
Motor matic Arkan berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah yang cukup tinggi, dia pun turun dari motornya dan berdiri tepat di depan gerbang itu.
Sehabis menemani Raffa, pria itu memang memutuskan untuk Nayna menyusul ke rumah mertuanya, dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada mertuanya, karena tidak menyusul ke sana.
Meskipun hubungan dia dan Nayna tidak seperti suami-istri yang normal pada umumnya, tapi dia tetap tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada kedua orang-tua wanita itu.
Bukankah tidak ada salahnya, dia bersikap layaknya suami dari anak mereka, pada kedua orang-tua itu, meninggalkan kesan baik, bukan untuk sekedar mencari simpati atau pujian, tapi demi menjalin silaturahmi yang baik.
"Malam Pak," sapa Arkan dengan ramah pada sopir di rumah itu yang mulai membuka gerbang.
"Malam Mas, saya pikir siapa barusan, silakan masuk Mas," sahut sopir itu, tak kalah ramah pada Arkan.
"Makasih Pak." Arkan mengangguk dan kembali menaiki motornya, bermaksud untuk memasukkan motornya itu ke dalam gerbang.
"Mari Pak," ucap Arkan saat memasuo gerbang dan melewati sopir.
Sopir keluarga Nayna itu hanya mengangguk dan kembali menutup gerbang, sedangkan Arkan menghentikan motornya tepat di samping mobil ferdi, setelah itu dia pun turun dari kendaraan beroda dua miliknya itu.
"Langsung masuk aja Mas," ucap sopir itu yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Iya Pak."
Pria pemilik tahi lalat di bawah alis kiri itu pun, berjalan menaiki teras rumah dan mulai mengetuk pintu rumah, tidak membutuhkan waktu lama pintu pun terbuka dan munculah Art di sana yang menatapnya dengan bingung.
"Ini Mas Arkan, Mbak. Suaminya Non Nayna," terang Sopir yang mengerti kebingungan Art yang bernama Sari itu.
Sari memang belum pernah bertemu dengannya sama sekali, berbeda dengan Ridwan –Sopir keluarga itu yang sudah bertemu saat mengantarkan Winda ke rumahnya.
"Oh maaf Mas, saya kira siapa barusan, silakan masuk Mas," sahut Sari kemudian membukakan pintu untuk Arkan.
"Iya makasih Mbak." Arkan pun memasuki rumah itu, mengikuti Sari yang membawanya ke ruang keluarga.
"Tuan, Nyonya, ini ada suami Non Nayna," ucap Sari membuat Winda dan Ferdi yang sedang berbincang mengalihkan perhatian ke arahnya.
__ADS_1
"Arkan, Mama kira kamu tidak akan datang, ayo duduklah," ucap Winda tersenyum pada Arkan.
"Tadi Arkan ada urusan dulu, jadi tidak mengantarkan Nayna ke sini," terang Arkan dengan ramah dan mulai mendudukkan dirinya di salah sati sofa kosong yang ada di sana.
"Iya tidak apa-apa, kamu mau makan malam dulu, biar Mbak siapin makanannya," tawar Winda.
"Tidak perlu Ma, tadi Arkan sudah makan, oh iya Pa, gimana kabarnya sekarang?" tanya Arkan beralih menatap Ferdi yang dari tadi hanya diam.
"Sudah baik," sahut Ferdi yang hanya melihatnya singkat.
"Papa sudah baik-baik saja, tidak perlu khawatir, kamu mau langsung istirahat saja, ayo biar Mama anter ke kamar Nayna, tadi dia langsung pergi ke kamarnya setelah makan." Winda segera mengalihkan pembicaraan karena melihat suaminya masih bersikap kurang ramah pasa Arkan.
Ferdi memang masih memiliki rasa tak suka pada Arkan yang dia anggap akan lari dari tanggung jawab, entah apa yang akan terjadi jika nanti dia tahu, bahwa pria itu sama sekali tidak salah apa pun.
"Baiklah Ma, kalau gitu Arkan permisi dulu Pa," pamit Arkan kemudian berdiri dan membukukan sedikit tubuhnya pada Ferdi.
