
Dari pagi, hingga waktu telah beranjak ke siang dan sekarang hampir sore, Nayna masih belum bisa menenangkan pikirannya itu.
Dalam benaknya terus bertanya-tanya, tentang apa hubungan Arkan dan wanita yang tadi pagi menagis di pelukan Arkan itu, rasanya sangat tidak mungkin jika wanita itu hanya sebatas teman dari pria itu saja.
"Kenapa, apa yang aku liat tadi, terus menari-nari di otakku ini," gumam Nayna mengetuk-ngetukkan jari di keningnya.
Dia benar-benar tidak mengerti kenapa dia seperti itu, dia kemudian berpikir, jika Arkan memang memiliki perasaan lebih pada Listi dan Listi menerimanya, itu artinya dia harus segera pergi dari kehidupan Arkan.
"Ya, aku memang harus segera pergi dari kehidupan Om Arkan, jika memang nanti dia benar-benar menjalin hubungan dengan wanita yang dia sukai," gumam Nayna segera mengenyahkan rasa tidak rela di hatinya.
Dia meyakinkan hati dan pikirannya, jika dia memang harus undur diri dari kehidupan Arkan, jika apa yang dia pikirkan itu benar-benar terjadi.
Nayna kembali larut dalam lamunannya itu, hingga sebuah ketukan menyadarkan dia dari lamunannya itu, dia melihat jam yang menempel di dinding, belum waktunya untuk Arkan pulang pekerja, jadi siapa yang bertamu lagi.
Meskipun dengan langkah tanpa semangat, Nayna pun beringsut turun dari sofa dan berjalan ke arah pintu, saat pintu berukuran sedang itu terbuka, menampilkan seorang wanita yang jauh lebih tua darinya, menatapnya sambil tersenyum.
"Mama," ucap Nayna ikut tersenyum, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena melihat wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu berada di depannya.
"Apa kabar Nay?" sapa Winda pada anak semata wayangnya itu.
"Aku baik, ayo masuk dulu Ma, kenapa Mama gak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini," ucap Nayna yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi senangnya itu.
"Mama sengaja datang mendadak ke sini, mumpung Papamu lagi sibuk di pabrik, jadi Mama bisa ke sini tanpa ditanyain macam-macam dulu," sahut Winda.
Nayna menuntun Winda untuk duduk, dia pun mengikuti duduk di sofa dan menghadap pada Mamanya, jujur dia sangat merindukan wanita itu, meskipun mereka sering bertukar kabar melalui telepon, tapi dia tetap merindukan saling bertatap muka seperti itu.
Padahal baru saja tadi pagi dia membahas tentang orang-tuanya dengan Arkan, tapi kini Mamanya datang sendiri untuk menemuinya.
"Aku seneng banget, Mama mau datang ke sini buat nemuin aku, aku sudah ingin bertemu dengan Mama dari lama, tapi tidak berani ke rumah," ucap Nayna masih dengan senyuman bahagianya.
"Iya, justru itu makanya Mama ke sini, Mama juga ingin lihat kabar kamu," sahut Winda. "Suami kamu belum pulang kerja?" tanya Winda sambil memperhatikan rumah itu yang terasa sepi.
"Iya Ma, Om Arkan masih kerja, dia biasanya pulang kalau mau magrib atau habis magrib," sahut Nayna.
"Kamu manggil suami kamu Om?" tanya Winda menatap tak percaya pada Nayna.
__ADS_1
"Iya, Ma. Kenapa gitu?" Nayna menganggukkan kepala.
"Kamu itu gimana sih, masa sama suami sendiri panggilannya gitu, nanti kalau kamu manggil suami kamu di depan umum, pasti dikira kamu itu keponakannya, bukan istrinya," omel Winda membuat Nayna bingung.
"Terus aku harus manggil dia apa dong Ma?" tanya Nayna dengan polosnya.
"Ya apa ke, mau Mas, Abang, Kakak. Apa aja, yang penting sopan, sama jangan manggil Om lagi, nanti orang bakal ngira kalian itu ponakan sama Om-nya," terang Winda.
"Ya, meskipun Arkan tidak terlihat beda jauh umurnya denganmu, tapi tetap saja, bisa-bisa nanti kamu juga dikira sugar babynya lagi, apalagi dengan posisi kamu yang hamil seperti itu."
"Kayaknya Mama terlalu berlebihan, deh. Masa karena sebuah panggilan aja, sampai seperti itu, kayaknya gak mungkin deh Ma, lagian aku juga udah nyaman kok manggil Om Arkan dengan sebutan Om," sahut Nayna.
"Dikasih tau gak percaya, ya udah terserah kamu aja, tapi kan lebih baik kalau kamu mulai membiasakan panggilanmu itu, lagian kan sebentar lagi anak kalian akan lahir, masa kamu mau manggil suami kamu dengan panggilan seperti itu terus."
