Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part42


__ADS_3

"Oh halo Om."


"Apa aku terlihat sudah tua, panggil aku Kakak aja, jangan panggil Om," protes Ivan yang tidak suka dengan panggilan Nayna padanya.


"Eh iya maaf Kak," sahut Nayna tersenyum canggung dan mengangguk.


"Kamu tunggu dulu aja di dalam, aku mau siap-siap dulu," ucap Arkan sambil membuka pintu.


"Cepatlah," sahut Ivan, Arkan hanya mengangguk dan berlalu dari sana menuju ke kamarnya.


"Kak Ivan. mau minum apa?" tanya Nayna pada Ivan yang kini sudah mendudukkan dirinya di sofa.


"Air putih aja deh, tenggorokanku rasanya kering," sahut Ivan.


"Baiklah, aku ambilkan dulu ya," ucap Nayna.


Ivan hanya mengangguk dan Nayna pun pergi menuju ke dapur mengambilkan air untuk teman Arkan itu, setelah itu dia pun ikut duduk di sofa yang tidak jauh dari Ivan.


"Kak Ivan suaminya Mbak Fara, aku kira Mbak Fara itu masih singgel, jadi—"


"Kamu pasti berpikir, jika Fara memiliki hubungan dekat dalam artian lain dengan suami kamu itu?" tebak Ivan, tepat sasaran sesuai dengan apa yang Nayna pikirkan sebelumnya.


"Hehe iya, habisnya Mbak Fara terlihat dekat sama Om Arkan." Nayna tersenyum canggung.


"Tunggu, kamu manggil dia Om?" tanya Ivan tak percaya.


"Iya Kak, kenapa gitu?" Nayna hanya mengangguk polos, tak lama kemudian Ivan terkekeh, hingga membuat bumil itu menatapnya dengan heran.


"Kenapa kamu tidak memanggilnya Mas aja, umur kalian tidak terlalu jauh ini, kenapa manggilnya haru Om," ucap Ivan.


"Eummm, aku lebih nyaman manggilnya gitu aja," sahut Nayna.


"Oh maksud kamu, itu panggilan sayang kamu padanya gitu." Ivan manggut-manggut.


"Eh—" Nayna tidak melanjutkan lagi ucapannya yang bermaksud untuk meralat ucapan Ivan itu, tapi dia bingung mau menjelaskan seperti apa, akhirnya mengurungkan niat itu dan membiarkan pria itu dengan pendapatnya.


"Karena aku sama Arkan dekat, jadi Fara pun juga cukup dekatnya dengannya apalagi Arkan adalah—"


"Ayo, sebaiknya kita segera berangkat saja," ucap Arkan yang tiba-tiba saja sudah berada di sana dan memotong ucapan Ivan.


"Baiklah ayo, kamu kalau butuh teman, kamu bisa hubungi Fara untuk menemanimu, kalau dia tidak sibuk, dia pasti akan menemanimu," ucap Ivan mulai berdiri dan menatap Nayna.

__ADS_1


"Baiklah Kak," sahut nayna mengangguk.


"Aku pergi dulu ya, nanti kamu tidak apa-apa, kan? Kalau makan malam sendiri, soalnya aku pulangnya pasti bakal larut malam," ucap Arkan membuat Nayna mengangguk paham.


"Iya, tidak apa-apa, Om hati-hati ya." Nayna tersenyum ramah pada Arkan.


Sementara Ivan yang masih berada di sana hanya diam memperhatikan interaksi kedua orang itu yang tidak seperti pasangan, dia hanya menghela napas panjang, melihat temannya yang kaku seperti itu.


"Ayo, kenapa kamu malah melamun, kita hampir telat," ucap Arkan pada Ivan yang hanya mematung di tempatnya.


"Udah gitu aja pamitnya, tidak ada salam perpisahan, seperti cium kening atau ciu—"


"Udah ayo, bawel," potong Arkan sambil merangkul leher Ivan agar berhenti bicara.


"Aku pergi dulu," pamitnya lagi pada Nayna.


Nayna hanya mengangguk dan tersenyum, melihat Arkan yang berjalan sambil menyeret Ivan agar pergi dari sana, melihat Arkan yang terlihat begitu santai dan Ivan yang sepertinya agak ribut membuatnya merasa terhibur dengan keberadaan pria itu.


"Jadi dia suaminya Mbak Fara, berarti aku sudah salah ya, mengira Mbak Fara dan Mas Arkan dekat," gumamnya sambil bergerak menutup pintu rumah.


Sementara itu di dalam mobil. Kali ini Arkan memutuskan untuk membawa mobil itu menuju ke tempat, mereka akan bertemu dan membahas masalah pekerjaan dengan kliennya.


"Kamu kenapa ngijinin si Lilis buat kerja di kantor sih," ucap Ivan yang mulai bersuara.


