang terlihat cukup bahagia dengan kabar mendadak itu.


"Iya makasih Bi," sahut Arkan tersenyum, begitu pun dengan Nayna yang ikut tersenyum ramah pada Bibi.


"Bibi barusan dari mana dulu?" tanya Arkan.


"Bibi baru dari toilet Den," sahut Bibi tersenyum.


"Oh," sahut Arkan sekenanya.


Arkan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam ternyata sudah semakin siang, itu artinya dia harus segera berangkat ke kantor.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, kan? Kalau aku tinggal di sini?" tanya Arkan menghadap ke arah Nayna, sambil membereskan helaian rambut Nayna yang berada di pipinya.


"Tidak apa-apa Mas, kamu berangkat aja gih, ini udah siang."


"Baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya," pamit Arkan.


"Iya Sayang, kamu hati-hati ya," sahut Nayna mengangguk.


Arkan pun tersenyum, lalu mengalihkan perhatiannya pada Bibi yang dari tadi senyum-senyum sendiri, melihat interaksi antara mereka itu.


Selama bekerja dengan Arkan dan Raffa, baru kali ini dia melihat, Arkan tersenyum dengan tulus dan bahagia. Bukan senyuman, hanya untuk ramah tamah saja.


"Bi tolong jagain Nayna juga ya, kalau ada apa-apa hubungi aku," ucap Arkan.


"Iya Den, Den Arkan tenang saja. Bibi akan menjaga Non Nayna dengan baik," sahut Bibi dengan semangat.


"Aku berangkat ya." Arkan pun mengusap ujung kepala Nayna, sebelum mulai melangkah.


"Iya, semangat kerjanya suamiku," sahut Nayna dengan mengepalkan tangannya, memberi semangat dan tersenyum.


Arkan mengangguk sambil memasang senyumnya, setelah itu dia mulai berbalik dan pergi meninggalkan Nayna dan Bibi.


"Senengnya lihat Den Arkan terlihat bahagia seperti itu," ucap Bibi pada Nayna.


Nayna hanya tersenyum pada Bibi, karena baru saja bertemu, jadi dia masih merasa sedikit canggung pada wanita yang terlihat hampir seumuran dengan mamanya itu.


"Bi, aku boleh lihat ke dalam tidak?" tanya Nayna.


"Boleh Non, masuk aja. Di dalam ada suster yang jagain juga kok," ucap Bibi mengangguk.


"Baiklah, aku masuk dulu ya Bi," ucap Nayna yang hanya dijawab anggukan oleh Bibi.


Nayna memasuki ruangan itu, saat melihat kedamaiannya, suster yang jaga di sana, langsung memberikan baju khusus sebelum menuju ke tempat Raffa.


Setelah siap, dia pun mulai mendekati ranjang pasien milik Raff, jujur dia cukup kaget. Melihat tampilan Raffa yang sekarang, sangat berbeda jauh dengan Raffa yang dia lihat di terakir kalinya mereka bertemu.


Badannya yang sudah lebih kurus, kepala yang botak. Benar-benar berada dengan Raffa yang sebelumnya, melihat kondisinya yang seperti itu, Nayna merasa sedih.


"Raf ini aku," bisik Nayna tepat di telinga Raffa.


"Raf, bangun yuk. Jangan kayak gini, kasihan Om Arkan dia sangat sedih, aku juga sedih, anak kita juga sedih lihat kamu seperti ini!" lirih Nayna.


Setitik buliran air mata, jatuh dari mata Raffa, Nayna yang melihat itu, ikut meneteskan air matanya, tapi dia berusaha tidak bersuara.


"Dia sebentar lagi lahir Raf, bukankah kamu bilang kalau kamu ingin melihatnya, maka bangunlah kalau gitu, agar kamu bisa melihatnya," ucap Nayna lagi.

__ADS_1


Meskipun dia sudah tidak memiliki perasaan, yang beberapa bulan lalu hadir di hatinya, tapi dia benar-benar sedih melihat kondisi laki-laki itu yang seperti itu.


__ADS_2