Nayna hanya bisa manggut-manggut, mendengar ucapan dari mamanya itu, tanpa tahu harus menjawabnya sepertinya apa.
"Oh iya ini makanan kesukaan kamu, nanti kamu makanlah ini, saat makan malam, mama juga sengaja membuatnya lebih banyak, agar suami kamu bisa makan juga" sambung Winda lagi yang baru ingat dengan barang bawaannya itu.
Wanita yang hampir setengah baya itu pun menyerahkan sebuah rantang plastik yang cukup besar pada Nayna.
"Makasih Ma, nanti aku akan memakannya bareng suami aku," sahut Nayna yang tiba-tiba merasa, seperti ada sesuatu yang menggelitik hatinya.
"Baiklah kalau gitu, Mama gak bisa lama-lama lagi, takut keburu Papa kamu pulang dari pabrik."
"Mama mau pulang sekarang? Padahal Mama, kan belum lama di sini," ucap Nayna yang tidak rela jika mamanya itu cepat-cepat pulang.
"Kamu tenang aja, nanti Mama akan sering-sering berkunjung ke sini, saat Papa kamu tidak di rumah," sahut Winda berusaha menenangkan anaknya.
"Ya udah deh kalau gitu," ucap Nayna pasrah.
Winda dan Nayna pun berdiri, tapi sebelum Winda melangkahkan kakinya, dia memeluk Nayna terlebih dahulu, sama seperti sebelumnya, dikala mereka akan berpisah ke mana pun.
"Kamu jaga diri dan kandungmu baik-baik ya, jaga juga suami kamu, jangan membantah apa yang suami kamu katakan selama itu hal yang benar, layani suami dengan baik, agar dia lebih menyayangimu," tutur Winda sambil mengusap belakang kepala dan punggung Nayna dengan lembut.
"Iya Ma, makasih ya Mama udah maafin Nayna atas kesalahan yang udah Nayna lakukan itu," sahut Nayna dengan mata yang sudah berkaca-kaca, rasa bersalah masih menyelimuti hatinya itu.
__ADS_1
"Iya sama-sama, mungkin itu semua bukan sepenuhnya kesalahan kamu, tapi kesalahan Mama juga yang belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu, hingga kamu melangkah di jalan yang salah," ucap Winda dengan nada sedih.
Nayna melepaskan pelukannya, dia menatap mamanya dan menggelengkan kepala, menyanggah ucapan mamanya itu, semua itu bukanlah kesalahan orang-tuanya, tapi kesalahannya sendiri yang tidak dapat menahan nafsu sebelumnya.
"Mama tidak salah, Mama dan Papa sudah jadi orang-tua yang sangat baik, hanya saja Nayna yang tidak bisa menjadi anak yang baik," ucap Nayna penuh penyesalan.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi, yang penting sekarang kamu berbenah diri, hingga jadi orang yang lebih baik lagi, jadikan masa lalu itu sebagai pembelajaran untuk ke depannya."
Ya, begitulah yang namanya orang-tua, sebesar apa pun kesalahan anak-anaknya, orang-tua selalu menjadi orang yang pemaaf bagi kesalahan yang dilakukan oleh anak-anaknya, bahkan terkadang orang-tua selalu mengalahkan dirinya sendiri, jika anaknya yang berbuat salah.
Mereka selalu merasa belum jadi orang-tua yang baik untuk anaknya, hingga anak mereka melakukan kesalahan, meskipun anaknya melakukan kesalahan atas keinginannya sendiri.
"Iya Ma," sahut Nayna menganggukkan kepala.
Di tengah-tengah obrolan mereka itu, tiba-tiba saja Arkan membuka pintu rumahnya, dia pun tersenyum ramah pada Winda, saat menyadari keberadaan wanita yang menjadi mertuanya itu.
"Ma, sudah lama di sini?" sapa Arkan sambil menyalmi Winda.
"Sudah lumayan lama, makanya sekarang Mama mau pulang lagi," sahut Winda yang juga tersnyum ramah pada Arkan.
"Lho kok cepat banget pulangnya, Ma."
"Iya, takut Papa keburu pulang dan nyariin karena tadi Mama gak bilang dulu kalau mau ke sini."
"Oh gitu," sahut Arkan menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, kalau gitu Mama pulang dulu ya, titip Nayna ya Nak," pamit Winda menatap Arkan dan Nayna secara bergantian.
"Iya, Ma. Mama juga hati-hati ya di jalannya," ucap Arkan.
"Iya, kalian juga baik-baik ya," sahut Winda.
"Iya Ma, Mama harus sering-sering main ke sini lagi ya," ucap Nayna yang dijawab anggukan oleh Winda.
...----------------...
__ADS_1
Sedih aku tuh🥲 karena gak ada yang komentar, padahal komentar dari kalian selalu aku tungguin di tiap part-nya🥲
Ayo dong semuanya semangat kasih komentarnya, gasken, jangan kasih kendor biar akunya semangat juga lanjutin ceritanya 💪💪