"Tapi yang aku lihat dari kacamataku ini, bukan itu maksud kamu yang sebenarnya," timpal Ivan menunjuk kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya.


"Maksud kamu?"


"Kamu saat ini sedang memberikan celah pada Lilis untuk tinggal di hatimu lagi, berencana untuk mengulang rasa yang belum selesai," tutur Ivan yang malah membuat Arkan terkekeh geli.


"Aku serius Ar, apanya yang lucu!" sinis Ivan.


"Kamu belajar kata-kata kayak gitu di mana sih Van, geli aku dengernya," kekeh Arkan dengan mata fokus pada jalan di depannya.


Ivan tidak langsung menyahuti, dia hanya memutar matanya malas dengan sikap temannya itu.


"Aku serius Ar, apa kamu benar-benar hanya berniat menolongnya saja? Kamu bukan mau balikan sama dia, karena dia udah pisah sama suaminya, kan?"


Kini pertanyaan Ivan itu, sudah mulai serius, Arkan tidak langsung menjawabnya, tapi hanya mengangkat bahunya acuh.


"Kamu jangan main api ya Ar, kamu harus pikirkan juga perasaan istri kamu itu. Dia pasti merasa sedih karena melihat kamu perhatian pada wanita lain, apalagi kalau sampai dia tahu, si Lilis adalah orang yang sama dengan orang yang masih belum bisa kamu lupain," ucap Ivan panjang lebar, menatapnya dengan lebih serius lagi.

__ADS_1


"Daripada kita membahas masalah pribadiku, sebaiknya kamu jelaskan poin-poin penting yang akan kita bahas dipertemuan nanti," ucap Arkan tanpa melihat sedikit pun.


"Aku sedang berusaha mengingatkan juga, seharusnya kamu senang. Aku yang selalu kamu jajah ini masih mau berbaik hati mengingatkanmu, agar tidak nyasar dan jadi orang sesat." Omel Ivan.


"Siapa yang jajah kamu?" tanya Arkan dengan kening mengerut tajam.


"Kamulah, siapa lagi!"


"Kapan aku jajah kamu?"


"Kamu tidak sadar, atau pura-pura bod*h, kamu membiarkan aku dan Fara sibuk terus dengan urusan kantor, bahkan aku udah lama tidak merasakan liburan sama istriku, kurang dijajah apa lagi coba!" keluh Ivan.


Arkan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Baiklah, setelah proyek ini beres, aku akan hadiahkan paket bulan madu ke dua untuk kalian," sahut Arkan santai.


"Gimana kita bisa bulan madu, kalau kantor tidak ada yang ngurus, emang kamu pikir kantor itu bisa beroperasi sendiri apa," sindir Ivan.


"Kamu tenang saja, mulai sekarang aku akan fokus pada urusan kantor, aku akan berhenti dari restoran."


Mendengar ucapan itu, wajah Ivan yang semula merengut kembali cerah, dia menatapnya dengan senyuman lebar.


"Serius Ar?" tanya Ivan.


"Iya, aku akan fokus pada urusan perusahaan," sahut Arkan mengangguk dengan yakin.


"Tunggu, tunggu. Kamu kenapa tiba-tiba mau fokus lagi ke perusahaan, ini murni karena kamu mau fokus pada perusahaan atau karena sekarang si Lilis sudah kerja di sana?" Ivan menyipitkan mata, menatapnya dengan curiga.


"Aku mau fokus salah, tidak fokus juga salah. Mau kamu apa sih Van?" cebik Arkan, tidak terima dicurangi oleh temannya itu.


"Ya ini kebetulan yang seperti terencana saja. Kamu tiba-tiba berubah pikiran seperti itu saat si Lilis kerja di kantor," timpal Ivan.


Dia bukannya benci pada Listi, hanya saja dia masih merasa kecewa atas apa yang dia lakukan pada temannya itu di masa lalu.


Ivan masih ingat betul bagaimana hancurnya Arkan, di saat dia benar-benar masih sangat mencintai wanita itu dan wanita itu dengan entengnya memutuskan hubungan mereka dan menjalin hubungan dengan pria lain.


"Ini tidak hubungannya dengan Listi, aku rasa memang sudah waktunya aku untuk fokus menjalankan bisnis itu, tidak perlu terus bersembunyi lagi, karena aku yakin mereka tidak akan mengusikku lagi saat ini," terang Arkan apa adanya.


"Aku yakin, mereka tidak akan mengusikmu maupun Fasya lagi, karena ini sudah cukup lama," sahut Ivan mengangguk setuju dengan ucapan Arkan itu.


"Ya, aku harap begitu," sahut Arkan.

__ADS_1


Setelah itu, pembicaraan di mobil itu pun berganti dari masalah pribadi, menjadi masalah pekerjaan, hingga akhirnya mereka pun telah sampai ke tempat tujuan mereka.


__ADS_2