Ferdi masih tidak berniat untuk menyahutinya, bahkan melihat ke arahnya pun tidak, melihat hal itu Winda merasa tidak enak dengan Arkan, akhirnya memintanya untuk segera mengikutinya.
Mereka pun kini telah sampai di depan pintu kamar Nayna, Winda segera mengetuk pintu kamar putrinya itu.
"Belum Ma!" terdengar sahut dari dalam kamar itu.
Pintu kamar itu pun terbuka, menampilkan Nayna yang bengong di depan pintunya karena kaget, melihat keberadaan suaminya di sana.
Apalagi saat dia menyadari, jika saat ini, dia hanya memakai piyama tidur berbahan tali, secara otomatis setengah dada dan bagian pundaknya terekspos bebas, bumil itu pun segera berusaha menghalangi dadanya dengan tangan.
"O–om, ngapain di sini?" tanya Nayna dengan keterkejutannya.
"Kamu itu, suami kamu nyusulin kamulah, memangnya mau apa lagi," timpal Winda, menatap Nayna dengan tegas.
"Eh, maksud aku kenapa Om, gak ngabarin kalau mau ke sini," ralat Nayna.
"Tadi tidak sempat buat ngabarin," sahut Arkan memfokuskan tatapannya pada wajah Nayna.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu kamu ajak suami kamu masuk, untuk beristirahat dia pasti capek," ucap Winda pada Nayna.
"Iya Ma," sahut Nayna menatap mamanya dan mengangguk.
"Oh iya mama lupa ngasih tau kamu, kalau AC di kamar kamu itu rusak," ucap Winda.
"Pantesan panas banget," sahut Nayna yang memang kepanasan dari tadi, jadi dia memutuskan untuk memakai piyama tanpa lengan seperti itu.
"Iya Mama lupa, kalian tidak apa-apa kan, kalau malam ini tidurnya tanpa AC?" tanya Winda menatap Arkan dan Nayna bergantian.
"Tidak apa-apa kok Ma," sahut Arkan, sedangkan Nayna hanya mengangguk pasrah.
"Baiklah kalau gitu, mama mau ke bawah lagi, mau nemanin Papa, kamu segeralah istirahat, kalau perlu apa-apa bilang aja sama Nayna," tutur Winda pada Arkan.
"Iya Ma, terima kasih," ucap Arkan.
Winda hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah itu pergi dari sana meninggalkan Arkan dan Nayna yang masih terjebak dengan kecanggungan.
"Maaf aku tiba-tiba datang ke sini, aku hanya merasa tidak nyaman saja pada orang-tuamu, jika aku tidak menyusulmu ke sini," ucap Arkan sengaja melihat ke arah lain.
"Iya tidak apa-apa Om, ayo masuk Om," ucap Nayna mempersilakan Arkan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Arkan masuk, dia pun kembali menutup pintu dan berjalan ke arah lemari, mencari kardigan untuk melapisi piyama tidurnya itu.
"Duduk dulu Om," ucap Nayna pada Arkan yang hanya berdiri di samping ranjangnya.
"Iya," sahut Arkan dan mulai duduk di pinggir ranjang.
"Om udah makan malam belum? Kalau mau makan biar aku siapin makanannya," tawar Nayna berusaha menghilangkan kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
Meskipun ini bukan yang pertama kalinya, mereka berdua seperti itu karena di rumahnya pun mereka selalu berdua, tapi entah kenapa kali ini, baik Nayna maupun Arkan, sama-sama merasakan kecanggungan.
Mungkin karena situasi yang terjadi, hingga tercipta kecanggungan bagi kedua orang itu, berada di sebuah kamar berdua untuk pertama kalinya, karena biasanya mereka hanya sering berdua saat di meja makan atau di ruang tengah rumah Arkan saja.
__ADS_1
"Sudah, tadi saat menuju ke sini aku makan dulu," sahut Arkan yang hanya menatap sekilas ke arahnya.
"Syukurlah kalau gitu," sahut Nayna mengangguk.