
Raffa saat ini sedang dalam perjalanan pulang, hari kini sudah larut, seharian ini dia memang menghabiskan waktu di rumah omnya.
Bermain bersama Rezvan, juga berbincang bersama Arkan, saking asyiknya bercengkrama dengan omnya, dia sampai tidak menyadari jika waktu sudah larut.
Selama tiga tahun terakhir, hari ini memang menjadi waktu terlama dia dan omnya berbicara banyak hal, setelah pernikahan kedua kalinya Arkan dan Nayna, dia memang sedikit menjaga jarak dati pasangan itu.
Meskipun dia sudah mulai bisa menghilangkan rasa yang dia miliki untuk Nayna, tapi tidak dapat dipungkiri, jika dia masih merasa kecanggungan yang selalu dia tutupi.
Ckiiitttt ....
Raffa mengerem mobilnya secara mendadak saat tiba-tiba saja ada seorang wanita yang melintas di depannya begitu saja.
"Itu orang apa hantu ya," gumamnya sambil bergidik ngeri, mengingat saat ini sudah hampir tengah malam.
Jalanan di sana pun sepi, dia menatap orang yang melintas di depannya itu dengan seksama, seorang wanita yang tengah menundukkan kepala, dengan wajah yang terhalang oleh rambut panjangnya.
"Itu bukan mbak kun, kan?" gumamnya lagi masih berusaha memperjelas penglihatannya.
Dia yakin, di depannya itu adalah seorang wanita memakai dress dengan lengan sesikut berwarna kuning samar.
"Masa mbak kun, bawa tas punggung segala, tidak mungkin mbak kun yang mau mudik, kan?" Raffa menggelengkan kepala, menyanggah pikiran konyolnya itu.
Wanita yang hampir ditabraknya itu, secara perlahan mulai mengangkat kepalanya, melihat ke arahnya, dengan sorotan dari lampu mobilnya, Raffa dapat melihat wajah wanita itu.
"Kayak kenal," gumamnya lagi, menyipitkan mata mempertajam penglihatannya.
Wanita yang hampir ditabraknya, itu mulai bergerak kembali, berjalan dengan kepala yang sudah kembali menunduk.
"Ngapin perempuan keluar malam-malam gini, tidak takut ada bahaya apa?" Raffa mulai menjalankan kembali mobilnya, bermaksud mengabaikan wanita itu.
Tapi baru saja dua meter jarak mobilnya, dari wanita itu, dia kembali menghentikan mobilnya, saat berpikir tentang keselamatan wanita itu berjalan sendiri di tengah malam seperti itu, di tambah dia teringat siapa wanita itu.
Karena merasa mengenal wanita itu, dia pun memundurkan kembali mobilnya, mengikuti wanita yang kini masih berjalan sambil menunduk.
Raffa membuka kaca mobilnya itu, dia masih menjalankan mobilnya dengan sangat pelan, mengikuti langkah wanita yang tidak terganggu dengan kehadirannya.
"Kamu temannya Nayna ya, kamu dari sekolah SMA ... 'kan?" tanya Raffa.
Mendengar ucapannya, wanita pun mengangkat wajahnya, melihat Raffa sekilas, lalu menatap jalan di depannya, tanpa memedulikan Raffa.
"Mau ke mana? Ayo aku anter, ini sudah malam, tidak baik perempuan jalan sendiri malam-malam gini," tawar Raffa.
"Tidak, terima kasih," tolak wanita itu.
"Kamu benar-benar temannya Nayna, kan?" tanyanya lagi memastikan lagi.
"Aku tidak kenal sama orang yang kamu sebutkan itu," sahut Wanita yang tidak lain adalah Mika, tanpa melihat ke arahnya lagi.
__ADS_1
"Tapi dulu aku ingat betul kamu sering bersama Nayna saat sekolah," ucap Raffa lagi yang sudah yakin dengan ingatannya itu.
Mika tidak berniat menyahutinya, dia hanya fokus, menatap ke depannya, memasang wajah datarnya, sedangkan Raffa masih tidak menyerah dengan mengikuti Mika.
"Kamu mau ke mana?" tanya Raffa lagi, melihat tas punggung yang cukup besar yang berada di punggung Mika itu.
"Mau pergi," sahut Mika masih tidak mau melihatnya.
"Nih orang kenapa sih, sensi banget kayaknya sama aku, apa aku punya salah ya padanya?" tanya Raffa dengan nada pelan pada dirinya sendiri.
Dia merasa heran dengan wanita yang kini tengah mengabaikannya itu, wanita yang dia yakini adalah teman Nayna saat sekolah itu, seolah membencinya, tapi kenapa wanita itu bisa membencinya, dia merasa tidak pernah bersinggungan dengannya.
"Kamu ngapain ngikutin aku, apa kita saling kenal?" sindir Mika menghentikan langkahnya, menatap Raffa dengan kesal.
"Kamu mungkin tidak kenal aku, tapi aku kenal kamu, meskipun tidak tau nama kamu, tapi aku yakin kalau adalah temannya Nayna," terang Raffa dengan yakin.
"Memangnya kenapa kalau aku temannya, itu juga sudah lama, sekarang kita tidak dekat," sahut Mika memutar matanya malas.
"Ayo biar aku anterin, tidak baik perempuan jalan sendiri malam-malam begini," tawar Raffa lagi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," sahut Mika masih berusaha menolak tawaran pria itu.
"Tapi ini sudah malam, aku kasih tau ya, bulan kemarin di jalan ini ditemukan jasad perempuan tanpa pakaian," ucap Raffa yang bermaksud menakut-nakuti Mika.
Mendengar hal itu Mika langsung menghentikan langkahnya, dia menatap ke sekelilingnya yang memang sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang di sana.
"Kamu cuma nakut-nakuti aku aja 'kan?" Mika menatapnya tajam.
Dia kemudian mulai menjalankan mobilnya, dengan secara perlahan, sementara Mika melirik ke kanan, ke kiri, juga kebelakang, suasana di sana cukup menyeramkan sekarang.
Padahal tadi dia merasa baik-baik saja, mungkin karena sebelumnya pikirannya lagi kacau, jadi tidak kepikiran tempat apa yang dia lewati.
"Serem juga ya, gimana kalau ada orang jahat, aku masih ingin hidup, meskipun aku benci dengan kehidupanku," gumamnya sambil bergidik ngeri.
"Tunggu!" teriak Mika melambaikan tangannya, sambil berlari mengejar mobil Raffa yang masih terlihat itu.
Raffa yang melihat lambaian tangan Mika, juga melihat wanita itu berlari ke arah mobilnya pun, tersenyum dan mulai menghentikan kendaraan beroda empat itu.
Tak lama kemudian, Mika sudah sampai di samping mobilnya, napasnya terengah-engah, karena berlari.
"Antarkan aku ke tempat yang ramai aja," ucap Mika, sambil bergerak memasuki mobil Raffa.
Mika melepaskan tas yang semula digendongnya itu, lalu disimpan di pangkuannya.
Raffa tidak bertanya lagi, dia mulai menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan tempat itu, sedangkan Mika di sampingnya masih berusah mengatur napasnya.
"Kenapa kamu keluyuran malam-malam begini?" tanya Raffa lagi, setelah melihat Mika yang sudah cukup tenang.
__ADS_1
"Aku mau cari kos-an," sahut Mika membuat Raffa melihatnya dengan bingung.
"Malam-malam gini, apa tidak bisa besok aja."
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Masalah pribadi."
"Oh." Raffa hanya mengangguk, mendengar sahutan singkat dari wanita itu.
Mika menatap lurus ke depannya, sedangkan Raffa beberapa kali mencuri pandang padanya.
"Kamu benar-benar temannya Nayna kan?" tanya Raffa memastikan lagi.
"Iya," sahut Mika dengan malas.
Mendengar nada malas dari lawan bicaranya itu, Raffa pun memilih mengunci mulutnya, dia memilih fokus pada jalanan di depannya.
Namun, berdua dalam keheningan seperti itu, membuat Raffa merasa sedikit tidak nyaman, akhirnya dia pun kembali membuka suaranya.
"Jadi kita mau ke mana nih?" tanya Raffa, berusaha menacairkan kecanggungan.
" Tidak tau," sahut Mika yang memang tidak tahu tujuannya.
"Lho, kok tidak tau?" kerutan di kening pria itu menajam, mendengar sahutan dari Mika.
"Kamu tidak kabur dari rumah bukan?" sambung Raffa menatapnya dengan intens.
"Aku memang kabur dari rumah," sahut Mika diiringi hembusan napas kasar, dari hidungnya.
"Ada masalah keluarga?" tanya Raffa.
Mika hanya mengangguk sebagai jawaban, dia kemudian melihat ke jendela samping, sementara Raffa berpikir, harus membawanya ke mana.
Karena tidak mungkin, dia meninggalkan wanita itu begitu saja, mengingat kondisi saat ini sudah malam. Tidak mudah juga mendapatkan penginapan, di tengah malam begini.
"Kamu—"
Krucuk ... krucuk.
Mika memeluk tasnya itu dengan erat, dia merasa malu karena suara perutnya yang tidak tahu situasi itu.
Sementara Raffa yang semula akan berbicara, mengurungkan niatnya itu, dia hanya tersenyum tipis, mendengar suara demo yang berasal dari perut wanita di sampingnya itu.
...----------------...
__ADS_1
Ada yang ingat sama Mika, dia temannya Nayna yang sempat ketemu sama Nayna di Part 36.
Maaf ya, kemarin aku gak up, lagi ada urusan di dunia nyata, jadi gak sempet up🙏